Mau jadi YouTuber? Ini rekomendasi durasi video yang ideal

Oleh Nanien Yuniar

Mau jadi YouTuber? Ini rekomendasi durasi video yang ideal

(ki-ka): Babe Cabita (Stand Up Comedian), Audrey FF (Gamers) dan DHIARCOM (Tech Reviewer) di kampanye Shopee 4.4 Mega Elektronik Sale, Jakarta, Rabu (18/3/2020) (HO/Shopee Indonesia)

Jakarta (ANTARA) - Menentukan durasi video yang tepat adalah salah satu pertanyaan yang lazim dihadapi pemula yang ingin jadi pengisi konten YouTube.

Terlalu panjang, khawatir penonton akan kebosanan. Terlalu pendek, tidak ada tempat untuk menaruh iklan yang jadi salah satu pemasukan.

Sebetulnya berapa menit rekomendasi durasi video yang ideal untuk diunggah di YouTube?

DHIARCOM yang biasa membuat video ulasan gawai biasanya membuat video berdurasi 6-10 menit saat "unboxing" sebuah gawai.

"Kalau dengan review, biasanya 15 menit," kata DHIARCOM di acara Shopee 4.4 Mega Elektronik Sale, Rabu (18/3).

Baca juga: "Influencer" penyebar hoaks perlu minta maaf

Baca juga: Kesan Youtuber GoToe garap "random play dance" di Indonesia


Hal senada diutarakan Audrey FF yang fokus membuat video bermain game. Gamer ini beranggapan 10-15 menit adalah durasi ideal dalam membuat video.

"Di bawah 10 menit enggak bisa pakai adsense banyak," ujar dia sambil tertawa.

Komika Babe Cabita juga setuju dengan apa yang diutarakan rekan-rekan YouTuber lain. Bila ingin memasukkan iklan di video, setidaknya ia harus membuat video berdurasi 10 menit.

Konsisten dalam mengunggah video juga jadi kunci penting untuk menjaga loyalitas penggemar. Babe punya komitmen untuk mengunggah video baru di YouTube sepekan sekali, sementara unggahan baru di Instagram ada setiap hari.

Tiga YouTuber itu pun mengungkapkan langkah awal untuk menjadi pembuat konten. Ada bermacam-macam tema yang bisa diangkat, seperti Babe yang akrab dengan komedi atau Audrey yang suka dengan game. Menentukan fokus apa yang bakal diangkat adalah pertimbangan pertama sebelum jadi YouTuber.

"Cari apa yang kita suka," kata Audrey.

Baca juga: Pesan Andovi da Lopez untuk pembuat konten

Baca juga: 896 karya vlog ikuti kompetisi 'bela negara masa kini'


Setelah menentukan apa saja tema yang akan digarap, siapkan alat-alat penunjang.

Untuk DHIARCOM, dia membutuhkan kamera, mikrofon dan lampu pencahayaan agar video terlihat bagus.

Sementara Audrey yang merekam videonya bermain game butuh lebih banyak kamera.

"Kalau aku ditambah dengan PC, kameranya biasanya mirrorless atau webcam biasa," imbuh dia.

Sedangkan Babe lebih memilih kamera besar yang bisa menunjang untuk membuat video berdurasi panjang.

"Kamera kecil kurang cocok buat saya karena cepat panas kalau videonya panjang."

Untuk sebagian YouTuber, modal awal mengumpulkan alat penunjang bisa memakan biaya hingga berjuta-juta, meski Babe Cabita bisa mendapat pinjaman dari teman-temannya sehingga ia bisa memproduksi tanpa biaya.

Baca juga: Arief "Poconggg" Muhammad setuju KPI awasi Youtuber

Baca juga: Kisah hidup Atta Halilintar, dari pedagang hingga Youtuber terkenal


Kesuksesan tidak bisa terjadi dalam semalam, jadi mereka tidak serta merta memikirkan profit yang akan diraup. DHIARCOM memulai semuanya dari hobi, jadi dia tidak memikirkan untung yang akan didapatkan. Seiring waktu berjalan, hobi ini berubah jadi mata pencaharian.

"Mulai enak ketika subscriber 30.000," ungkap dia.

Audrey pun tak langsung bertaburan uang ketika menjadi YouTuber. Dia menungkapkan ada kalanya tak mendapat iklan sehingga tak punya penghasilan.

"Aku bikin video karena senang menghibur orang, dari situ yang lain masuk (peluang lain)."

Bagi Babe Cabita, YouTube dan Instagram awalnya digeluti bukan sebagai mata pencaharian utama, melainkan penunjang profesi sebagai komika. Eksistensi yang meneguhkan posisinya sebagai komedian.

"Ketika stand up comedian sepi, penghasilan digital lebih gede," dia tak menyangka apa yang dibuat untuk senang-senang berujung jadi berkah.

Baca juga: Kisah YouTuber kembar Inggris tinggalkan jutaan dolar demi Ibu Bumi

Baca juga: Tips manjur jago berbahasa Inggris dari SkinnyFabs


Mereka mengenang video pertama yang dibuat, di mana kualitasnya jauh berbeda dari apa yang biasa diunggah sekarang. Sebelum ada tim, mereka bekerja sendirian. Semua hal digarap tanpa ada asisten, termasuk soal editing.

DHIARCOM dan Audrey mengedit videonya sendiri dengan sederhana sebelum punya tim editor yang membuat video jadi lebih asyik ditonton.

"Kalau dilihat sekarang agak sedih sih, kok begini ya videoku dulu," Audrey tertawa.

Sementara Babe Cabita mengaku ia termasuk "gaptek" alias gagap teknologi. Oleh karena itu, hal pertama yang dilakukan saat terjun ke dunia digital adalah merekrut editor video. Ia mendapatkan banyak peminat saat mengiklankannya di media sosial, meski secara jujur mengatakan tak bisa menjanjikan honor yang besar karena belum ada pemasukan.

"Bahkan dari daerah ada yang baru tamat SMK bilang berminat enggak apa-apa enggak digaji asal ada tempat tinggal," kata Babe.

"Mungkin sekarang dengan dunia konten kreator ramai, pekerja editor juga semakin terbuka."

Baca juga: Kiat bikin konten video ala YouTuber SkinnyIndonesian24

Baca juga: DJP imbau Youtuber penuhi kewajiban bayar pajak

Baca juga: IM3 gandeng YouTube dorong generasi muda buat konten positif

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar