KKP genjot produksi udang nasional di tengah COVID-19

KKP genjot produksi udang nasional di tengah COVID-19

Ilustrasi - Aktivitas pembudidaya udang. ANTARA/HO-KKP

Kami akan pastikan bahwa supply benih dan juga ketersediaan pakan ikan terjamin dengan harga yang terjangkau
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong produktivitas budidaya seperti udang vaname di beberapa daerah, di tengah merebaknya COVID-19, sebagai upaya menjaga produktivitas sektor kelautan dan perikanan nasional.

"Kita punya target peningkatan ekspor udang sebesar 250 persen hingga tahun 2024. Artinya kita perlu optimalisasi lahan tambak yang ada. Daerah-daerah di kawasan pantai Selatan Jawa punya potensi besar untuk kita kembangkan menjadi sentral produksi udang," kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Namun, Slamet juga mengingatkan bahwa tentunya produksi perikanan budidaya komoditas udang juga harus pertimbangkan daya dukung lingkungannya yang ada di sekitar kawasan tambak.

Slamet mengaku sudah menyiapkan roadmap untuk lima tahun ke depan yang berisi strategi KKP dalam menggenjot produksi udang nasional.

Menurut Slamet, pihaknya bakal melakukan optimalisasi lahan tambak melalui pendekatan kawasan berbasis kawasan, di mana aspek keberlanjutannya bakal terjamin.

"Kami akan pastikan bahwa supply benih dan juga ketersediaan pakan ikan terjamin dengan harga yang terjangkau di masyarakat," kata Slamet.

Salah satu pengelola usaha budidaya udang, Dirut PT Kawan Kita Semua Dudi Hernawan mengatakan bahwa saat ini produksi udang cukup tinggi, dengan produktivitas rata-rata tambak yang dikelola mencapai 28 ton per hektare dengan size 20-25 ekor per kilogram

Sebagai informasi, PT Kawan Kita Semua mengelola tambak seluas 5 hektare tambak budidaya udang vaname dengan menerapkan teknologi intensif di kawasan Cidaun, Kabupaten Cianjur.

Dudi mengaku, wabah COVID-19 turut memicu penurunan harga udang di pasar, namun sejauh ini aktivitas ekspor masih cukup stabil sehingga aktivitas ekspor masih mereka jalankan.

"Namun karena situasi global ini sulit diprediksi tentu langkah antisipatif perlu dilakukan," katanya.

Dudi juga mengeluhkan kondisi pasar yang kurang menentu dan mengharapkan pemerintah hadir untuk dapat menyelesaikan masalah.

Sebagaimana diwartakan, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyatakan ke pengusaha udang, bahwa KKP tidak akan mengeluarkan regulasi yang semena-mena tetapi berdasarkan basis kajian ilmiah dan lebih mengutamakan kepentingan bersama.

Kendati akan mengevaluasi regulasi, Menteri Edhy mengingatkan agar para pelaku usaha juga memiliki komitmen dalam hal kelestarian, terutama udang. "Kalau Indonesia, semangat memilikinya ada. Ini semata-mata menjaga laut kita untuk lestari," ucapnya.

KKP sebelumnya menyebutkan target ekspor udang nasional naik 250 persen dalam kurun waktu empat tahun, dari 2020 hingga 2024.

Bila volume ekspor udang olahan pada 2018 145,226 ton, maka di 2024 menjadi 363,067 ton. Sedangkan produksi udang untuk bahan baku ekspor dari 197,433 ton pada 2018, menjadi 578,579 ton pada 2024.



Baca juga: Menteri Edhy ke pengusaha udang: Regulasi tidak akan semena-mena
Baca juga: Pemerintah bakal bentuk pokja peningkatan ekspor udang
Baca juga: KKP bakal kembangkan potensi tambak udang Indonesia tengah-timur

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Edhy Prabowo prioritaskan dana PEN untuk intensifikasi tambak udang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar