ACB: Air dan keanekaragaman hayati tak terpisahkan

ACB: Air dan keanekaragaman hayati tak terpisahkan

Arsip foto. Sejumlah anak mengumpulkan air bersih menggunakan jeriken di bak penampungan di kampung adat Prai Ijing, Desa Tebara, Waikabubak, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, Selasa (27/8/2019), saat musim kemarau. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc.

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Pusat Keanekaragaman Hayati ASEAN (ASEAN Center for Biodiversity/ACB) Dr Theresa Mundita S Lim mengingatkan kembali hubungan erat antara keberadaan keanekaragaman hayati dan ketersediaan air tepat di peringatan Hari Air Sedunia.

“Hari ini, karena ASEAN Center for Biodiversity bergabung dengan komunitas internasional merayakan Hari Air Sedunia dengan fokus pada bagaimana air dapat membantu memitigasi dampak perubahan iklim, kami mengambil kesempatan ini untuk menekankan hubungan keanekaragaman hayati dan air yang tak terpisahkan,” kata Lim dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu.

Lim mengatakan sementara sumber daya air tawar yang melimpah di kawasan ASEAN beruntung mendapatkan 9,5 persen dari total curah hujan global, ketersediaan air sebagian besar tentu dipengaruhi oleh perubahan musim dan kenaikan suhu global.

Semakin meningkatnya kebutuhan air untuk penggunaan pertanian, industri, dan kebutuhan domestik dari populasi ASEAN yang terus bertambah juga menimbulkan ancaman bagi perairan daratan kawasan tersebut, yang pada dasarnya membahayakan pasokan air.

Menurut Lim, untuk kawasan Asia Tenggara, Konvensi Ramsar tentang Lahan Basah dan Kemitraan Jalur Terbang Asia Timur-Australasia memegang peran penting dalam konservasi perairan darat.

Saat ini, di kawasan ASEAN terdapat 54 situs Ramsar seluas 25.160 kilometer persegi (km2).

Dalam hal luasannya, Indonesia memiliki area lahan basah terluas mencapai 13.730 km2, diikuti Thailand mencapai 3.997 km2, dan Filipina mencapai 2.440 km2.

Anggota negara ASEAN, menurut dia, mengakui nilai ekosistem yang kuat untuk memenuhi kebutuhan air di kawasan.

Dengan demikian penting untuk mengintegrasikan langkah-langkah pengelolaan sumber daya berkelanjutan ke dalam strategi dan rencana aksi keanekaragaman hayati nasional masing-masing.

ACB, menurut Lim, telah memobilisasi inisiatif lintas sektor dan mengumpulkan peran serta pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa target keanekaragaman hayati berada dalam jangkauan.

Meskipun perkembangan dalam meningkatkan area perlindungan telah dibuat dalam beberapa tahun terakhir, ada kebutuhan untuk mengubah area perlindungan individual ke dalam jaringan area dilindungi untuk menaikkan efektivitas spesies dan konservasi habitat yang sesuai.

Kearifan lokal, menurut dia, merupakan elemen penting dalam manajemen sumber daya berbasis masyarakat yang efektif.

Baca juga: Hari Air Sedunia: Pandemi COVID-19 makin tunjukkan air bersih krusial
Baca juga: USAID-pemerintah gaungkan menabung air jelang Hari Air Sedunia

 

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar