WNI positif COVID-19 di Filipina masih jalani karantina mandiri

WNI positif COVID-19 di Filipina masih jalani karantina mandiri

Arsip Foto. Seorang perempuan memakai masker saat COVID-19 merebak di Manila, Filipina, Kamis (12/3/2020). Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan mengisolasi Ibu Kota Manila untuk mencegah penyebaran COVID-19. (ANTARA FOTO/REUTERS/Eloisa Lopez/pras)

Kondisi satu WNI positif COVID-19 yang menjalani karantina mandiri berdasarkan pantauan KBRI Manila berangsur pulih,
Jakarta (ANTARA) - Satu warga negara Indonesia yang dinyatakan positif tertular SARS-CoV-2/COVID-19 di Filipina masih menjalani karantina mandiri, demikian keterangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Manila saat dihubungi dari Jakarta, Selasa.

"Kondisi satu WNI positif COVID-19 yang menjalani karantina mandiri berdasarkan pantauan KBRI Manila berangsur pulih," kata Agus Buana,  Pejabat Bidang Penerangan dan Hubungan Masyarakat (Penhumas) dan Media KBRI Manila  lewat pesan singkat.

Ia menjelaskan KBRI Manila mengontak secara rutin satu pasien COVID-19 itu dan memantau berkala ribuan warga Indonesia yang menetap di Filipina.

"WNI kita di wilayah Luzon (termasuk Greater Manila) dan Visayas ada sekitar 1.100 orang," terang Agus memperkirakan jumlah WNI di sejumlah wilayah Filipina.

Dalam kesempatan itu, ia memastikan persediaan kebutuhan pokok untuk WNI di Filipina masih terjamin, meskipun otoritas di negara itu menetapkan karantina di seluruh wilayah Manila dan perpanjangan karantina komunitas (enhanced community quarantine/EHQ) di Pulau Luzon sejak 16 Maret.

Baca juga: Filipina beri kelonggaran akses ke luar untuk WNA di tengah karantina
Baca juga: Filipina larang lansia, orang sakit dan ibu hamil ke luar rumah


"Kebijakan enhanced community quarantine yang dijalankan sejak 16 Maret 2020 dan dilanjutkan dengan social distancing (pembatasan kegiatan sosial, red), tidak menyulitkan keberadaan WNI. Apalagi, Pemerintah Filipina menjamin ketersediaan bahan makanan dan obat-obatan di toko-toko," terang Agus.

Walaupun demikian, ia mengakui persediaan masker dan cairan sterlisasi tangan (hand sanitizer) cukup terbatas, sehingga otoritas setempat membatasi pembelian produk sanitasi itu. "Masker memang sulit dan hand sanitizer terbatas sehingga diatur kuantitas pembeliannya," terang Agus.

Ia menambahkan per keluarga hanya dapat membeli maksimal tiga botol cairan sterilisasi tangan di Filipina. Akan tetapi, ia tidak menyebutkan secara detail kapasitas botol yang umumnya dijual dan dibeli oleh penduduk setempat.

Menurut Worldometers, laman penyedia data statistik independen, per Selasa (31/3), jumlah pasien positif COVID-19 di Filipina mencapai 2.084 orang dan 88 di antaranya meninggal dunia. Dari total pasien, 49 di antaranya dinyatakan sembuh.

Sementara itu, jumlah pasien COVID-19 di dunia per hari ini mencapai 799.710 jiwa. Dari jumlah itu, 38.720 di antaranya meninggal dunia dan 169.976 pasien lainnya dinyatakan sembuh.

SARS-CoV-2 pertama kali mewabah di Kota Wuhan, China, pada akhir tahun lalu dan saat ini virus itu telah menyebar ke sekitar 200 negara dan wilayah.

​​​​​​​Kasus tertinggi tidak lagi ditemukan di China, tetapi di Amerika Serikat dengan 164.359 pasien positif, disusul oleh Italia dengan 101.739 pasien, dan Spanyol 94.417.

Di China, jumlah pasien positif COVID-19 mencapai 81.518 jiwa dan 3.305 di antaranya meninggal dunia, sementara 76.052 lainnya berhasil pulih.

Baca juga: WHO berharap Filipina segera tingkatkan uji virus corona
Baca juga: Thailand, Malaysia, Filipina laporkan peningkatan kasus corona

Pewarta: Genta Tenri Mawangi
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

AUMR, Robot yang akan jadi lawan tangguh COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar