Literasi keuangan masyarakat Sumsel semakin membaik

Literasi keuangan masyarakat Sumsel semakin membaik

Kepala OJK Regional & Sumbagsel Untung Nugroho. (ANTARA/Dolly Rosana/20)

Berdasarkan hasil survei kami untuk wilayah kerja Sumbagsel, Sumsel memiliki tingkat literasi tertinggi dibandingkan Bangka Belitung, Lampung, Jambi dan Bengkulu
Palembang (ANTARA) - Tingkat literasi atau pemahaman masyarakat Sumatera Selatan terhadap produk jasa keuangan semakin membaik berdasarkan hasil survei Otoritas Jasa Keuangan 2019 yakni meningkat dari 40,05 persen dari semula 31,64 persen pada 2016.

Kepala Kantor OJK Regional 7 Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) Untung Nugroho di Palembang, Jumat, mengatakan pergerakan ini cukup signifikan apalagi diketahui tingkat literasi di Sumsel lebih baik dari empat provinsi lain yang ada di Sumbagsel, maupun secara nasional.

Baca juga: Peminjam dana via daring di Sumsel tumbuh 590 persen

“Berdasarkan hasil survei kami untuk wilayah kerja Sumbagsel, Sumsel memiliki tingkat literasi tertinggi dibandingkan Bangka Belitung, Lampung, Jambi dan Bengkulu,” kata dia.

Namun demikian, kata dia, tingkat inklusi atau akses keuangan masyarakat Sumsel terhadap produk jasa keuangan lebih rendah dibandingkan provinsi tetangga, Bengkulu. Diketahui, tingkat inklusi Sumsel sebesar 85,06 persen sementara Bengkulu sebesar 85,56 persen.

“Tetapi jika dibandingkan tingkat inklusi keuangan Sumsel 2016 yang sebesar 73,09 persen tentu menunjukkan peningkatan,” kata dia.

Untung mengemukakan otoritas saat ini berupaya memperkecil kesenjangan antara tingkat inklusi dan literasi di Sumsel maupun empat provinsi lainnya.

Baca juga: OJK dorong perbankan aktif salurkan KUR di Sumsel

“Pasalnya jika gap itu semakin besar maka menunjukkan banyak warga yang tidak paham tetapi sudah pakai produk jasa keuangan,” kata dia.

Hal tersebut, ia menjelaskan seringkali berujung pada keluhan konsumen terhadap produk yang sudah digunakan itu.

Untung memaparkan masalah itu bisa terjadi saat masyarakat mengakses produk perbankan maupun asuransi.

“Saat punya uang, datang ke bank langsung disimpan ke deposito. Kemudian 5 hari berikutnya datang lagi mau cairkan, ketika ada potongan dari bank langsung komplain. Ini gambaran tidak paham tentang produk tapi sudah pakai,” kata dia.

Baca juga: Sumatera Selatan dorong pembentukan bank wakaf mikro

Menurut dia, kondisi itu juga tercermin dari layanan konsumen 2019 yang ditujukan ke pihaknya, yakni dari total 1.305 layanan terdapat 404 pengaduan.

Pengaduan terbesar terkait klaim asuransi yang mencapai 60,15 persen dan keberatan atas denda/pinalti/perhitungan bunga, kemudian menyangkut dokumen BPKB yang belum diterima.

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap industri dan layanan jasa keuangan, kata Untung, pihaknya gencar melakukan kegiatan edukasi dan literasi.

Sehingga sepanjang 2019, OJK melakukan kegiatan literasi sebanyak 115 kali, dengan diikuti 16.288 peserta yang berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa hingga komunitas.

Baca juga: Penyaluran KUR di Sumsel di bawah 50 persen

Pewarta: Dolly Rosana
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Waspada aksi pinjol ilegal saat pandemi, perhatikan 7 hal ini

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar