Sumbang Rp1.102 triliun, Kemenperin gencar telurkan industri kreatif

Sumbang Rp1.102 triliun, Kemenperin gencar telurkan industri kreatif

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih. ANTARA/HO Biro Humas Kemenperin/am.

Tiga subsektor industri kreatif yang memiliki kontribusi terbesar yaitu industri kuliner (41,69 persen), industri fesyen (18,15 persen) dan industri kriya (15,70 persen).
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian gencar menelurkan industri kreatif yang memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional, hingga mencapai Rp1.102 triliun sepanjang 2018, meningkat 19,45 persen selama tiga tahun sejak 2016 yang tercatat Rp922,59 triliun.

Tiga subsektor industri kreatif yang memiliki kontribusi terbesar yaitu industri kuliner (41,69 persen), industri fesyen (18,15 persen) dan industri kriya (15,70 persen).

“Itu salah satu tujuan kami menumbuhkan perajin kain khas Sasirangan di Banjarmasin, yang dalam beberapa tahun terakhir telah diarahkan oleh Pemerintah Kota untuk menggunakan bahan pewarna alam yang ramah lingkungan,” tutur Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, Senin.

Baca juga: Industri kreatif diyakini jadi penumpu ekonomi Indonesia masa depan

Salah satu langkah strategis yang dijalankan yaitu melalui berbagai program dengan melibatkan berbagai pihak terkait.

“Contohnya yang kami lakukan adalah berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Banjarmasin pada event Banjarmasin Sasirangan Festival 2020 untuk menggelar kegiatan creative talk,” kata Gati.

Menurut Gati, diskusi kreatif tersebut, mayoritas dihadiri oleh perajin Sasirangan dari berbagai kalangan, termasuk generasi milenial. Peserta cukup antusias menyimak paparan dari para narasumber kompeten.

“Pemateri itu di antaranya Founder dan CEO Adorable Project, Fajar Nugraha, kemudian ada Project Manager Du Anyam, Davit Manalu, serta Founder dan CEO Tuhlabu Sasirangan, Emed,” sebutnya.

Ditjen IKMA Kemenperin juga mendatangkan tim Business Venturing and Development Institute (BVDI) Universitas Prasetiya Mulya.

“Kami punya program Creative Business Incubator, yang bekerja sama dengan BVDI Prasetiya Mulya. Program ini dilaksanakan melalui tupoksi dari satuan kerja di bawah kami, yakni Bali Creative Industry Center (BCIC),” paparnya.

Gati menyampaikan, Founder Tuhlabu Sasirangan merupakan alumni tenant Creative Business Incubator BCIC tahun 2018-2019. Emed berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Juara I Lomba Desain dan Motif serta Pewarnaan Kain Sasirangan tingkat Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2019.

Baca juga: Kemenperin bidik 2.000 pelaku industri kreatif lahir tahun ini

Bagi yang berminat mengikuti program Creative Business Incubator BCIC, bisa mendaftar melalui tautan bit.ly/CBI-BCIC2020. Informasi lebih lanjut terkait program tersebut, juga dapat diperoleh melalui akun instagram @bcicofficial atau @ditjenikma.

Gati meyakini, melalui program tersebut, para pelaku industri kreatif pemula bidang kriya dan fesyen akan diberikan pelatihan dan pendampingan untuk mengembangkan bisnisnya (scaling-up) agar bisa lebih berdaya saing, baik di kancah domestik maupun global.

Hal ini sejalan dengan tekad pemerintah menciptakan wirausaha industri baru, khususnya sektor industri kecil dan menengah (IKM).

“Jumlah pengusaha muda ekonomi kreatif yang berusia di bawah 30 tahun masih sekitar 10,68 persen dari total pengusaha ekonomi kreatif yang mencapai 8,2 juta orang. Oleh karena itu, melalui momentum bonus demografi yang dinikmati Indonesia pada tahun 2030, di mana proporsi usia produktif akan mencapai lebih dari 88 juta jiwa, menjadi peluang untuk menumbuhkan wirausaha muda,” ungkapnya.
Baca juga: UNS soroti peluang industri kreatif 2020

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kemenparekraf salurkan 10.298 paket bantuan untuk pelaku pariwisata terpapar COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar