Warga Jakarta berjemur diri saat langit cerah

Warga Jakarta berjemur diri saat langit cerah

Seorang penghuni kontrakan di Gang Kelinci, Jakarta Pusat, memanfaatkan sinar matahari pagi untuk berjemur selama masa 'social distancing, Kamis (2/4/2020) (ANTARA/M Risyal Hidayat)

Langit biru bersih karena polusi udara sudah dicuci oleh air hujan
Jakarta (ANTARA) - Sebagian warga di Gang Kelinci, Jakarta Pusat, melakukan aksi berjemur diri setiap pagi ketika cuaca cerah untuk meningkatkan kekebalan tubuh dalam menangkal Virus Corona jenis baru (COVID-19) sesuai anjuran pakar kesehatan.

"Bagus dan cerah langitnya dan berwarna biru, tapi enggak setiap hari juga, kadang mendung," kata Harto, salah seorang penghuni di Gang Kelinci di Jakarta, Kamis.

Kasubid Analisis Informasi Iklim BMKG Pusat, Adi Ripaldi mengatakan kualitas udara DKI Jakarta selama COVID-19 membaik karena tidak banyak mobilitas kendaraan, mengurangi polusi udara.

"Langit biru bersih karena polusi udara sudah dicuci oleh air hujan, sehingga pada saat cuaca cerah akan terlihat biru," kata Ripaldi saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta.

Baca juga: Jakarta diperkirakan berawan sepanjang Kamis ini

Ripaldi juga menyebutkan, langit biru Jakarta juga sebagai refleksi dari kondisi laut yang juga biru.

"Mungkin laut kita jadi bersih juga karena aktivitas manusia di laut berkurang," katanya.

Sebelumnya diberitakan, kebijakan jaga jarak sosial (social distancing) dengan kerja dari rumah atau work from home (WFH) selama pandemi COVID-19, serta curah hujan yang intens menjadi faktor yang memperbaiki kualitas udara Jakarta.

Namun, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menyebutkan, WFH bukanlah faktor tunggal membaiknya kualitas udara Jakarta.

Baca juga: Restoran Jakarta galang donasi salurkan bantuan cegah PHK karyawan

Berdasarkan pemantauan di lima Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, hasilnya menunjukkan perbaikan kualitas udara, terutama menurunnya konsentrasi parameter PM 2.5 selama penerapan WFH.

Penurunan ini juga konsisten dengan tingkat curah hujan. Ketika curah hujan tinggi, konsentrasi parameter PM 2.5 menunjukkan penurunan dan ketika hari-hari tidak hujan, konsentrasi parameter PM 2.5 sedikit meningkat.

Selain itu, arah angin juga berpengaruh terhadap polutan jenis PM 2.5 ini atau partikel debu halus berukuran 25 mikrogram/m³.

Baca juga: Karnaval Jakarta Langit Biru kurangi polusi udara hingga 35 persen

Hal tersebut juga dibuktikan pada pantauan Air Quality Index (AQI) AirVisual pada 2 April 2020 sekitar pukul 10.12 WIB.

Jakarta pada urutan ke-62 dari urutan kota-kota berpolusi tinggi yang artinya kualitas udara Jakarta lebih baik dari 61 kota lainnya di dunia, dengan Air Quality Index (AQI) di angka 47.

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Ratusan kendaraan listrik konvoi di jalanan Jakarta

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar