Harga minyak menetap lebih tinggi didukung paket paket stimulus AS

Harga minyak menetap lebih tinggi didukung paket paket stimulus AS

ILUSTRASI: Harga minyak dunia naik. ANTARA/Shutterstock/am.

New York (ANTARA) - Harga minyak mentah AS menetap lebih tinggi pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), didukung oleh kemajuan pada paket stimulus ekonomi AS yang tertunda, bahkan ketika data pemerintah menunjukkan pandemi virus corona mulai mengurangi permintaan bahan bakar AS minggu lalu.

Permintaan akan produk minyak, terutama bahan bakar jet, turun secara dramatis ketika pemerintah secara global mengumumkan penutupan secara nasional untuk memperlambat penyebaran virus corona.

Permintaan bahan bakar diperkirakan akan turun tajam di seluruh dunia pada kuartal kedua dengan sebagian besar penerbangan terhenti dan perjalanan darat sangat dibatasi. Baru-baru ini, India, negara terpadat kedua di dunia dan konsumen minyak terbesar ketiga, memasuki penutupan selama 21 hari.

Produk bensin mingguan AS yang dipasok - proksi untuk permintaan - turun 859.000 barel per hari (bph) menjadi 8,8 juta barel per hari pekan lalu, penurunan satu minggu terbesar sejak September 2019, menurut Badani Informasi Energi AS (EIA). Permintaan bahan bakar secara keseluruhan turun hampir 2,1 juta barel per hari selama seminggu.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 0,48 dolar AS atau 2,0 persen, menjadi menetap pada 24,49 dolar AS per barel. Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik 0,24 dolar AS atau 0,9 persen menjadi ditutup pada 27,39 dolar AS per barel.

Para senator AS dan pejabat pemerintah Trump telah mencapai kesepakatan tentang RUU stimulus dua triliun dolar AS yang diperkirakan akan disahkan Kongres pada Rabu (25/3) membantu meningkatkan pasar.

Kepala eksekutif pedagang minyak terbesar dunia, Vitol Group, memperkirakan kehilangan permintaan 15 juta hingga 20 juta barel per hari (bph) selama beberapa minggu ke depan.

Sektor energi AS memangkas pengeluaran modal dan pekerjaan, dengan pengeluaran modal di sebagian besar perusahaan minyak serpih diperkirakan turun sedikitnya 30 persen.

Prospek telah berubah "sangat pesimis" di tengah pandemi virus corona, sebuah survei terhadap perusahaan-perusahaan minyak dan gas oleh Dallas Federal Reserve Bank menunjukkan pada Rabu (25/3). Fed Dallas mengatakan indeks aktivitas bisnisnya anjlok dari -4,2 pada kuartal keempat menjadi -50,9 pada kuartal pertama, angka terendah dalam sejarah empat tahun survei.

“Kami memasuki harga energi terburuk dalam seumur hidup saya,” kata seorang responden. Yang lain mengatakan mereka dalam "mode bertahan hidup sekarang."

Persediaan minyak mentah naik 1,6 juta barel dalam minggu terakhir, kata EIA. Persediaan, telah meningkat selama sembilan minggu berturut-turut, diperkirakan akan terus tumbuh karena permintaan bahan bakar menurun dan kilang-kilang mengurangi kembali aktifitasnya.

Harga minyak telah turun lebih dari 45 persen bulan ini setelah OPEC+, yang terdiri dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lain, termasuk Rusia, gagal menyetujui perpanjangan pemangkasan produksi.

"Ini mengingatkan saya pada akibat dari jatuhnya harga 1998 dan apa yang terjadi pada kapasitas produksi kami untuk dekade berikutnya," kata John Kilduff, seorang mitra di Again Capital Management di New York.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

KPBB menilai harga BBM terlalu mahal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar