Artikel

Menilik integrasi dengan kehadiran MRT Jakarta

Oleh Livia Kristianti

Menilik integrasi dengan kehadiran MRT Jakarta

Rangkaian kereta MRT melintas di bawah Halte Transjakarta Centrale Stichting Wederopbouw (CSW) koridor 13 di Jakarta, Selasa (31/12/2019). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.)

Hari ini sebuah peradaban baru akan kita mulai
Jakarta (ANTARA) - "Hari ini sebuah peradaban baru akan kita mulai, yaitu dengan dioperasikannya MRT di DKI Jakarta, fase pertama," kata Presiden Joko Widodo setahun lalu saat menyambut pengoperasian Moda Raya Terpadu (MRT) di Bundaran HI.

Peradaban baru yang disebut Presiden Jokowi dalam sambutannya pun terwujud. Dalam kurun waktu setahun, MRT Jakarta fase pertama melayani setidaknya seratus ribu penumpang per hari.

Kemunculan MRT membawa angin segar bagi pengguna transportasi umum. Bahkan, semakin banyak masyarakat yang beralih ke angkutan umum.

Tidak hanya MRT, layanan transportasi umum lain di Ibu Kota seperti Bus Rapid Transit (BRT) dan mikrotrans besutan TransJakarta, Light Rail Transit (LRT), hingga Kereta Rel Listrik (KRL) milik Kereta Commuter Indonesia turut mengalami peningkatan penumpang.

Kenaikan jumlah penumpang transportasi umum di masing-masing layanan moda transportasi tidak lepas dari sistem bernama integrasi.

Dalam sistem integrasi, penyatuan fisik antar layanan hingga cara pembayaran terus dikembangkan para pengelola layanan transportasi publik itu.

PT MRT Jakarta juga telah menyiapkan pembayaran terintegrasi antar transportasi umum dengan medium kartu uang elektronik untuk wilayah DKI Jakarta.

"Nanti kartu jelajah jadinya akan bisa dipakai di KCI, begitupun kartu KCI bisa dipakai di MRT. Juga kartu jelajah bisa dipakai di TransJakarta sama LRT," kata Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar dalam kunjungannya ke Kantor Berita ANTARA, Kamis (13/2).

Meski demikian rencana itu masih dalam pengembangan karena banyak yang harus disesuaikan untuk mewujudkan implementasi program tersebut.

Baca juga: Setahun MRT sebagai keajaiban di Jakarta

"Karena untuk kartu banyak instrumennya yang harus disesuaikan. Misalnya 'gate tapping'-nya harus kami sesuaikan," kata William.

Saat ini koordinasi masih dilakukan antara pihak MRT Jakarta dan KCI dengan target pengimplementasian Januari 2022.

Selain integrasi pembayaran menggunakan satu kartu untuk berbagai layanan, MRT Jakarta juga dalam tahap penyempurnaan pembayaran menggunakan sistem tanpa kartu atau QR Code.

Untuk MRT Jakarta, William optimistis dapat merilis pembayaran tarif MRT menggunakan QR Code pada 2020.

Terkait integrasi, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga telah menyatakan bahwa pembangunan semua stasiun MRT fase 2 dirancang untuk terintegrasi dengan berbagai moda transportasi umum di Jakarta.

Anies yang merupakan mantan Menteri Pendidikan tersebut mengatakan integrasi MRT itu, mulai dari TransJakarta, hingga kereta ringan LRT.

"Jadi fase 2 ini semua stasiun didesain untuk bisa terintegrasi dengan moda transportasi umum lain. Sekarang, semuanya sudah dirancang untuk terintegrasi. Dan ini akan dilakukan untuk seluruh pembangunan transportasi umum, MRT maupun BRT, maupun LRT sebagai satu kesatuan," kata Anies saat hadiri penandatanganan kontrak kerja paket MRT CP 201 di Stasiun Bundaran HI, Jakarta, Senin (17/2).

Menurut Anies, sudah cukup bagi Jakarta untuk pembangunan transportasi yang tidak saling terintegrasi dengan moda lainnya.

Contohnya, kata dia, pembangunan jalur TransJakarta koridor 13 yang tak terintegrasi dengan jalur MRT Lebak Bulus-Bundaran HI. Padahal kedua moda tersebut seharusnya bisa saling terintegrasi mengingat keduanya merupakan proyek milik Pemprov DKI Jakarta.

Proyek fase 2A MRT itu sendiri akan dimulai dengan rute dari Stasiun Bundaran HI hingga Stasiun Kota dengan total panjang jalur enam kilometer dan terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah yaitu Stasiun Thamrin, Stasiun Monas, Stasiun Harmoni, Stasiun Sawah Besar, Stasiun Mangga Besar, Stasiun Glodok dan Stasiun Kota.

Jak Lingko
Bus TransJakarta melintas di bawah Halte TransJakarta Centrale Stichting Wederopbouw (CSW) koridor 13 di Jakarta, Selasa (31/12/2019). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.)


Masih terkait dengan penerapan konsep terintegrasi, secara khusus Jakarta memiliki program unggulan untuk integrasi layanan transportasi bernama Jak Lingko.

Jak Lingko kerap dianggap masyarakat sebagai kartu pembayaran transportasi umum. Namun, lebih dari itu, Jak Lingko berperan sebagai gerbang menuju kota berkelanjutan, yaitu integrasi transportasi di berbagai jalur di Ibu Kota.

Jak Lingko dicetuskan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menggantikan program lama OK-Otrip yang digagas Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Lewat Jak Lingko, Anies tidak hanya membuat perubahan dalam hal skema pembayaran, tetapi juga memperbarui rute dan mengintegrasikan layanan antara angkot dengan layanan bus milik TransJakarta.

Ketika LRT dan MRT Jakarta muncul, Anies menggabungkan layanan berbasis rel itu sebagai keluarga dari layanan Jak Lingko, dengan satu tujuan melayani masyarakat melalui integrasi transportasi.

"Tujuan awalnya (Jak Lingko) memang untuk menyatukan layanan tiga moda, yaitu MRT, LRT, dan TransJakarta menjadi terintegrasi mulai dari integrasi fisik sampai pembayaran," ujar (Plt) Direktur Utama TransJakarta Yoga Adiwinato saat ditemui ANTARA.

Bukti integrasi pertama yang dilakukan para penyedia jasa moda transportasi umum itu adalah penyatuan stasiun serta halte.

Baca juga: DPRD DKI sebut Jak Lingko belum optimal

"Contohnya integrasi dengan MRT, halte TransJakarta yang langsung terintegrasi ada di dua tempat, yaitu di Stasiun Lebak Bulus dan Stasiun Bundaran HI," kata Yoga.

Menurut rencana, integrasi fisik dalam Jak Lingko juga kelak akan dirasakan masyarakat dengan terhubungnya Halte CSW dan Stasiun ASEAN.

Selain integrasi fisik, integrasi layanan juga menjadi faktor yang diperhitungkan dalam Jak Lingko.
Lewat Jak Lingko, TransJakarta menghadirkan layanan mikrotrans yang menjangkau pelosok yang tak tersentuh MRT, LRT, dan bus ukuran besar.

Tujuannya untuk menghadirkan pengalaman 'first mile-last mile' (mil pertama-mil terakhir) sehingga masyarakat lebih tertarik menggunakan angkutan umum dibanding kendaraan pribadi.

"Tantangan yang harus kami jawab bagaimana menyediakan layanan dari depan rumah pengguna layanan transportasi menuju layanan transportasi. Kami pilih layanan yang bisa menjangkau pelosok sehingga tercetuslah mikrotrans. Dikenallah integrasi layanan melalui mikrotrans itu," ujar Yoga.

Terakhir adalah integrasi pembayaran yang masih terus dikembangkan setiap pengelola moda transportasi.

Hingga saat ini, contoh integrasi pembayaran yang berhasil terwujud adalah pembayaran antara mikrotrans dan Bus TransJakarta.

Oleh Livia Kristianti
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kartu Multi Trip MRT Jakarta miliki tiga keunggulan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar