Kapasitas RS kurang, hotel akan digunakan untuk rawat pasien COVID-19

Kapasitas RS kurang, hotel akan digunakan untuk rawat pasien COVID-19

Dokumentasi - Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo (tengah) didampingi pejabat terkait memberikan keterangan kepada media berita terkini mengenai kasus COVID-19 di Kantor Pusat BNPB, Jakarta, Sabtu. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc/pri.

Kita mendorong agar beberapa rumah sakit yang lain bisa ditata ulang, disiapkan lebih baik, untuk bisa menerima pasien COVID-19
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona Doni Monardo mengakui kapasitas rumah sakit saat ini masih kurang sehingga pihaknya akan menggunakan hotel untuk merawat pasien COVID-19.

"Sementara ini ada 130 RS rujukan. Namun terlihat sekali untuk wilayah DKI dan sekitarnya, masih relatif agak kurang, ada tawaran dari sejumlah pengusaha karena sekarang ini banyak hotel yang relatif kosong, sehingga mereka karena kepeduliannya pada negara yang sangat tinggi, mereka sudah menawarkan," kata Doni menjelaskan rumah sakit (RS) rujukan dalam video conference seusai menghadiri rapat terbatas yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka Jakarta, Kamis.

Doni mengatakan dirinya masih mendorong agar rumah sakit-rumah sakit rujukan untuk ditata ulang sehingga memudahkan masyarakat.

Baca juga: Tokoh agama dan daerah diimbau kooperatif cegah kerumunan massa

"Kita mendorong agar beberapa rumah sakit yang lain bisa ditata ulang, disiapkan lebih baik, untuk bisa menerima pasien COVID-19. Kemudian, rumah sakit swasta yang telah mendapat izin ada tiga rumah sakit, menyusul 2 lagi, kapasitas tempat tidur itu bisa mencapai 1000 unit," kata Doni.

Sedangkan untuk hotel yang akan dijadikan rumah sakit sementara, tim dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan pihak terkait lainnya sedang melihat kesiapan hotel-hotel tersebut.

"Sejumlah tokoh nasional dan pengusaha telah menyanggupi menyiapkan fasilitas hotel mereka yang manakala fasilitas yang disiapkan oleh pemerintah terbatas, baik di Jakarta maupun di sejumlah daerah lain," ujar Doni.

Tidak ketinggalan, pemerintah pun mempersiapkan Wisma Atlet Kemayoran sebagai rumah sakit sementara.

Baca juga: Bank Dunia, ADB tawarkan bantuan ke Indonesia tangani COVID-19

"Untuk Wisma Atlet, tim gabungan telah melakukan survei ke Wisma Atlet di Kemayoran. Saat ini sudah ada 2 tower tidak lama lagi, hari Senin (23/3), sudah bisa berfungsi untuk sekitar 2.000 tempat tidur," ungkap Doni.

Menurut Doni, satuan TNI gabungan akan mengurus kesiapan Wisma Atlet tersebut.

"Tentunya TNI yang memiliki kualifikasi di bidang medis baik dari Angkatan Darat, Angkatan Laut juga Angkatan Udara di bawah kendali dari Pusat Kesehatan TNI," kata Doni.

Satuan yang dimaksud Doni untuk menangani pasien COVID-19 di Wisma Atlet adalah Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan).

"Kenapa? karena sudah teruji ketika menangani WNI kita dari Wuhan, World Dream dan Diamond Princess. Tapi Kogabwilhan tidak sendiri, akan didukung berbagai pihak khususnya dari Kemenkes," ujar dia.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat juga akan mengecek kesiapan Wisma Atlet tersebut.

Baca juga: Indonesia miliki 40 laboratorium bekas penanganan pandemi SARS

"Pengelolaannya juga sudah diarahkan oleh Pak Presiden. Pasien nanti rutenya lewat mana supaya para petugas harus dalam posisi aman kemudian Bapak Menteri PUPR dan Menteri BUMN telah mengatur power yang akan digunakan untuk dukungan logistik dan untuk hospitality untuk penyelenggaranya baik untuk unsur TNI, sebagian Polri, juga tenaga medis lainnya," ujar Doni.

Sedangkan untuk fasilitas laboratorium (lab) untuk rapid test, menurut Doni, sudah disiapkan 12 lab namun masih akan ditambah.

"Kemudian mana saja yang sudah akan menjadi rujukan itu sudah ada 12 lab. Namun bila nanti kapasitas lab ini terbatas, Gugus Tugas akan memohon kembali kepada Kemenkes untuk ditambah, paling tidak ada sekitar 40 lab yang pernah digunakan pada saat pandemi SARS yang lalu, tapi tingkat kesehatan nya perlu dicek ulang," ujar dia.

Hingga Kamis (19/3), Indonesia memiliki 309 kasus COVID-19 positif dengan 25 orang meninggal dunia dan tercatat sembuh 15 orang. Artinya rasio kematian pasien COVID-19 sebesar 8 persen.

Baca juga: Masyarakat harus disiplin dan sadari bahaya penyebaran COVID-19

Pasien positif COVID-19 tersebut tersebar di DKI Jakarta (210), Banten (27), Jawa Barat (26), Jawa Tengah (12), Jawa Timur (9), Yogyakarta (5), Bali (1), Kalimantan Barat (2), Kalimantan Timur (3), Kepulauan Riau (3), Sumatera Utara (2), Lampung (1), Riau (1), Sulawesi Utara (1), Sulawesi Tenggara (3) dan Sulawesi Selatan (2).

Hingga Kamis (19/3) siang, terkonfirmasi di dunia ada 221.290 orang yang terinfeksi virus Corona dengan 8.997 kematian sedangkan sudah ada 85.785 orang yang dinyatakan sembuh. Kasus di China mencapai 80.928 kasus, di Italia 35.713 kasus, di Iran 17.361 kasus, di Spanyol 14.769, di Jerman 12.824 kasus.

Jumlah kematian tertinggi terjadi di China yaitu 3.245 kematian disusul Italia sebanyak 2.978 kasus, dan Iran sebanyak 1.135 orang, Spanyol 638 orang. Saat ini sudah ada sekitar 123 negara yang mengonfirmasi kasus positif COVID-19 di negaranya.

Baca juga: Presiden: Efektifkan peran kelurahan-RT/RW atasi pandemi COVID-19

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Vaksin COVID-19 belum ditemukan, masyarakat harus ubah pola hidup

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar