Olimpiade

NOC jadi penentu nasib atlet menuju Olimpiade Tokyo

NOC jadi penentu nasib atlet menuju Olimpiade Tokyo

Seorang pejalan kaki sambil mengenakan masker melintas di dekat logo olimpiade di kota Tokyo, Jepang (12/3/2020). ANTARA/Xinhua/Du Xiaoyi/aa.

NOC mempunyai hak untuk memilih atlet
Jakarta (ANTARA) - Komite Olimpiade Internasional (IOC) menyatakan atlet-atlet yang sebelumnya telah lolos kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020 akan dipilih kembali oleh Komite Olimpiade Nasional (NOC) di negaranya masing-masing untuk dapat mengikuti olimpiade yang digelar pada 2021 mendatang.

Sebelumnya, IOC beserta pemerintah Jepang telah sepakat untuk menunda Olimpiade Tokyo yang seharusnya digelar pada tahun ini menjadi tahun 2021 akibat pandemi COVID-19 atau virus corona.

Baca juga: IOC putuskan Olimpiade digelar 23 Juli 2021

Dari total keseluruhan 11.000 atlet, sekitar 57 persen diantaranya sudah dinyatakan lolos kualifikasi olimpiade sebelum akhirnya beberapa turnamen kualifikasi terpaksa dibatalkan karena virus corona yang terus menyebar luas dalam beberapa bulan terakhir.

Melalui sebuah pernyataan resmi yang dikutip dari Reuters pada Kamis (2/4), IOC menegaskan bahwa atlet-atlet yang sebelumnya sudah dinyatakan lolos olimpiade itu kini harus dipilih kembali oleh NOC karena para atlet tersebut nantinya akan mewakili negaranya masing-masing, bukan diri sendiri.

“Semua kualifikasi yang telah dipenuhi oleh NOC dan tiap-tiap atlet akan tetap ada. Namun, seluruh atlet harus dipilih kembali secara individu karena mereka akan merepresentasikan NOC-nya masing-masing. Dalam dunia olah raga, NOC mempunyai hak untuk memilih atlet,” kata Direktur Olah Raga IOC Kit McConnell melalui sambungan telepon.

Baca juga: IOC pastikan atlet yang telah lolos kualifikasi tetap amankan posisi

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa IOC juga masih berdiskusi dengan FIFA terkait pelaksanaan olimpiade tahun depan karena hanya atlet berusia di bawah 23 tahun yang diperbolehkan untuk bertanding.

Dalam banyak kasus, beberapa pemain sepak bola akan melewati batas usia yang telah ditentukan pada tahun depan meskipun sudah lolos kualifikasi di tahun ini.

“Dalam beberapa jenis olah raga, ada aturan spesifik mengenai batasan usia atlet, baik itu usia terendah maupun tertinggi, demi alasan keselamatan sekaligus penyetaraan, seperti yang diterapkan dalam aturan sepak bola pria dengan usia dibawah 23 tahun,” ujar Kit.

“Saat ini, kami masih berdiskusi dengan FIFA. Kami harus mencapai kesepakatan dalam beberapa minggu kedepan,” sambung Kit.

Baca juga: Jepang menolak kecewa, tetap positif siapkan Olimpiade

Di sisi lain, IOC juga sedang berusaha agar wisma atlet kembali tersedia karena rencananya akan dijual sebagai hunian apartemen setelah olimpiade tahun ini berakhir.

“Wisma atlet itu adalah salah satu prioritas utama. Jadi, kami harus mengamankan kembali properti tersebut. Ini merupakan tugas penting,” tegas Direktur Eksekutif Olimpiade IOC Christphe Dubi.

Selain wisma atlet, beberapa tempat lainnya yang juga menjadi prioritas dan harus secepatnya diamankan kembali, yaitu arena olah raga, gedung serbaguna dan kamar-kamar hotel.

“Semua tempat itu harus diambil alih selama satu tahun kedepan. Ini merupakan langkah besar agar kita bisa kembali ke nilai-nilai dasar olimpiade,” ungkap Dubi.

Dia menambahkan, IOC juga berencana untuk memecahkan masalah terkait tempat-tempat prioritas tersebut dalam waktu beberapa minggu.

Baca juga: Api Olimpiade tetap di Fukushima sampai 30 April

Baca juga: Mundur setahun, IOC tetap pakai nama Olimpiade 2020 Tokyo

Baca juga: Olimpiade ditunda, Jepang tanyakan siapa yang bayar biaya penangguhan


Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menpora sebut kesehatan atlet dan pelatih yang utama

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar