Sektor UMKM berpeluang ciptakan 2 juta agropreneur baru

Sektor UMKM berpeluang ciptakan 2 juta agropreneur baru

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki (kanan) bersama Praktisi Koperasi dan Ekonomi Kerakyatan Frans Meroga Panggabean. ANTARA/HO Kemenkop dan UKM/am.

pandemi COVID-19 bisa menjadi titik balik dimulainya UMKM untuk fokus menekan impor atas barang konsumsi terutama hasil pertanian.
Jakarta (ANTARA) - Sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) dinilai berpeluang untuk menciptakan 2 juta agropreneur atau wirausaha di bidang pertanian baru di tengah terkendalanya arus masuk produk pangan impor akibat pandemi COVID-19.

Pengamat ekonomi Frans Meroga Panggabean di Jakarta, Jumat, mengatakan pandemi COVID-19 bisa menjadi titik balik dimulainya UMKM untuk fokus menekan impor atas barang konsumsi terutama hasil pertanian.

“Terkendalanya aktivitas ekspor dan impor global dalam masa pandemi, ini adalah peluang bagi UMKM,” katanya.

Baca juga: Presiden Jokowi minta UMKM dapat insentif cegah PHK dampak COVID-19

Berdasarkan data BPS, Indonesia mengimpor barang konsumsi hasil pertanian hingga 10 miliar dolar AS sepanjang 2019 atau sebesar Rp140 triliun.

“Bila produk UMKM dapat berorientasi subtitusi impor,  sama artinya mencetak minimal 2 juta orang agropreneur baru," ujar Frans.

Ia menjelaskan langkah ini juga akan mencetak lapangan pekerjaan baru, menekan angka kemiskinan, serta diyakini mengatasi defisit neraca perdagangan, bahkan juga momentum kebangkitan kedaulatan pangan nasional.

Frans yang juga Ketua Pengembangan Organisasi & Usaha Visi Indonesia Unggul (VIU) ini menambahkan bahkan UMKM misalnya dapat menggarap peluang pasar produk pertanian herbal seperti empon-empon.

"Bayangkan bila seluruh 250 juta rakyat Indonesia rutin konsumsi setiap hari jamu ramuan jahe, temulawak, kunyit, dan serai. Itu minimal kebutuhan nasional atas empon-empon mencapai 2 juta ton untuk setiap jenis rempah tersebut," kata lulusan MBA dari Universite de Grenoble, Prancis itu.

Ia mencontohkan, untuk 4 jenis rimpang (jahe, kunyit, serai, dan temulawak) kebutuhannya mencapai 8 juta ton untuk pasar domestik.

“Nilai uangnya setara Rp70 triliun, ini berarti tambahan lagi dapat mencetak 1 juta orang agropreneur baru,” katanya.

Baca juga: Presiden perintahkan restrukturisasi kredit UMKM redam dampak COVID-19

Ia juga mengajak masyarakat agar tetap optimistis bahwa Indonesia bisa menghadapi pandemi dan bahkan mengambil peluang dari musibah global ini.

"Seluruh masyarakat Indonesia harus bersatu saling menguatkan dan gotong royong dalam melewati cobaan. Kita selalu percaya bahwa di balik setiap krisis pasti ada hikmah dan peluang yang bisa dirubah menjadi keuntungan," kata Wakil Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Nasari ini.
 

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kilas NusAntara Sore

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar