Artikel

Batik pewarna alam kulit jengkol, kisah Sulastri jaga alam dan manusia

Oleh Ruth Intan Sozometa Kanafi

Batik pewarna alam kulit jengkol, kisah Sulastri jaga alam dan manusia

Sulastri Oktavia salah seorang pembatik pewarna alami di Bandarlampung, Jumat 28/02/2020. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi/am.

Bandarlampung (ANTARA) - Keberagaman suku Bangsa di Indonesia telah menghasilkan beragam produk tekstil dengan keindahan yang memukau.

Batik salah satu tekstil tersohor yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi pada sidang UNESCO sebelas tahun lalu, menurut laman en.unesco.org, kini telah banyak dikembangkan di seluruh daerah.

Tidak terkecuali Lampung yang memiliki total 168.384 UMKM yang diantaranya 81 orang menekuni bidang fesyen pada tahun 2019, demikian data Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Lampung.

Beragam motif yang melukiskan keunikan dan ciri khas setiap daerah, setiap hari dikembangkan menjadi motif-motif yang penuh falsafah hidup. Tidak hanya pengembangan motif, batik pun mengalami perkembangan dalam teknik pewarnaan. Warna-warna berani kini kian diminati konsumen, membuat pembatik selalu memutar otak guna menggaet pasar potensial batik.

Penggunaan pewarna sintetis dipilih sebagai alternatif tercepat guna menghasilkan warna yang lebih cerah dan tegas dalam waktu singkat, dari pada pewarna alami yang memakan waktu lama dengan warna yang monoton layaknya batik pada tempo dulu.

Akan tetapi tidak semua pembatik meninggalkan pewarna alami dan beralih pada pewarna sintetis yang praktis, seorang pembatik Lampung dengan berani tetap mempertahankan penggunaan pewarna alami pada batik buatannya di tengah ramainya peminat batik dengan warna cerah khas pewarna sintetis.

Sulastri Oktavia, seorang pembatik dan seorang pekerja keras yang lahir 36 tahun lalu mencoba mempertahankan kelestarian alam serta proses produksi batik khas tempo dulu dengan menggunakan pewarna alami yang berasal dari berbagai dedaunan, kulit buah, kulit pohon, serta kulit jengkol sebagai salah satu pewarna utama batik miliknya.

Baca juga: Dekranasda kenalkan batik Sembagi sebagai batik khas Lampung

Tidak hanya itu wanita berperawakan mungil ini pun tetap menggunakan tungku kayu sebagai sarana untuk merebus kain beserta beragam bahan pewarna alami yang memakan waktu hingga lima jam hanya untuk menghasilkan satu kain dengan pewarna alami.

Wanita yang memang gemar mencanting ini, melewati perjalanan panjang dalam membangun usaha batik tulis pewarna alami dengan merk dagang Assyafa Batik. Lika-liku kehidupan serta keterbatasan perekonomian sempat membuat ibu dari tiga orang putra ini mengandaskan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas, hingga sempat membuatnya berpikir untuk meninggalkan rumah secara diam-diam.

Banyak lowongan pekerjaan ia dapatkan dan tidak ada satupun yang memperoleh restu dari orang tua, hingga akhirnya ia memilih menjadi asisten rumah tangga dan penjaga toko guna membantu perekonomian keluarga, namun tiga bulan kemudian masalah kesehatan mengharuskan Sulastri berhenti menjalani kehidupan sebagai asisten rumah tangga, dan takdir berkata lain.

Wanita penyuka warna biru ini mendapatkan kesempatan besar yang nantinya akan menjadi salah satu gerbang bagi dirinya dalam mengembangkan wirausaha miliknya di kemudian hari, sebuah lowongan pekerjaan menjadi seorang tenaga pendidik di sebuah PAUD menghampirinya bersamaan dengan datangnya belahan hidupnya. Tepat pada tahun 2006 ia menikah dan dikaruniai seorang putra, sehingga dirinya kembali harus meninggalkan pekerjaannya sebagai tenaga pengajar di PAUD.

Kain batik pewarna alami milik Sulastri, Bandarlampung, Jumat (28/02/2020). ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi/am.

Pengalaman satu tahun menjadi tenaga pengajar di sebuah PAUD membawa wanita yang lahir di Teluk Betung ini mendapatkan tawaran sebagai kader PAUD Posyandu, melalui jalan ini kehidupan Sulastri mulai berubah setelah bertemu dan ikut serta dalam sebuah lembaga Keterampilan dan Pendidikan (LKP) batik tulis yang diadakan oleh salah satu pelopor batik tulis motif Lampung “ LKP Batik Siger” yang aktif membagikan ilmu membatik kepada masyarakat sekitar, serta penyandang disabilitas, dit engah perjalanannya saat melaksanakan tugas sebagai kader PAUD Posyandu.

Keberanian untuk mengembangkan diri dan hobi telah membangun rasa ingin tahu wanita yang dikenal sebagai sosok pemalu oleh warga sekitar, untuk ikut serta dalam lembaga pelatihan batik tulis tersebut, bagaikan suratan takdir Sulastri dengan beragam permasalahan yang sempat menghalangi mampu dengan cepat belajar proses membatik, hingga suatu saat dirinya telah dinilai mapan dan mampu menjadi pembatik secara mandiri oleh pemilik serta pelatih batik tulis Lampung Laila Al Khusna.

Baca juga: Lampung Timur tonjolkan batik lada dan gajah

“Saya masih ingat bu Una mendorong saya untuk menjadi pembatik mandiri sebab telah mahir, dengan satu syarat yaitu memiliki ciri khas dan mampu membantu lingkungan sekitar, dan itu yang membuat saya memanfaatkan kulit jengkol dan membuat motif khas gunung Krakatau,” ujar Sulastri.

Motivasi tersebut menjadi salah satu kekuatan bagi Sulastri untuk menjadi pelaku UMKM batik secara mandiri, rasa bangga dan cemas bercampur aduk di benaknya, beragam permasalahan mulai silih berganti datang salah satunya keterbatasan dana untuk melakukan produksi batik.

“Saya sempat tidak memiliki biaya untuk membeli kain, sebab keterbatasan keuangan karena suami juga hanya sebagai buruh bangunan, jadi saya harus mencicil satu persatu untuk membeli kain bahan dasar batik, namun saya tetap optimis agar dapat mengembangkan usaha ini demi membantu warga sekitar,” ujarnya.

Ia mengatakan meskipun sulit dalam menjalankan usaha miliknya ia tetap berkomitmen menaikkan harkat hidup warga sekitar yang rata-rata mencari nafkah sebagai asisten rumah tangga, serta buruh melalui usaha batik tulis pewarna alami miliknya. “Saat ini saya baru mempekerjakan tiga orang tetangga, sebab saat ini usaha belum terlalu besar, namun besar harapan di kemudian hari dapat menyerap banyak tenaga kerja dari warga sekitar, karena saya pernah merasakan hidup susah,” katanya.

Guna memperluas jaringan usaha Sulastri aktif dalam memasarkan produk batik tulis pewarna alami miliknya melalui sosial media, serta beragam bazar dan lomba batik, satu lembar kain batik tulis pewarna alami ia jual dengan harga Rp500.000 hingga Rp800.000 per lembar sesuai dengan tingkat kerumitan motif.

Keunikan batik tulis buatan Sulastri tidak hanya terletak pada bahan pewarna alam, namun terdapat motif khas yang dapat ditemukan di setiap batik buatannya. Motif Gunung Krakatau yang juga salah satu bentuk implementasi falsafah hidup dan doa Sulastri selalu menghiasi bagian bawah atau tengah kain.

Menurut dia motif Gunung Krakatau ia pilih sebab salah satu gunung api aktif di Selat Sunda ini mampu menggemparkan dan menjadi sorotan dunia atas kedahsyatannya, dan ia berharap batik tulis miliknya mampu menggemparkan dan menjadi sorotan dunia di masa depan.

“Gunung Krakatau awalnya hanyalah gunung biasa dari ribuan gunung di dunia, namun karena letusannya yang dahsyat mampu menjadi sorotan dunia, sehingga hal tersebut memotivasi saya untuk menjadikan batik tulis pewarna alam ini menjadi sorotan dunia di kemudian hari dan mampu menyejahterakan semua orang layaknya abu Gunung Krakatau yang dapat menyuburkan tanaman di sekitarnya”, ujar Sulastri.

Baca juga: UMKM Lampung kembangkan batik eco print ramah lingkungan

Oleh Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar