Begini upaya Kemenperin ringankan beban IKM akibat COVID-19

Begini upaya Kemenperin ringankan beban IKM akibat COVID-19

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih meninjau berbagai produk furnitur dan kerajinan hasil produksi industri kecil dan menengah (IKM) yang ditampilkan pada Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (Jiffina) 2020 di Jogja Expo Center, Bantul, Sabtu (14/3) (ANTARA/ Biro Humas Kementerian Perindustrian)

Kami kan kerja sama dengan Tokopedia, Shopee, Blibli, Bukalapak. Saya sudah menghubungi mereka.
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya meringankan beban Industri Kecil Menengah (IKM) akibat mewabahnya Virus Corona baru atau COVID-19 dengan mengidentifikasi permasalahan yang dialami dan berupaya mencarikan solusinya.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih menyampaikan tiga persoalan yang dihadapi IKM saat ini.

“Pertama pemasaran yang turun, kemudian sulitnya ketersediaan bahan baku, dan tenaga kerja yang banyak dirumahkan,” kata Gati saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Gati menyampaikan penjualan seluruh IKM rata-rata mengalami penurunan 50-70 persen akibat mewabahnya COVID-19 di Indonesia sejak awal Maret 2020. Untuk itu, pihaknya menggandeng pasar daring untuk turun ke lapangan dan mau membantu memasarkan produk-produk IKM yang sedang kehilangan pasar.

“Kami kan kerja sama dengan Tokopedia, Shopee, Blibli, Bukalapak. Saya sudah menghubungi mereka. Pada dasarnya mereka mau membantu dengan turun ke lapangan dan memasarkan produk IKM,” ujar Gati.

Untuk ketersediaan bahan baku, Gati akan berkoordinasi dengan asosiasi dan Direktorat Jenderal Pembina Industri untuk mengatur pendistribusian bahan baku agar sebagian dialokasikan untuk IKM.

Baca juga: Kemenperin dorong daya saing industri kerajinan lewat "e-smart" IKM

“Nanti kami atur distribusinya seperti apa,” tukas Gati.

Kemudian, terkait tenaga kerja IKM yang dirumahkan, Gati akan berkoordinasi dengan pelaku industri, perbankan, dan Kementerian Keuangan, untuk merekomendasikan pinjaman yang lebih lunak kepada IKM agar dapat tetap membayarkan honor pekerja.

Ia menambahkan permasalahan lain yang juga dihadapi IKM adalah adanya penundaan komitmen ekspor yang telah ditandatangani sebelum COVID-19 dari sejumlah negara tujuan ekspor, sementara produknya sudah diproduksi oleh IKM.

Satu-satunya perempuan di jajaran eselon I di lingkungan Kemenperin ini mengatakan akan menggandeng atase perindustrian dan duta besar beberapa negara untuk memfasilitasi pertemuan virtual antara IKM dan calon pembeli dari luar negeri.

“Kami akan membantu negosiasi agar ada komitmen pembelian di waktu mendatang, meskipun saat ini di-hold. Jadi, nanti setelah kondisi ini berlalu, produk IKM tetap bisa terjual,” pungkas Gati.

Baca juga: Kemenperin identifikasi dampak dan kebutuhan IKM akibat Corona

 

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Ancaman krisis ekonomi membuat UKM dan IKM NTB kreatif

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar