Peneliti: Pengurangan risiko alternatif berhenti merokok

Peneliti: Pengurangan risiko alternatif berhenti merokok

Ilustrasi - Kawasan dilarang merokok

Para pembuat kebijakan dan ahli kesehatan disarankan untuk mendalami upaya tersebut untuk mengatasi masalah rokok
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Senior Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Achmad Syawqie mengatakan upaya pengurangan risiko dapat menjadi salah satu cara bagi perokok dewasa yang mengalami kesulitan berhenti merokok.

"Bagi perokok yang sulit berhenti, ada opsi mengurangi risiko dengan cara beralih ke produk tembakau alternatif yang lebih rendah risiko, seperti produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektrik. Upaya tersebut telah terbukti dapat mengurangi angka perokok di sejumlah negara, yakni Jepang, Inggris, dan Selandia Baru," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu.

Pernyataan tersebut didukung oleh hasil kajian ilmiah terbaru yang dilakukan YPKP bersama SkyLab-Med di Yunani pada tahun lalu.

Dalam kajian tersebut, YPKP melakukan perbandingan emisi senyawa aldehida yang dihasilkan dari produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, dan rokok melalui "vaping machine" dan "smoking machine".

Pada kedua mesin tersebut, YPKP meneliti 20 batang tembakau untuk produk tembakau yang dipanaskan, 3-5 ml cairan rokok elektrik dan 20 batang rokok.

Baca juga: Peneliti: Konsep pengurangan risiko lebih efektif atasi masalah rokok

Hasilnya produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektrik memiliki emisi aldehida yang jauh lebih rendah dari rokok. Hal itu, artinya risiko bagi perokok juga menurun jika mereka beralih ke produk tembakau yang dipanaskan.

"Jika rokok digunakan dengan cara membakar tembakau, maka produk tembakau alternatif hanya memanaskan tembakau sehingga tidak menghasilkan asap, melainkan uap. Karena tidak ada proses pembakaran, produk tersebut tidak menghasilkan abu dan memiliki kadar zat kimia berbahaya dan berpotensi berbahaya yang jauh lebih rendah daripada rokok,” kata Sywaqie.

Hasil kajian ilmiah dari UK Committee on Toxicology (COT), bagian dari Food Standards Agency, menyimpulkan bahwa produk tembakau yang dipanaskan menghasilkan uap yang mengandung zat kimia berbahaya lebih rendah 50-90 persen jika dibandingkan dengan asap rokok.

“Pengurangan risiko dapat melengkapi upaya pengendalian rokok yang sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini. Para pembuat kebijakan dan ahli kesehatan disarankan untuk mendalami upaya tersebut untuk mengatasi masalah rokok," kata dia.

Jika berkaca pada Jepang, Inggris, dan Selandia Baru, katanya, dapat melihat bahwa upaya tersebut telah berhasil menurunkan angka perokok di negara tersebut.

Baca juga: Ahli toksikologi: Rokok elektrik rendah risiko
Baca juga: YPKP: Penggunaan tembakau alternatif bukan tanpa risiko

Pewarta: Indriani
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Perokok dua kali lipat lebih rentan terpapar COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar