Kelompok penyakit penyerta dominasi kematian COVID-19, kata Dekan FKUI

Kelompok penyakit penyerta dominasi kematian COVID-19, kata Dekan FKUI

Petugas memeriksa suhu tubuh pengunjung di RS Pelni Jakarta. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Boleh saya simpulkan pada kasus ini umumnya pasien-pasien dengan penyakit penyerta,
Jakarta (ANTARA) - Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Dr Ari Fahrial Syam mengatakan kelompok masyarakat yang memiliki penyakit penyerta saat ini mendominasi angka kematian yang cukup besar akibat virus corona atau COVID-19.

"Boleh saya simpulkan pada kasus ini umumnya pasien-pasien dengan penyakit penyerta," kata dia saat konferensi pers dalam jaringan (daring) di Jakarta, Jumat.

Melihat tren yang terjadi, lanjut Ari, semakin tinggi usia seseorang maka kemungkinan risiko terpapar virus corona menjadi lebih tinggi.

Apalagi orang yang sudah berusia 60 tahun ke atas disertai penyakit penyerta misalnya kencing manis. Akibatnya, risiko komplikasi juga semakin tinggi.

"Jadi ini yang perlu diperhatikan masyarakat. Terakhir ada yang disebutkan memiliki penyakit penyerta paru obstruktif kronis yang berhubungan dengan rokok," kata dia.

Melihat kondisi saat ini, ia mengimbau orang yang termasuk dalam kelompok rentan tersebut sebaiknya tetap berada di rumah. Karena, dikhawatirkan saat mereka berada di luar rumah malah berinteraksi dengan orang yang positif COVID-19 namun tanpa gejala sehingga bisa terinfeksi.

Pada kesempatan itu, ia juga mengingatkan bahwa tingkat penyebaran virus asal China tersebut tergolong tinggi dari satu orang ke orang lain.

Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 hingga jumat (20/3) sebanyak 369 positif COVID-19, 32 orang meninggal dan 17 orang sembuh.

Terpisah, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa pemerintah mulai melakukan pemeriksaan cepat COVID-19 secara massal pada Jumat (20/3) sore di daerah yang menurut hasil pemetaan paling rawan menghadapi penularan penyakit yang disebabkan oleh virus corona tipe baru tersebut.

"Hari ini pemerintah sudah mulai rapid test (pemeriksaan cepat) sebagai indikasi awal apakah seseorang terjangkit COVID-19 atau tidak. Pemerintah memprioritaskan wilayah yang menurut hasil pemetaan menunjukkan paling rawan COVID-19," katanya.

Baca juga: Pemerintah siapkan 1 juta kit periksa 700 ribu orang berisiko COVID-19
Baca juga: Jubir pemerintah: Positif COVID-19 belum tentu perlu dirawat di RS

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Libur panjang, epidemiolog UI sarankan hindari zona merah

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar