Ahli: Asupan air tetap dapat terpenuhi selama berpuasa

Ahli: Asupan air tetap dapat terpenuhi selama berpuasa

Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Ali Khomsan. (ANTARA/Istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Ali Khomsan mengatakan asupan air dalam tubuh seseorang akan tetap dapat terpenuhi selama berpuasa sehingga tidak perlu cemas kekurangan cairan apabila COVID-19 masih mewabah hingga Ramadhan.

"Sebenarnya ketika puasa itu yang berkurang terutama adalah asupan kalori, tapi kalau asupan air harusnya tidak terlalu sulit untuk dipenuhi," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Hal tersebut disampaikan terkait anjuran banyak minum air putih untuk mencegah COVID-19 serta mengingat sekitar satu bulan lagi umat Muslim menjalankan ibadah puasa sehingga tidak dapat minum di siang hari.

Baca juga: Mandi air hangat saat puasa percepat kehilangan cairan tubuh

Baca juga: Agar tak kembung dan dehidrasi saat Ramadhan, begini atur waktu minum


Kebutuhan asupan air dapat terpenuhi saat sahur dan berbuka. Misalnya, saat seseorang bangun tidur menjelang sahur, ia bisa minum satu gelas. Kemudian, setelah makan sahur minum satu gelas air dan sebelum imsak juga minum satu gelas lagi.

"Itu sudah dapat tiga gelas. Sisanya nanti setelah kita berbuka puasa tentunya kita lebih leluasa untuk minum dibandingkan pada saat sahur," katanya.

Dengan pola tersebut seharusnya tidak ada kendala berarti dalam memenuhi asupan cairan saat seseorang menjalankan ibadah puasa.

Selain dengan minum air putih, ia juga menyarankan agar masyarakat banyak mengonsumsi sayuran berkuah selama bulan Ramadan sehingga dapat menambah asupan cairan bagi tubuh.

"Jadi tidak hanya sekadar makanan yang kering saja, melainkan berkuah," ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga dianjurkan untuk banyak mengonsumsi sayuran dan buah yang kaya vitamin C selama bulan puasa. Sebab, terkadang orang yang berpuasa mengalami tenggorokan kering dan radang. Sehingga, dengan mengonsumsi makanan tersebut bisa mengurangi peradangan di tenggorokan.

Terkait waktu makan saat berbuka puasa
sebaiknya dipercepat yakni benar-benar setelah shalat magrib, bukan malah setelah tarawih. Hal itu perlu diperhatikan karena dibutuhkan rentang waktu yang cukup antara makan dan tidur untuk proses pencernaan makanan.

"Sehingga kalau kita habis shalat magrib langsung makan berat, maka itu memberi kesempatan bagi tubuh mencerna makanan dengan baik," kata dia.*

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Ini anjuran ahli gizi soal makan sahur

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar