Praktisi: Berpikir positif selama tinggal di rumah baik bagi kesehatan

Praktisi: Berpikir positif selama tinggal di rumah baik bagi kesehatan

Warga Jakarta tetap berolahraga di trotoar Jendral Sudirman meski CFD ditiadakan untuk antisipasi penyebaran virus COVID- 19 di Jakarta, Minggu (15/3/2020). (ANTARA/Livia Kristianti)

banyak hoaks miliaran, tapi coba dengarkan nasehat yang bisa kita pegang
Jakarta (ANTARA) - Berpikir positif selama menjalankan 'social distancing' atau 'physical distancing' dengan tinggal dii rumah dapat membantu menjaga kesehatan, demikian dikatakan Praktisi yang juga Ketua Aliansi Telemedis Indonesia Prof. dr. Purnawan Junaidi, M.Ph., P.Hd.

"Makanya saya bilang, berpikir positif itu bagus, karena banyak hal yang bisa kita lakukan selama di rumah," katanya Prof Purnawan dalam dialog di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Minggu.

Dalam dialog yang dipandu oleh Emeldah seorang Psikolog Klinis dari Ikatan Psikolog Klinis dan Halodoc bertempat di kantor BNPB, Prof Purnawan memberikan kiat-kiat untuk menghalau kebosanan selama melakukan isolasi diri maupun 'physical distancing' di rumah yang sudah berjalan hampir dua pekan.

Menurut Prof Purnawan, agar tidak bosan menjalani hari-hari selama isolasi mandiri adalah dengan menjaga pikiran tetap positif, bertindak positif dan bersikap positif. "Sikap positif ini baik terutama bagi kelompok usia lanjut yang tidak memiliki aktivitas kerja sehari-hari di rumah."

Baca juga: Lawan COVID-19, Erick imbau masyarakat menjaga Indonesia dari rumah

Untuk menjaga pikiran tetap positif, salah satu caranya adalah menyaring informasi yang diterima tentang COVID-19, salah satunya dengan mendengarkan nasehat dan arahan dari pemerintah sebagai sumber terpercaya sehingga terhindar dari kabar-kabar bohong yang berseliwiran.

"Kita dengarkan nasehat dari pemerintah, banyak hoaks miliaran, tapi coba dengarkan nasehat yang bisa kita pegang salah satunya," kata Purnawan.

Untuk mendapatkan informasi yang benar, Purnawan menyarankan agar masyarakat mengikuti aplikasi kesehatan yang disediakan oleh 'start up' seperti Halodoc dan sebagainya.

Menurutnya, seluruh 'start up' telemedis tersebut telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan BNPB untuk membantu masyarakat mendapatkan informasi yang akurat tentang COVID-19.

"Karena saya Ketua Aliansi telemedis Indonesia ikuti saja seluruh 'start up' yang ada karena kita sudah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan juga dengan BNPB," katanya.

Emeldah seorang Psikolog Klinis dari Ikatan Psikolog Klinis dan juga anggota Halodoc menyebutkan, kecemasan yang dialami oleh masyarakat selama menjalani 'social distancing' atau 'physical distancing' adalah hal yang normal di situasi yang tidak normal seperti saat ini.

Menurut dia, situasi tersebut berdampak pada psikologis masyarakat menimbulkan rasa gelisah, hingga susah tidur dan sulit mengendalikan emosi, sampai suka marah-marah di rumah.

"Sebenarnya dengan gejala ini menurut kami adalah situasi yang normal dan itu adalah respon normal di kondisi yang tidak normal. Sekarang kita kondisi pandemi di seluruh dunia sedang terkena bencana alam jadi otomatis ada ketidakpastian ketakutan itu menimbulkan kecemasan," katanya.

Prof Purnawan menambahkan, untuk mencegah gangguan kesehatan yang ditimbulkan dari dampak 'social distancing' tersebut adalah dengan melakukan aktivitas positif lainnya.

"Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan di rumah, misalnya saya menanam pohon, menanam tanaman di perkarangan rumah," kata Purnawan.

Baca juga: Ekonom: solidaritas modal penting lawan COVID-19
 

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pemkot Tangerang sosialisasikan perpanjangan PSBB

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar