WHO minta negara gunakan waktu saat "lockdown" untuk menyerang virus

WHO minta negara gunakan waktu saat "lockdown" untuk menyerang virus

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memberi info perkembangan terbaru situasi wabah Covid-19 di Jenewa, Swiss (24/2/2020). ANTARA/REUTERS/Denis Balibouse/aa.

Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta setiap negara untuk menggunakan waktu pada saat lockdown atau di masa orang-orang tidak ke luar rumah untuk menyerang balik virus corona baru COVID-19.

"Kami menyerukan kepada semua negara yang telah memperkenalkan langkah 'lockdown' untuk menggunakan saat sekarang untuk menyerang virus," kata Tedros dalam keterangan kepada media seperti dikutip di laman resmi WHO di Jakarta, Kamis.

Tedros menyadari saat ini banyak negara menerapkan langkah lockdown atau penutupan akses ke luar dan masuk suatu daerah atau negara agar tidak terjadi penyebaran penularan.

Baca juga: Konsorsium COVID-19 akan kembangkan alat deteksi, obat, dan vaksin

Dia mengatakan langkah untuk meminta masyarakat tetap di rumah dan membatasi pergerakan masyarakat dengan menutup sejumlah fasilitas publik bisa membantu mengulur waktu dan mengurangi beban tenaga medis di fasilitas kesehatan. Namun Tedros menegaskan bila hanya itu yang dilakukan tidak akan bisa mengalahkan virus.

"Tapi jika hanya itu, langkah-langkah ini tidak akan memadamkan epidemi," kata Tedros.

Dia menyebut tujuan dari langkah pembatasan interaksi fisik atau juga lockdown bertujuan agar memungkinkan tindakan yang lebih tepat dan terarah untuk menghentikan penularan virus dan menyelamatkan nyawa seseorang.

Oleh karena itu di saat banyak orang berdiam diri di rumah, pemerintah memiliki kesempatan untuk melakukan beberapa langkah agresif untuk menyerang balik virus. Tedros merekomdendasikan enam langkah yang harus dilakukan oleh semua negara.

Yang pertama, Tedros meminta kepada tiap negara untuk menambah, melatih, dan memanfaatkan sumber daya kesehatan yang ada. Baik tenaga medis maupun tenaga kesehatan masyarakat.

Baca juga: Sidoarjo rawat 4 pasien positif terinfeksi virus corona

Kedua, implementasikan sebuah sistem yang bisa menemukan setiap kasus yang dicurigai terjadi di tingkat masyarakat. Ketiga, meningkatkan produksi, kapasitas, serta ketersediaan sarana dan prasarana pengujian spesimen.

Selanjutnya yang keempat ialah mengidentifikasi fasilitas yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk merawat dan isolasi pasien, kemudian menyesuaikan dan melengkapinya dengan fasilitas kesehatan. Kelima, kembangkan rencana dan proses yang jelas untuk mengkarantina orang-orang yang memiliki riwayat kontak dengan pasien positif.

Dan yang keenam, memfokuskan kembali seluruh elemen pemerintah untuk menekan dan mengendalikan virus COVID-19.

Langkah-langkah tersebut, kata Tedros, adalah cara terbaik untuk menekan laju virus dan menghentikan penularan. Sehingga ketika pembatasan jarak fisik dan jarak sosial dicabut, virus tidak akan muncul kembali.

Tindakan yang agresif untuk mencari kasus, mengisolasi, melakukan pemeriksaan, merawat pasien dan melacak riwayat kontak bukan hanya cara terbaik dan tercepat untuk menghentikan pembatasan sosial dan ekonomi yang ekstrim, tapi cara itu juga bisa mencegah terjadinya pembatasan sosial dan ekonomi tersebut.

Hingga saat ini jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia mencapai 893 orang atau bertambah 103 orang dari total 790 kasus per hari kemarin. Jumlah kasus yang sembuh bertambah empat menjadi 35 orang sementara kasus meninggal bertambah 20 sehingga total kasus meninggal akibat COVID-19 menjadi 78 orang.

Baca juga: Sandiaga ajak pemerintah galakkan APD buatan Indonesia
Baca juga: Gaji PM dan menteri Malaysia dipotong dua bulan untuk COVID-19
Baca juga: Dubes AS: China bahayakan dunia karena sembunyikan informasi corona

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Gaji PNS Lumajang dipotong untuk penanganan wabah corona

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar