BPBD Gunung Kidul akan pasang EWS pendeteksi gempa di Panggang

BPBD Gunung Kidul akan pasang EWS pendeteksi gempa di Panggang

Ilustrasi - Seorang warga merakit alat sirene gempa bumi dan tsunami (EWS) yang sangat berguna bagi masyarakat pesisir untuk mendeteksi gempa bumi ataupun tsunami. ANTARA/Ardika/am.

Alat ini semua saling terkoneksi dan datanya langsung terekam oleh BMKG
Gunung Kidul (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan memasang alat peringatan dini pendeteksi gempa di beberapa titik untuk mengetahui titik dan kekuatan dari aktivitas kegempaan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunung Kidul Edy Basuki di Gunung Kidul, Senin, mengatakan alat yang terpasang merupakan bantuan dari BMKG serta bantuan dari Jepang melalui BNPB.

"Rencananya lokasi pemasangan beberapa titik di kawasan sekitaran Polsek Panggang," kata Edy.

Ia mengatakan BPBD Gunung Kidul memasang alat pendeteksi gempa di beberapa titik. Selain terpasang di area kantor BPBD, juga dipasang di lokasi lain seperti di kawasan Hutan Wanagama, wilayah di Kecamatan Gedangsari dan di Balai Desa Sidoharjo, Tepus.

Baca juga: Pemkab Banyumas sambut baik rencana pemasangan alat deteksi gempa

Ia mencontohkan, alat yang terpasang di Kantor BPBD terdiri dari dua komponen. Satu unit dipasang di halaman BPBD yang tersambung dengan satu unit alat yang terdiri dari perangkat elektronik lengkap dengan monitor kecil terpasang di ruangan kerja kepala pelaksana BPBD.

“Alat ini semua saling terkoneksi dan datanya langsung terekam oleh BMKG, tapi kita juga bisa melihat berapa kekuatan gempa yang telah terjadi lewat monitor yang terpasang,” katanya.

Edy mengatakan BPBD Gunung Kidul terus melakukan sosialisasi melalui program mitigasi bencana untuk antisipasi kebencanaan. Salah satunya dengan memperluas jaringan desa tangguh bencana.

"Mitigasi bencana ini sangat penting agar dampaknya bisa ditekan sekecil mungkin,” katanya.

Disinggung mengenai keberadaan EWS atau alat deteksi dini bencana, baik longsor dan tsunami, Edy tidak menampik banyak alat yang mengalami kerusakan.

Sejauh ini, EWS longsor terdapat di 30 titik, namun dari jumlah tersebut hanya tiga yang berfungsi. Hal yang sama juga terlihat di EWS tsunami, dari delapan alat yang terpasang di kawasan pantai, hanya satu yang masih bisa berfungsi.

"Alat pendeteksi tsunami di Pantai Baron yang masih bisa berbunyi sirinenya. Kami sebenarnya sudah meminta pengganti ke BNPB, tapi belum ada tindak lanjut hingga sekarang,” katanya.

Sementara itu, Anggota DPRD Gunung Kidul Supriyadi berharap agar alat pencatat gempa ini dirawat sehingga dapat berfungsi secara normal.

"Peralatan seperti ini sangat membantu dalam upaya mitigasi bencana, sehingga harus dijaga dan jangan sampai rusak,” katanya.

Baca juga: Sistem EWS BPPT pantau banjir dan longsor dukung kesiapsiagaan bencana

Pewarta: Sutarmi
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

UGM kembangkan sistem pendeteksi gempa hingga 3 hari sebelumnya

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar