Semua perjalanan antarkota dilarang dan mereka yang melanggar aturan itu akan dihukum
Dubai (ANTARA) - Iran kemungkinan menghadapi gelombang kedua wabah virus corona dan pemerintah akan menerapkan langkah tegas saat jumlah kematian di negara itu meningkat menjadi 2.077.

Juru bicara pemerintah Ali Rabiei mengatakan, Rabu, Iran kemungkinan akan mengalami gelombang kedua virus corona karena tidak sedikit warga Iran yang tidak mematuhi anjuran otoritas kesehatan untuk menghentikan penyebaran virus di negara itu.

"Sayangnya, beberapa warga Iran mengabaikan saran dari para pejabat kementerian kesehatan dan masih saja bepergian selama hari libur Tahun Baru (Iran) ... Ini bisa menyebabkan gelombang kedua virus corona," kata Rabie, seperti dilaporkan stasiun televisi negara.

"Semua perjalanan antarkota dilarang dan mereka yang melanggar aturan itu akan dihukum."

Baca juga: Setiap 10 menit, satu orang meninggal di Iran karena COVID-19
Baca juga: Atasi corona, Menlu Iran desak dunia untuk lawan unilateralisme AS


Iran berencana melarang perjalanan dalam rangka Tahun Baru Iran serta acara pertemuan tradisional di taman-taman, kata Presiden Hassan Rouhani, Rabu. Rouhani mengatakan larangan akan lebih banyak diberlakukan demi membendung penyebaran virus corona baru, yang telah menjangkiti 27.017 orang di seluruh negeri.

Sejauh ini, pemerintah menolak menerapkan lockdown (karantina wilayah) di kota-kota Iran.

"Rencana ini ketat dan akan menimbulkan kesulitan serta pembatasan perjalanan dan memaksa orang-orang yang sudah telanjur berangkat untuk pulang lebih cepat," kata Rouhani dalam pidato yang disiarkan televisi negara.

Ia mengatakan langkah-langkah baru itu akan diterapkan selama 15 hari, mulai Rabu hingga 4 April.

Nowruz, atau "hari baru" dalam Bahasa Persia, adalah perayaan Tahun Baru dan telah menjadi tanggal paling penting dalam kalender. Selama perayaan itu, keluarga-keluarga berkumpul dan bertukar kado.

Pejabat kementerian kesehatan, Kianush Jahanpur, mengatakan pada Rabu bahwa wabah virus corona di Iran sudah membunuh 2.077 orang, yang 143 di antaranya terjadi dalam 24 jam terakhir ini.

Sumber: Reuters

Baca juga: Iran minta AS cabut sanksi karena persulit penanganan pandemi COVID-19
Baca juga: Khamenei sebut sanksi AS memaksa Iran menjadi "mandiri"


Penerjemah: Tia Mutiasari
Editor: Mulyo Sunyoto
Copyright © ANTARA 2020