Pengusaha beras usulkan karantina wilayah ketimbang "lockdown"

Pengusaha beras usulkan karantina wilayah ketimbang "lockdown"

Pedagang sedang memeriksa beras di kiosnya di di Pasar Induk Beras Cipinang Jakarta, Senin (9/3/2020) (Antara/Putri Z Chairunisha)

sopir-sopir truk yang membawa beras takut bila statusnya ‘lockdown’, karena beras tidak akan masuk. Arus logistik jadi terganggu
Jakarta (ANTARA) - Para pengusaha beras yang tergabung dalam Perpadi (Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras) mengusulkan kepada Pemerintah agar lebih memilih opsi karantina wilayah ketimbang “lockdown”.

Wakil Ketua Umum Perpadi (Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras), Billy Haryanto, di Jakarta, Senin, mengatakan apabila pemerintah terpaksa melakukan karantina, sebaiknya yang dilakukan adalah karantina wilayah, bukan ”lockdown”.

Menurut Billy, dengan karantina wilayah, distribusi logistik seperti beras masih bisa terus berjalan.

"Sebaiknya karantina wilayah saja, karena distribusi beras masih bisa berjalan. Kalau ‘lockdown’, masyarakat tidak bisa kemana-mana dan di rumah saja," katanya.

Billy mengatakan bahwa karantina wilayah hanya membatasi pergerakan orang dari satu wilayah ke wilayah lainnya dan tidak membatasi pergerakan distribusi barang.

"Jadi di perbatasan wilayah nantinya para sopir truk yang membawa beras tinggal menunjukkan kartu pas," katanya.

Keberlangsungan pedagang beras menurut Billy menjadi penting di saat situasi “krisis” seperti sekarang ini. Karena peredaran beras di Jabodetabek 98 persen dipegang pelaku swasta. Selain itu banyak pekerja informal yang menggantungkan hidupnya dari distribusi beras.

"Kecuali Bulog yang dikelola BUMN yang pegang mau dilockdown juga engga masalah. Harus diingat, perhatikan kuli di pasar Cipinang rata-rata dari luar DKI, Serang, dan Karawang," katanya.

Berbeda apabila pemerintah memberlakukan “lockdown”, pengusaha beras di daerah tidak akan mengirimkan berasnya ke Jakarta. Karena mereka khawatir beras tidak akan masuk karena pemberlakuan karantina total. Selain itu, diksi “lockdown”, menurut Billy terkesan menakutkan bagi masyarakat

"’Lockdown’ kan dikunci total, sopir-sopir truk yang membawa beras takut bila statusnya ‘lockdown’, karena beras tidak akan masuk. Arus logistik jadi terganggu. Dan kalau dengar kata ‘lockdown’, masyarakat jadi takut," katanya.

Menurut dia distribusi beras menjadi sangat penting, karena di pasar induk beras Cipinang, ketersediaan beras hanya cukup untuk 25 hari ke depan.

"Stok beras di pasar induk Cipinang cukup untuk 25 hari," katanya.


Baca juga: Kapolres: Stok pangan Pasar Induk Beras Cipinang aman
Baca juga: Stok melimpah, omzet pedagang beras di Lebak anjlok 60 persen
Baca juga: Bulog jamin stok beras cukup selama masa penanganan COVID-19

 

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Erick Thohir minta pedagang tidak menjadi mafia perdagangan beras

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar