Artikel

Mencegah karhutla, madu langka mereka dapat (bagian 1)

Oleh FB Anggoro

Mencegah karhutla, madu langka mereka dapat (bagian 1)

Sejumlah personel Masyarakat Peduli Api (MPA) menuang madu trigona atau Kelulut ke botol setelah proses panen di Desa Tambak, Kabupaten Pelalawan, Riau, Rabu (4/3/2020). MPA Desa Tambak disela tugas patroli mencegah kebakaran lahan, sukses membudidayakan lebah trigona dengan produksi 24 kilogram madu per tahun, yang merupakan program kemitraan Desa Bebas Api dengan PT Asian Agri selaku pembina dan pembeli utama madu tersebut. ANTARA FOTO/FB Anggoro/20. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

Pekanbaru (ANTARA) - "Sekarang kami setiap patroli cari titik api, sekalian cari sarang lebah juga," kata Junaidi di Desa Tambak, Provinsi Riau pada awal Maret 2020.

Desa Tambak adalah salah satu desa rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan. Sejak 2014 warga mulai membentuk kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) yang diketuai oleh Junaidi. Tugas utama MPA adalah mencegah dan menanggulangi karhutla di lingkungan desa.

Kiprah MPA Desa Tambak dalam pencegahan karhutla akhirnya berkelindan dengan budi daya lebah trigona yang juga kerap disebut kelulut. Madu Kelulut kini menjadi kebanggaan baru di desa tersebut.

Di sela tugas patroli MPA, Junaidi dibantu oleh Suryadi merawat puluhan sarang lebah trigona di lahan seluas satu hektare di sebelah rumahnya. Suryadi juga anggota MPA Desa Tambak yang merintis budi daya lebah tersebut.

Lahan dengan tegakan karet itu hanya berjarak 10 meter dari rumah Junaidi. Sarang lebah yang disebut "log" itu berada di atas batang kayu berdiameter sekitar 30 centimeter dan tinggi 60 centimeter. Lebah akan bersarang di kotak kayu dengan atap kecil dari seng yang dibuat Junaidi dan Suryadi.

Setengah badan Junaidi saat panen madu "hilang" ditutupi baju khusus dan hanya sebagian mukanya saja yang terlihat melalui penutup dari kain kasa. Baju itu cukup tebal, warnanya putih, namun sudah mulai kecoklatan karena sering terkena tetesan madu.

Ia membawa mesin pengisap buatan sendiri berupa kontainer plastik dengan mesin pompa air yang dimodifikasi untuk panen madu. Mesin kecil itu menyala dengan bantuan batre aki kering. Satu tangan Junaidi memegang selang untuk mengisap madu yang mengalir ke wadah plastik.

"Lebah kelulut ini tidak seganas lebah hutan, tapi ada beberapa juga yang galak suka mengigit," katanya.


Dianggap Gagal

Budi daya lebah trigona oleh MPA Desa Tambak tidak mudah dan pernah dianggap gagal. Penangkaran tersebut awalnya digagas oleh seorang kawan Junaidi yang setelah melihat potensi madu kelulut di Kabupaten Kampar dan ingin mencoba hal serupa di Desa Tambak.

"Jadi bikin lah kami 30 log dengan modal bersama, kalau ada hasil dibagi. Ternyata kurang madunya, dan kawan itu ingin tarik usahanya, dan ditinggalinya kami 10 log supaya dipelihara, siapa tahu jadi," kata Suryadi.

Menurut Suryadi, awalnya mereka membudidayakan dua jenis lebah, yaitu Apis cerana dan trigona. Ternyata lebah Apis cerana rentan terhadap perubahan cuaca dan tidak mau menetap di sarang buatan.​​​​​​​

Suryadi dan Junaidi meneruskan budi daya tersebut sejak 2018, khusus lebah trigona. Supaya lebah banyak asupan pangan, mereka menanam berbagai tanaman bunga di sekitar sarang.

"Akhirnya kami taman bunga jenis tantostemon ada sektiar 30 batang, bunga air mata pengantin dan monalisa ada 20 batang," ujarnya.

Budi daya lebah yang awalnya dianggap gagal itu akhirnya mulai menunjukkan hasil positif. Lebah tidak perlu jauh-jauh mencari bunga sehingga produksi madu mulai naik dari hanya sekitar delapan ons jadi 1,2 kilogram (kg) tiap panen per bulan.​​​​​​​

Junaidi mengatakan setelah dinilai ada peningkatan produksi, mereka mulai mencari tambahan modal untuk menambah log lebah trigona. Mereka mengikuti program bantuan ekonomi masyarakat dari Anggaran Dana Desa (ADD) senilai Rp20 juta untuk membuat sekitar 13 sarang baru.

Harga sarang baru yang lengkap dengan lebah trigona siap produksi, menurut mereka, harganya lumayan mahal, yaitu sekitar Rp1,5 juta/unit. Untuk menghemat biaya, mereka mencari sarang ketika tugas patroli mencari titik api karhutla dan membelinya dari pemilik pohon.

"Kami sudah dapat tiga sarang, kami beli dari warga setempat," katanya.

Baca juga: Manisnya madu kelulut cegah kebakaran lahan gambut

Satu sarang bisa menghasilkan madu kelulut rata-rata berkisar 250 hingga 300 mililiter, namun kalau musim bunga sedang bagus panen bisa mencapai 500 mililiter.

Junaidi mengatakan saat ini sudah ada 40 sarang lebah trigona di lahan budi daya MPA Desa Tambak, namun baru 25 yang bisa panen.

"Mulai Tahun 2019, panen madu bisa dua kilogram sebulan," kata Junaidi.

Baca juga: Memanen uang lewat budi daya madu kelulut

Usaha madu kelulut tersebut mulai menjadi pemasukan untuk operasional MPA Desa Tambak dan juga untuk keluarga Junaidi dan Suryadi. Budi daya madu tersebut juga menarik perusahaan Asian Agri, yang bersedia menjadi pembina dan pembeli utama.

Harga madu kelulut cukup tinggi, yakni Rp400 ribu per kilogram. MPA Desa Tambak mengemasnya dalam botol ukuran 250 mililiter madu yang sudah disaring dan dibandrol dengan harga Rp100 ribu.

"Untuk hasil panen dua kilogram sebulan, kami bisa dapat Rp800 ribu, tapi kami juga jual ke warga setempat dengan harga yang tidak mahal," katanya.

Dari hasil panen madu, lanjutnya, 70 persen hasilnya untuk yang menjaga dan 30 persen masuk ke kas MPA untuk membantu biaya operasional patroli karhutla dan lain-lain.

Junaidi mengatakan ada sejumlah masalah yang menjadi kendala utama budi daya lebah kelulut. Kendala bisa datang dari satwa yang menjadi "hama", yaitu monyet besar (beruk) dan beruang.

Untuk mencegah dua hama tersebut, Junaidi dan Suryadi kerap begandang hingga larut malam sebelum masa panen madu.

"Tapi kalau sudah beruang masuk itu paling parah, karena dirusak sampai ke sarang-sarang lebah sampai tak bersisa," katanya.  (Bersambung ke bagian 2)

Oleh FB Anggoro
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar