Perjuangan Shahnaz Haque hadapi kanker ovarium

Perjuangan Shahnaz Haque hadapi kanker ovarium

Selebritas Shahnaz Haque (Instagram.com/shahnaz.haque)

Jakarta (ANTARA) - Selebritas Shahnaz Haque masih ingat saat dirinya terdiagnosis kanker ovarium sebelah kanan pada 22 tahun silam. Saat itu, dia sempat mengalami stres hingga nafsu makannya perlahan hilang.

Satu hal yang Shahnaz pikirkan kala itu, risiko dijemput ajal di usia 26 tahun.

"Kadang-kadang stres memikirkan (kanker) itu, nafsu makan hilang. Seakan mati sebelum mati, jadi antisosial," kata dia di sela talkshow mengenai kanker di kawasan Tangerang, Banten, Sabtu.

Tumor di ovarium yang ia derita padat dan ganas sehingga penanganannya harus melalui operasi. Seringkali dia mengalami susah buang air besar, perut kembung hingga kesemutan di bagian kaki kanan.

Setahun setelah diagnosis, istri musisi Gilang Ramadhan itu baru memberanikan mengangkat ovariumnya karena sudah mengganggu fungsi organ tubuh lainnya.

Dia juga harus menjalani kemoterapi, yang merupakan prosedur lanjutan setelah bedah. Efek yang dia rasakan usai kemo, muntah.

"Kemo muntah. Enggak ada intake lagi. Makin lama makin kurus. Waktu saya sakit timbangan sempat 47-48 kilogram. Kalau sekarang 65 kilogram, disyukuri," tutur Shahnaz.

Dia menyadari, sulit sekali untuk makan saat itu. Selain karena tidak ada nafsu terkadang mulut pasti penuh sariawan.

Padahal, asupan makanan bergizi seimbang menjadi satu penting untuk pasien kanker untuk membantunya beraktivitas, meningkatkan sistem imun hingga mengefektifkan kerja obat.

Namun di sisi lain, makan bisa menjadi pekerjaan berat bagi pasien karena nafsu makan yang hilang dan adanya sensasi cepat merasa kenyang.

"Daya tahan tubuh harus bagus. Kalau nutrisi enggak bagus, enggak bisa ada tindakan selanjutnya," tutur dia.

Kepada para pasien kanker di berbagai penjuru tanah air, Shahnaz menyarankan untuk tidak takut melawan penyakitnya itu. Menurut dia, ajal menjemput adalah hal pasti. Tetapi yang penting, bagaimana menutup usia dengan senyum dan berprasangka baik.

"Hari ini saya mengajak para pejuang kanker, dapat hidup dengan tenang dan bebas dari tekanan batin. Pemicu salah satunya adalah hormon yang tak seimbang, yang dihasilkan dari pikiran tidak tenang," kata dia.

"Jadi lepaskan saja, permasalahan sepele yang terjadi di antara sesama. Pesan untuk para care giver, dukung para pejuang kanker berupa emosional, instrumental, penghargaan serta informasi," sambung Shahnaz.
 

Baca juga: Pasien kanker boleh makan daging merah

Baca juga: Tips agar pasien kanker mau makan

Baca juga: Kanker tiroid sering terjadi pada wanita karena bekerja lebih berat

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar