Ribuan ternak babi di TTS mati terserang virus ASF

Ribuan ternak babi di TTS mati terserang virus ASF

Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Egusem Piether Tahun. (ANTARA/Bernadus Tokan)

Jika dihitung secara ekonomis, maka kematian ternak babi di wilayah itu telah menimbulkan kerugian lebih dari Rp3 miliar.
Kupang (ANTARA) - Ribuan ekor ternak babi milik masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan mati karena terserang virus African Swine Fever (ASF) yang diduga masuk dari Timor Leste.

"Sampai hari ini sudah ada sekitar 1.000 ekor ternak babi yang mati. Angka ini tidak termasuk yang belum dilaporkan atau tidak dilaporkan oleh masyarakat, terutama yang ada di pedalaman," kata Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) Egusem Piether Tahun, Senin, (16/3).

Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan serangan virus babi Afrika terhadap ternak babi di Pulau Timor yang meliputi Kabupaten Belu, Malaka, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Kupang dan Kota Kupang.

Bupati mengatakan pemerintah hanya bisa memberikan pemahaman kepada warga untuk menjaga lalulintas ternak antarwilayah guna mencegah penyeberan virus tersebut.

Baca juga: Pemerintah provinsi tutup lalu lintas ternak babi keluar masuk NTT
Baca juga: Timor Tengah Utara eliminasi serangan virus misterius pada babi


"Virus ini belum ada vaksinnya sehingga hal utama adalah lalulintas ternak babi antarwilayah harus dicegah. Peredaran daging babi dari satu wilayah ke wilayah lain juga harus dicegah," katanya menambahkan.

Upaya lain adalah semua tempat pemotongan daging babi harus diperiksa, untuk memastikan bahwa babi yang dipotong benar-benar sehat dan bukan babi yang sudah tertular virus, karena dapat menjadi media penyeberan virus babi.

Dalam hubungan dengan ini, kerja sama seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan, mengingat petugas tidak bisa melakukan pengawasan secara menyeluruh, kata bupati.

Dia menambahkan jika dihitung secara ekonomis, maka kematian ternak babi di wilayah itu telah menimbulkan kerugian lebih dari Rp3 miliar.

Angka ini dihitung berdasarkan harga satu ekor ternak babi di daerah itu yang berkisar antara Rp3-5 juta per ekor, katanya menjelaskan.

Baca juga: Kementan siagakan 102 posko tangani demam babi Afrika di Sumut

Mewaspadai masuknya virus demam babi ke Sumbar

Pewarta: Bernadus Tokan
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar