Bogor (ANTARA News) - Kebersahajaan sikap dan rekam jejak bersih Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mulai mendapat perhatian sejumlah kiai, sebutan untuk alim-ulama di Madura, Jawa Timur (Jatim), yang menyatakan dukungannya kepada HNW sebagai calon presiden (Capres) pada Pemilu 2009.

"Perilakunya (HNW-red) bersahaja, `track-record` bersih, (pemimpin seperti) itu yang dibutuhkan bangsa kita," kata KH Hamzah Amjad Al-Munawir, pengasuh pondok pesantren (Ponpes) Al-Muhajirin Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan.

Penjelasan itu disampaikan Drs Sapto Waluyo, MSc, calon anggota legislatif (Caleg) DPR dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk Dapil Jatim 11 (wilayah Madura) melalui pesan singkat (SMS) kepada ANTARA di Bogor, Sabtu, usai berkunjung ke Ponpes tersebut.

"Beliau (KH Hamzah Amjad) bahkan menyatakan mendukung 100 persen HNW menjadi Capres di Pemilu 2009," katanya.

Kenyataan itu, kata dia, juga menunjukkan bahwa kini dukungan kepada PKS juga semakin luas di "Pulau Garam" itu, seiring dengan mulai pupusnya fitnah selama ini yang ditujukan yakni PKS membawa aliran Wahabisme.

Ia juga menjelaskan bahwa pada Minggu (5/4), HNW juga akan bersilaturahmi ke Ponpes Arosbaya dan bertemu dengan Bupati Bangkalan RKH Fuad Amin Imron, usai kampanye puncak di Surabaya.

Menurut Sapto Waluyo -- yang juga anggota Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS--dukungan serupa juga diberikan KH Abdul Hamid dari Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan.

Namun, karena Kiai Hamid sedang sakit maka Caleg PKS itu ditemui putranya RA Thohir. "Abah (KH Abdul Hamid-red) kenal Pak Hidayat sejak lama ketika kuliah di Tanah Suci Mekah," katanya.

"(Pesan Abah) kini saatnya kita pilih pemimpin yang moralitas dan integritasnya jelas. Banyak orang yang pintar, tapi sedikit yang berintegritas, dan HNW adalah salah satunya," tambah RA Thohir mengutip pesan ayahandanya.

Sapto mengatakan bahwa perluasan basis sosial-tradisional yang menjadi garis kebijakan dalam falsafah dasar dan platform Kebijakan pembangunan PKS mulai mendapatkan dukungan kalangan kiai muda dari Nahdlatul Ulama (NU) di Madura.

Dalam kaitan itu, maka tokoh muda NU yang tergabung dalam PKS tak hanya berstatus penggembira, namun menempati posisi strategis dalam daftar calon legislatif (Caleg), seperti di DPRD II di sejumlah kabupaten.

Ia mengatakan, dukungan kiai muda dari kalangan "nahdliyyin" --sebutan populer untuk warga NU itu-- muncul dari kenyataan bahwa PKS hadir untuk kepentingan seluruh umat dan bangsa.

Dikemukakannya bahwa mungkin pada awalnya PKS hanya didukung kalangan muda perkotaan dan terpelajar. "Namun saat ini setelah 10 tahun berkiprah, dukungan meluas hingga pelosok desa dan kota," kata Sapto Waluyo, lulusan jurusan Hubungan Internasional Fisip Universitas Airlangga (Unair) itu.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009