Kementan: Bawang putih dan gula pasir titik berat pangan saat Covid-19

Kementan: Bawang putih dan gula pasir titik berat pangan saat Covid-19

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan Agung Hendriadi dalam wawancara yang disiarkan di salah satu TV nasional, Rabu (1/4/2020). ANTARA/Mentari Dwi Gayati

Saat ini titik berat kita adalah pada bawang putih dan gula pasir karena dua komoditas ini kita bergantung pada impor
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan bahwa bawang putih dan gula pasir menjadi titik berat komoditas pangan untuk dijaga ketersediaan dan kestabilan harganya, terutama selama masa tanggap darurat COVID-19.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan Agung Hendriadi di Jakarta, Rabu, menjelaskan bahwa Indonesia sampai saat ini masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan dua komoditas tersebut di dalam negeri.

"Saat ini titik berat kita adalah pada bawang putih dan gula pasir karena dua komoditas ini kita bergantung pada impor. Untuk bawang putih, Indonesia memang wilayah tropis, sedangkan bawang putih tumbuh di wilayah subtropis," kata Agung dalam wawancara yang disiarkan di salah satu TV nasional.

Agung menjelaskan bahwa untuk komoditas gula, saat ini memang harganya masih bergejolak karena ada keterlambatan proses giling tebu akibat mundurnya musim kemarau tahun lalu. Proses penggilingan tebu oleh petani lokal baru akan dilakukan pada Juni-Juli mendatang.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga rata-rata gula pasir hingga Rabu (1/4) ini sudah mencapai Rp18.400 per kilogram. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan harga acuan tingkat konsumen sebesar Rp12.500 per kg.

Agung menjelaskan bahwa pemerintah melalui Kemenko Perekonomian dan Kementerian Perdagangan telah memutuskan penambahan kuota impor gula konsumsi sebanyak 550.000 ton.

Sebelumnya pada awal tahun ini, Kemendag telah menerbitkan izin impor gula mentah (raw sugar) untuk diolah menjadi gula kristal putih (GKP) sebanyak 438.802 ton. Dengan kata lain, total impor gula yang dibuka pemerintah mencapai 988.802 ton.

Pada akhir Maret 2020, dipastikan gula impor akan masuk sebanyak 216 ribu ton dan masuk kembali pada bulan April sebesar 252 ribu ton.

"Pemerintah telah Kementerian Perdagangan dan Kemenko Perekonomian telah membuat stimulus untuk pemasukan gula pasir dan bawang putih. Mudah-mudahan akhir minggu ini sudah mulai masuk. Komoditas yang lain aman karena kita masih produksi," kata Agung.

Untuk komoditas bawang putih, Kementerian Pertanian telah menerbitkan Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH) untuk bawang putih sebanyak 450.000 ton untuk kebutuhan 10 -11 bulan ke depan.

Impor bawang putih ini sudah datang melalui tiga pelabuhan besar Indonesia sejak 11 Maret lalu. Khusus melalui Surabaya, totalnya sudah ada 7.700 ton bawang putih yang sudah masuk.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto, menjelaskan kedatangan bawang putih ini diharapkan segera menurunkan harga bawang putih dari Rp30.000 per kg menjadi Rp20.000 hingga Rp25.000 per kg. Saat ini, bawang putih asal China ini pun sudah masuk ke pasar-pasar di Tanah Air.

Nantinya, setiap pekan akan ada 100--150 kontainer yang akan mendarat di empat pelabuhan di Indonesia. Dengan demikian, masyarakat diminta untuk tidak melakukan "panic buying" atau belanja berlebih karena pemerintah tetap menjaga pasokan bahan baku.

Baca juga: Kementan prediksi produksi beras puncak panen capai 5,03 juta ton

Baca juga: Kementan jamin pasokan bawang putih selama Covid-19 melalui impor

Baca juga: Peneliti apresiasi kebijakan pembebasan rekomendasi impor bawang

Baca juga: Kementan pastikan relaksasi impor bawang sejalan dengan Kemendag


 

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Produksi cabai dan bawang merah ditargetkan tumbuh 7 % per tahun

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar