Imam Besar Istiqlal ungkap alasan tiadakan shalat Jumat

Imam Besar Istiqlal ungkap alasan tiadakan shalat Jumat

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Menteri Agama Fachrul Razi serta Imam Besar Masjid Istiqlal Nazaruddin Umar di masjid Istiqlal Jakarta, Jumat (13/3/2020). ANTARA/Desca Lidya Natalia/aa.

...pembatasan sosial yaitu dengan memberi jeda ruang antarjamaah seluas dua meter...
Jakarta (ANTARA) - Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar memaparkan beberapa alasan untuk meniadakan shalat Jumat berjamaah di masjid dan menggantinya dengan shalat Zuhur masing-masing di rumah yang salah satunya adalah mencegah kemudaratan.

Nasaruddin dalam Konferensi Pers di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana Jakarta, Jumat, mengatakan alasan objektif meniadakan shalat Jumat dikarenakan sudah ada fatwa dari Majelis Ulama Indonesia untuk menghindari kerumunan guna mencegahnya penyebaran virus corona baru COVID-19.

Selain itu, Nasaruddin juga mengatakan alasan lainnya sudah ada imbauan dari Presiden Joko Widodo untuk melakukan pembatasan interaksi sosial dan juga imbauan dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk meniadakan shalat Jumat berjamaah selama dua pekan.

Baca juga: Din Syamsudin anjurkan umat ganti shalat Jumat dengan Dzuhur di rumah

"Kita sebagai umat beragama tidak ada hal lain selain mengikuti ulama dan umara (pemerintah) kita," kata Nasaruddin.

Selain itu pihak Masjid Isitiqlal, kata Nasaruddin juga mempelajari dan mempertimbangkan kondisi-kondisi penyebaran virus yang begitu cepat di luar negeri seperti di Iran, Korea Selatan, dan Italia yang kondisinya disebut sangat memprihatinkan.

"Oleh karena itu untuk mencegah jangan sampai hal itu terjadi di Tanah Air kita tercinta, maka kami selaku Imam Besar Masjid Istiqlal mengimbau kepada seluruh umat Islam terutama yang berada di dalam wilayah-wilayah yang sangat banyak virus berkembang, maka sudah cukup alasan untuk tidak melakukan pertemuan dalam keadaan berjamaah, termasuk di dalamnya shalat Jumat, termasuk juga shalat berjamaah Subuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya," kata dia.

Baca juga: Bupati Indragiri Hilir tetap ajak warganya Jumatan di masjid

Sedangkan apabila masih ada yang ingin melakukan shalat berjamaah dikarenakan wilayahnya terbilang masih aman dari penyebaran virus, Nasaruddin mengimbau agar menerapkan pembatasan sosial yaitu dengan memberi jeda ruang antarjamaah seluas dua meter sebagai upaya untuk menghindari penyebaran virus.

Dia mengatakan Masjid Istiqlal menerapkan hal tersebut dalam shalat berjamaah sekarang ini.

Pada Kamis (19/3), Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan imbauan bahwa kegiatan ibadah bersama keagamaan di Jakarta, termasuk shalat Jumat di masjid-masjid Jakarta, untuk ditiadakan selama dua pekan ke depan sebagai antisipasi pencegahan penularan virus corona baru COVID-19.

Menindaklanjuti seruan tersebut, Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal Laksmana Pertama TNI (Purn) Asep Saepudin dalam keterangan resminya kemarin, juga telah menyampaikan imbauan bahwa Masjid Istiqlal tidak melaksanakan shalat Jumat selama dua minggu dan diganti dengan shalat Zuhur masing-masing (tidak berjamaah).

Berdasarkan data per hari kemarin, jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia sebanyak 309 orang, bertambah 82 orang dibandingkan hari sebelumnya. Kasus kematian akibat penyakit tersebut menjadi 25 orang dengan tingkat kematian atau Case Fatality Rate 8,09 persen, dan 15 orang telah pulih dan diperbolehkan pulang.

Baca juga: Wali Kota Bogor diisolasi di RSUD, positif COVID-19
Baca juga: Dinkes Surabaya tanggung biaya pemeriksaan tes swab COVID-19
Baca juga: Laman Lawan COVID-19 diluncurkan di Surabaya

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Masjid Agung Al-Barqah di Bekasi gelar Shalat Jumat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar