Pengamat imbau pemerintah cari negara alternatif impor bahan baku

Pengamat imbau pemerintah cari negara alternatif impor bahan baku

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus di Jakarta, Senin (12/8/2019). ANTARA/AstridFaidlatulHabibah/pri.

Harusnya pemerintah bersama dunia usaha bisa mencarikan negara alternatif
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus mengimbau pemerintah untuk dapat mencari negara alternatif atau pasar baru untuk mengimpor bahan baku agar sektor industri tetap terjaga.

Hal itu berkaitan dengan impor pada Februari 2020 sebesar 11,60 miliar dolar AS atau turun 18,69 (mtm) dan 5 persen (yoy) yang merupakan sinyal bahwa sektor industri sedang tertekan karena barang modal dan bahan baku mengalami banyak penurunan.

“Harusnya pemerintah bersama dunia usaha bisa mencarikan negara alternatif mana yang bisa menyediakan bahan baku impor untuk menggantikan China,” katanya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Menurutnya, pemerintah harus menciptakan suasana agar produksi pada sektor industri tetap lancar melalui terjaganya ketersediaan bahan baku dengan mencarikan pasar baik dalam negeri maupun luar negeri.

“Ciptakanlah suasana agar industri itu lancar produksinya jadi pemerintah harus ambil peranan misalnya bagaimana mendukung kelancaran bahan baku baik dari dalam maupun luar negeri karena impor dari China sedang tersendat,” katanya.

Ia mencontohkan, komponen telepon seluler di industri tanah air bergantung impor dari China sebanyak 62 persen dan selebihnya dari Taiwan, Hong Kong, serta Vietnam.

Heri menuturkan pemerintah bisa menjadikan Taiwan sebagai negara pengganti China dalam mengimpor bahan baku telepon seluler sehingga produksi dalam negeri tetap berjalan dengan baik.

“Bisa enggak Taiwan menggantikan China untuk mendukung bahan baku itu? Kita enggak tahu jawabannya sebelum pemerintah melakukan diplomasi secara bilateral. Kadin Indonesia dan Kadin Taiwan bertemu langsung bahas lalu MoU,” tegasnya.

Heri menyatakan pemerintah juga bisa memberikan fasilitas untuk sektor industri jika ternyata biaya dari Taiwan lebih mahal dibandingkan China misalnya memberikan subsidi ongkos kirim atau biaya terkait impor bahan baku.

“Bagaimana memberikan subsidi ongkos kirim atau biaya terkait impor bahan baku jadi terasa untuk industri kita. Oh industri elektronik kita yang impor dari China banyak terus berkurang karena COVID-19 nah dialihkan ke Taiwan,” katanya.

Heri mengatakan melalui produksi yang meningkat nantinya sektor industri juga dapat menjadikan pasar dalam negeri sebagai target sebab Indonesia memiliki potensi besar.

“Jual saja ke pasar dalam negeri asal pemerintah menjaga daya beli atau konsumsi masyarakat dan mengamankan pasar dalam negeri terhadap serbuan barang impor. Barang impor konsumsi ya bukan bahan baku,” katanya.

Dengan begitu, Heri menuturkan pemerintah dapat sekaligus mendorong sektor industri untuk berkontribusi lebih besar dalam meningkatkan pangsa pasar dalam negeri.

“Kalau misalnya barang impor konsumsi dibatasi itu bagus bagi industri kita agar dia bisa memberikan kontribusi lebih besar untuk meningkatkan pangsa pasar dalam negeri,” ujarnya.

Baca juga: Pengamat nilai penurunan impor berikan sinyal sektor industri tertekan
Baca juga: Indef prediksi investasi turun meski neraca dagang RI surplus

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Budidaya anggur impor di Gunungkidul

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar