Atasi corona, Menlu Iran desak dunia untuk lawan unilateralisme AS

Atasi corona, Menlu Iran desak dunia untuk lawan unilateralisme AS

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyarankan Amerika agar meninggalkan kebijakan gagal, dan mengatakan Iran takkan tunduk pada perundungan (IRNA)

Negara saya adalah salah satu yang paling terpukul oleh virus corona, bahkan seperti negara-negara lain, kita sekarang belajar bagaimana cara menghadapinya dengan lebih baik, sebagian besar dari bahaya yang dihadapi Iran adalah karena pembatasan yang
Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mendesak dunia untuk membentuk cara baru melawan unilateralisme Amerika Serikat di tengah wabah virus corona yang melanda dunia.

"Kita semua bersama-sama. Untuk menghadapi virus corona, kita perlu bekerja sama lebih baik. Tetapi untuk sampai di sana, perang terhadap multilateralisme, kerja sama internasional, dan aturan hukum harus berakhir," ujar Menlu Iran Javad Zarif dalam pesan video yang diterima di Jakarta, Kamis.

Pernyataan Menlu Javad Zarif ditujukan pada sanksi AS yang menghalangi Iran untuk memobilisasi semua sumber dayanya untuk memerangi virus corona.

Sejak keluar dari perjanjian nuklir multilateral 2015 dengan Iran pada Mei 2018, Presiden AS Donald Trump telah menjalankan apa yang disebutnya sebagai "tekanan maksimum" sanksi terhadap Teheran.

Sanksi Amerika menargetkan Iran dan mitra internasionalnya, termasuk negara-negara Eropa yang berusaha terlibat dalam perdagangan dengan Iran.

Sanksi sekunder disebut menargetkan perusahaan asing yang melakukan bisnis dengan Iran. Negara-negara yang terkena dampak, termasuk China, mengatakan larangan itu melanggar kedaulatan mereka karena interaksi bilateral mereka dengan Iran ditargetkan oleh negara ketiga, yaitu AS.

"Negara saya adalah salah satu yang paling terpukul oleh virus corona, bahkan seperti negara-negara lain, kita sekarang belajar bagaimana cara menghadapinya dengan lebih baik, sebagian besar dari bahaya yang dihadapi Iran adalah karena pembatasan yang tidak adil yang dikenakan pada mereka oleh pemerintah Amerika Serikat," ujar Javad Zarif.

Iran saat ini adalah negara yang paling banyak dijatuhi sanksi dalam sejarah dan sanksi itu tidak sejalan dengan keputusan PBB.

"Embargo ekonomi terhadap Iran menghambat semua perdagangan yang sah dan merampas kita dari sumber daya sendiri yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan rakyat termasuk kesehatan dan mata pencaharian mereka," ujar dia.

Bahkan di tengah pandemi ini, kata dia, pemerintah AS telah sepenuhnya menolak untuk menghapus sanksi terhadap Iran.

Akibatnya, Iran tidak mungkin dapat membeli obat-obatan dan peralatan medis.

"Tragedi yang lebih besar adalah bahwa banyak perusahaan dan negara yang secara resmi menentang sanksi ini telah memilih untuk mematuhinya mungkin dengan harapan menghindari kemarahan Amerika Serikat di masa depan meskipun Presiden Trump berkali-kali membuktikan bahwa itu hanya angan-angan," ujar dia.

Baca juga: Antisipasi COVID-19, bebas visa Indonesia ditangguhkan sementara

Baca juga: Menlu Zarif yakin Iran mampu atasi virus corona di tengah sanksi AS

 

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar