Artikel

Transportasi Ibu Kota di tengah gempuran corona

Oleh Andi Firdaus

Transportasi Ibu Kota di tengah gempuran corona

Petugas mencuci kereta di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Rabu (4/3/2020). Untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona, PT MRT Jakarta melakukan pencucian kereta menggunakan bahan kimia mengandung disinfektan. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/aww.

Jakarta (ANTARA) - Virus corona (Covid-19) kini menjadi perhatian serius masyarakat di Indonesia setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan ada dua warga yang positif terjangkit pada Senin (2/3).

Dilansir dari SCMP, hingga Selasa (3/3/2020) pagi, Indonesia masuk pada peringkat ke-51 total 73 negara di berbagai belahan dunia yang juga mengumumkan kasus serupa.

Dua pasien positif corona di Indonesia sebenarnya jauh lebih sedikit bila dibandingkan kasus infeksi di seluruh dunia sebanyak 90.872 kasus.

Sebanyak 48.002 orang di antaranya telah dinyatakan otoritas setempat pulih dari virus corona, sementara jumlah korban jiwa tercatat mencapai 3.117 orang.

Ahli mikrobiologi dari Universitas Arizona, Amerika Serikat, Charles Gerba dalam suatu kesempatan mengingatkan publik terkait berbagai potensi penyebaran virus, termasuk pada transportasi publik.

Dilansir New York Post, Gerba menyarankan agar masyarakat memakai cairan pembersih tangan (hand sanitizer) untuk menangkal virus ketimbang masker atau sarung tangan karet.

"Karena tidak ada banyak tempat untuk bergerak selama jam sibuk. Semakin banyak orang, berarti lebih banyak kesempatan untuk disentuh seseorang yang tidak membersihkan tangan mereka dengan benar," katanya.

Jakarta saat ini memiliki lima transportasi umum yang menjadi andalan warga. Yakni Kereta Commuter Line, Bus TransJakarta, ojek daring (online), Mass Rapid Transit (MRT) dan Lintas Rel Terpadu (LRT).

Meski belum ada fakta konkret terkait penurunan jumlah penumpang angkutan umum di Jakarta imbas kemunculan corona, namun sebagian pengguna saat ini cenderung lebih berhati-hati. Bahkan ada yang kembali menggunakan kendaraan pribadi.

"Hindari keramaian, jangan pegang-pegang, cepat pulang," pesan itu disampaikan Riesty kepada suami yang pagi itu sedang bersiap kerja ke Jakarta mengendarai sepeda motor.

Sudah setahun terakhir Zafran jarang sekali menggunakan kendaraan pribadi menuju kantornya di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, sebab naik kereta jauh lebih praktis dan irit biaya.

"Sempat bingung juga dengan pemberitaan corona belakangan ini, istri di rumah sempat panik  makanya saya disuruh naik motor aja, soalnya kan di kereta ada banyak sekali orang yang kita gak tau aman atau tidak dari corona," kata Zafran di Stasiun Sudirman.

Baca juga: Polres Jakarta Utara ambil diskresi khusus terkait masker sitaan
Penumpang menggunakan fasilitas cairan pembersih tangan yang disediakan TransJakarta di Halte BKN, Senin (2/3_2020). (ANTARA/HO- Humas TransJakarta)
Pencegahan
Seakan menjawab keresahan yang dialami keluarga Zafran, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyatakan bahwa pemerintah telah menyusun standar operasi pencegahan penyebaran virus corona di transportasi umum.

Dinas Perhubungan setempat berkoordinasi dengan sejumlah pengelola transportasi massal untuk ikut andil dalam pencegahan penyebaran virus corona.

PT Transportasi Jakarta (TransJakarta), misalnya, perusahaan yang dikelola Pemprov DKI itu telah menyiapkan cairan pembersih tangan di 80 halte untuk mencegah penyebaran virus corona.

"Perseroan juga mulai malam ini, memperluas penyediaan 'hand sanitizer' untuk pelanggan di 80 halte Transjakarta" kata Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas TransJakarta, Nadia Disposanjoyo dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/3).

Selain itu, pihaknya juga membekali petugas dengan sarung tangan dan masker serta lebih mengaktifkan edukasi dan sosialisasi pencegahan virus kepada pelanggan melalui sosial media, "Passenger Information System" (PIS) yang ada di seluruh halte.

TransJakarta juga melakukan pembersihan setiap armada dengan cara mencuci setiap bus baik sebelum maupun sesudah melakukan perjalanan dengan cairan disiinfektan di depo TransJakarta.

Tidak hanya itu, petugas secara khusus ditugaskan membersihkan pegangan bus (handgrip) dan alat pembayaran "Tap On Gate" dengan disiinfektan secara berkala.

PT MRT Jakarta (Perseroda) pada Rabu (4/3) mulai memberlakukan pemeriksaan suhu tubuh penumpang dalam rangka mencegah wabah corona.

Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta, Muhamad Kamaluddin mengatakan, pemeriksaan terhadap suhu tubuh semua penumpang dilakukan di setiap area pintu masuk stasiun dan melarang masuk penumpang yang mengalami gejala demam tinggi.

"Pemeriksaan suhu tersebut akan dilakukan di setiap area pintu masuk stasiun. Bagi penumpang yang menunjukkan gejala demam tinggi tidak diperbolehkan masuk ke area stasiun MRT Jakarta," katanya.

MRT Jakarta secara paralel menerbitkan peraturan direksi khusus untuk penguatan langkah-langkah dan prosedur penanganan pencegahan penyebaran virus corona.

Larangan penumpang yang mengalami gejala demam tinggi naik transportasi umum tak hanya diberlakukan MRT Jakarta. Operator LRT juga melarang penumpang dengan suhu tubuh di atas normal menggunakan kereta ringan tersebut.

Pemeriksaan suhu tubuh juga akan dilakukan petugas di setiap stasiun yang menghubungkan Velodrome-Kelapa Gading.

"Penumpang dengan suhu tubuh melebihi 38° Celsius tidak diperkenankan memasuki area LRT Jakarta," kata General Manager Corporate Secretary LRT Jakarta Arnold Kindangen.

Prosedur pembersihan kereta juga dilakukan lebih intensif, tidak hanya saat di depo. Bahkan saat kereta beroperasi pun, seluruh bagian kereta dibersihkan petugas.

Selain itu, anak usaha PT Jakarta Propertindo itu juga menyediakan sabun dan cairan pembersih tangan yang mengandung alkohol 70-80 persen di lokasi yang mudah terjangkau.

Upaya serupa juga diterapkan oleh PT Kereta Commuterline Indonesia (KCI) yang kini menyediakan 700 botol cairan pembersih tangan di seluruh rangkaian kereta serta stasiun KRL.

"Kami mengajak para pengguna KRL memanfaatkan layanan ini dengan bijak dan tentunya tidak memindahkan botol cairan pembersih tangan dari tempatnya maupun memanfaatkan untuk kepentingan pribadi," kata Vice President Corporate Communications PT KCI Anne Purba.

Upaya pencegahan wabah corona bagi penumpang kereta berlaku di 80 stasiun wilayah Jabodetabek, Cikarang hingga Rangkas Bitung.

Anne menyebutkan program tersebut merupakan lanjutan dari berbagai upaya PT KCI untuk mencegah penyebaran virus corona sejak 3 Februari 2020. KCI telah membagikan masker kepada pengguna di 36 stasiun, melakukan edukasi cuci tangan yang benar, memasang materi edukasi di stasiun.

Selain itu, KCI juga telah rutin membersihkan rangkaian kereta seusai beroperasi dengan menggunakan cairan pembersih yang mengandung disinfektan.

Baca juga: Guru diduga bergejala corona di Jaksel diperiksa epidemiologi intensif
Penumpang menggunakan masker di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Senin (3/2/2020). PT KCI melakukan sosialisasi tentang pencegahan penyebaran virus Korona sambil membagikan masker secara gratis kepada penumpang. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/hp.
Edukasi Pengemudi
Platform pemesanan kendaraan yang populer di Indonesia, Grab dan Gojek menyiapkan sejumlah langkah guna mengantisipasi penyebaran virus corona.

Grab, layanan yang berbasis di Singapura, ikut mengantisipasi dengan memberikan edukasi kesehatan kepada pengemudi (driver).

“Mulai adanya virus corona kami sudah memberikan edukasi bekerja sama dengan Grab Health ke semua driver kami, juga ke pelanggan-pelanggan kami,” ujar Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi, ditemui usai acara “Grab Ventures Velocity".

Jauh sebelum corona menginfeksi warga Indonesia, Grab telah membagikan sebanyak 5.000 masker kepada pengendara sebagai langkah antisipasi penularan virus.

Perhatian pun diberikan kepada penumpang melalui layar aplikasi dengan mengirim pesan berjudul "Tetap aman dari Corona” yang terhubung dengan Grab Health yang dimotori oleh Good Doctor.

Pengguna kemudian dapat berkonsultasi atau sekadar membaca artikel tips menjaga kebugaran tubuh hingga mengenal virus corona.

VP Corporate Communications Gojek, Kristy Nelwan mengatakan Gojek telah menerapkan upaya antisipasi dengan seluruh ekosistem Gojek seperti mitra driver, mitra merchant, mitra service provider, pelanggan dan karyawan.

“Secara berkala, kami melakukan sosialisasi informasi tentang Covid-19, termasuk edukasi mengenai cara pencegahan, serta himbauan untuk waspada dan menjaga kesehatan," katanya.

Informasi tersebut disampaikan lewat jaringan komunikasi dengan cara memanfaatkan fitur pemberitahuan di aplikasi.

Bagi karyawan, Gojek juga telah memberlakukan larangan perjalanan kerja internasional untuk meminimalisir risiko.

Gojek siap untuk terus bekerjasama dengan berbagai pihak terkait untuk terus menyampaikan informasi mengenai antisipasi virus corona.
Baca juga: Meneguhkan kemanusiaan hadapi corona

Oleh Andi Firdaus
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Bayi usia 6 hari, pasien termuda COVID-19 di NTB

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar