Gubenur Meksiko: "orang miskin" kebal virus corona

Gubenur Meksiko: "orang miskin" kebal virus corona

Imigran yang memohon visa kerja di Amerika Serikat difoto setelah ditangkap dari kamar hotel mereka, yang menurut keterangan pihak berwenang sangat padat, sebagai bentuk pencegahan penularan virus COVID-19, di Monterrey, Meksiko, Selasa (24/3/2020). (REUTERS/DANIEL BECERRIL)

Jika anda kaya maka anda berisiko. Jika miskin tidak. Orang miskin kebal
Queretaro (ANTARA) - Gubernur negara bagian di Meksiko memicu kehebohan di negara tersebut dengan menyebutkan bahwa "orang miskin" kebal terhadap virus corona.

Gubernur Puebla, Luis Miguel Barbosa, saat konferensi pers awal pekan ini mengatakan bahwa orang miskin di Meksiko seharusnya tidak khawatir soal pandemi global.

"Jika anda kaya maka anda berisiko. Jika miskin tidak. Orang miskin kebal," ucapnya.

Tak ada yang mendukung istilah bahwa hanya orang kaya yang berisiko virus corona. Gubernur mengatakan mereka yang bepergian bisa lebih berisiko terpapar COVID-19 dan ia mengkaitkan kemampuan melakukan perjalanan dengan mereka yang kaya. Ia lantas berasumsi bahwa orang miskin tidak berisiko.

Gubernur merupakan "morenista" atau anggota partai yang sama seperti Presiden Andres Manuel Lopez Obrador yakni partai National Regeneration Movement (MORENA).

Presiden dikritik karena pendekatannya yang santai, dan ia, seperti Barbosa, yang membuat pengakuan meragukan.

Belum genap sepekan presiden mengatakan orang Meksiko "sangat tahan banting" karena budaya mereka, tampaknya menunjukkan bahwa orang Meksiko akan lebih baik dari negara lain yang terjangkit virus corona berkat akar "kuno" mereka.

Selain itu, ia juga mengatakan kepada warga agar tetap makan di restoran dengan keluarga mereka guna membantu perekonomian dan tidak "lebay" dengan situasi yang ada.

Sementara itu seluruh negara di dunia sedang memberlakukan karantina wajib.

Di Meksiko kini tercatat sekitar 475 kasus virus corona. Para ahli meyakini bahwa jumlah tersebut jauh lebih banyak sebab rumah sakit umum menolak untuk memeriksa pasien dengan gejala.

Pertama kalinya muncul di Wuhan di China tengah pada Desember, virus corona alias COVID-19, telah menjangkit sedikitnya 175 negara dan kawasan, menurut data yang dihimpun oleh Johns Hopkins University yang berbasis di AS.

Lebih dari 531.000 kasus dilaporkan secara global dengan jumlah kematian melebihi 24.000 dan lebih dari 122.000 orang dinyatakan sembuh.

Kendati jumlah kasus meningkat, kebanyakan orang yang tertular virus hanya mengalami gejala ringan sebelum akhirnya dinyatakan pulih.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Meksiko bergelut dengan COVID-19 di tengah masalah obesitas, diabetes
Baca juga: Antrean warga yang ingin tes corona mengular di Mexico City
Baca juga: Amerika Latin perketat pengawasan COVID-19 dengan militer, jam malam

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Azis Kurmala
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar