Pekanbaru (ANTARA News) - Menteri Kehutanan MS Kaban menyatakan bahwa kebakaran lahan dan hutan yang melanda Provinsi Riau dari tahun ke tahun memang disengaja karena adanya aktivitas pembersihan lahan (land clearing) dengan cara pembakaran.

"Yang namanya kebakaran dengan adanya land clearing itu pasti disengaja," kata Menhut kepada ANTARA News disela kunjungannya di Pekanbaru, Riau, Jumat.

Karena itu, Menhut meminta komitmen dari pihak kepolisian untuk mengusut tuntas penyebab kebakaran di Riau yang telah mengakibatkan bencana kabut asap setiap tahun. Penegasan Kaban ini juga sekaligus mengkritisi pernyataan Wakil Gubernur Riau Mambang Mit yang sempat mengatakan bahwa kebakaran lahan di Riau tidak ada faktor kesengajaan apalagi untuk pembukaan lahan.

"Yang namanya kebakaran lahan itu pasti ada unsur kesengajaannya. Itu tidak bisa dipungkiri akibat masih ada penggunaan metode kuno oleh masyarakat dalam membuka lahan yakni dengan membakar," katanya.

Pembukaan lahan dengan cara membakar, lanjutnya, merupakan cara yang primitif dan sudah seharusnya pemerintah daerah mencarikan solusi yakni dengan memperkenalkan teknoligi baru pengelolaan pembukaan lahan tanpa membakar. Daripada anggaran pemerintah daerah habis untuk memadamkan kabakaran, lanjutnya, akan lebih baik apabila dana penanggulangan kebakaran dipergunakan untuk mengedukasi masyarakat tentang teknologi baru yang ramah lingkungan.

"Kasian kan, kalau kepada masyarakat dibiarkan primiti oleh pemerintah daerahnya sendiri karena terus saja membuka lahan dengan cara membakar," kata Kaban.

Teknologi ramah lingkungan, ujar Kaban menjelaskan, bisa mencontoh Kabupaten Marauke dan Ogan Komiring Ilir. Walaupun masyarakatnya tidak semaju di Riau, lanjutnya, tapi mereka sudah meninggalkan cara membuka lahan dengan membakar karena pemerintah daerah memberi pemberian bantuan traktor tangan kepada petani. Introduksi dari pemerintah juga bisa dengan cara memperkenalkan menajemen air untuk lahan gambut.

"Pemerintah kabupaten/kota di Riau harus punya solusi agar kebakaran lahan tidak terus terjadi setiap tahun," katanya.(*)


Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009