Jakarta (ANTARA) - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan pelaksanaan tes cepat atau rapid diagnose test (RDT) COVID-19 di Jawa Barat saat ini sangat kurang jika dibandingkan dengan Korea Selatan yang memiliki populasi serupa.

Dalam paparan yang disampaikan kepada Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin lewat telekonferensi, Jumat, Ridwan menjelaskan bahwa pelaksanaan tes cepat di Korea Selatan sedikitnya terhadap 0,6 persen dari total populasi di negara tersebut.

Jika merujuk pada populasi Indonesia sebanyak 269 juta, kata dia, besaran 0,6 persennya atau sekitar 1,6 juta sampai dengan 2.000.000 orang yang harus dites cepat.

"Indonesia, harusnya minimal 2.000.000 orang. Dengan jumlah itu, harusnya peta (sebaran COVID-19) bisa ditemukan secara utuh. Saya duga pengetesan cepat dan PCR (polymerase chain reaction) mungkin baru di angka 50.000. Jadi, 50.000 menuju 2.000.000 itu sangat jauh," kata Ridwan Kamil.

Baca juga: Pemprov Jabar alokasi Rp16 triliun untuk penanganan COVID-19

Baca juga: Ridwan Kamil: Dari 15 ribu hasil RDT, 677 positif COVID-19 di Jabar

Baca juga: Wapres Ma'ruf Amin dorong MUI keluarkan fatwa haram mudik


Di Jawa Barat sendiri, lanjut Ridwan, pihaknya baru mendistribusikan rapid test kit untuk 50.000 orang, yang hingga Kamis (2/4) baru didapat 15.000 hasil RDT.

"Penduduk kami (di Jawa Barat) 50 juta orang, besarnya sudah seperti Korea Selatan. Korea Selatan itu penduduknya 51 juta, warganya yang dites 300.000. Di DKI mungkin kurang lebih 15.000. Jadi, kita mungkin baru di level 40.000-an hari ini," katanya menjelaskan.

Ridwan juga menduga jumlah penderita gejala dan positif COVID-19 di daerah lain yang menunjukkan angka kecil disebabkan oleh kurangnya tes cepat karena keterbatasan alat.

"Kami tidak yakin provinsi lain terlihat kecil-kecil. Menurut pandangan saya, mereka belum rapid test besar-besaran. Problemnya adalah alat tesnya tidak memadai, bahkan yang swab jumlahnya terbatas," katanya.

Oleh karena itu, Ridwan Kamil berharap kepada Wapres Ma'ruf Amin agar pemerintah pusat segera memperluas pelaksanaan tes cepat sebagai langkah antisipatif untuk mengetahui warga Indonesia yang menderita gejala COVID-19.

"Untuk mengejar rasio ratusan ribu (warga dites cepat), itulah peran pemerintah pusat untuk memperbanyak alat tes. Dengan demikian, kita tahu apa yang harus kita lakukan," kata Gubernur Jabar Ridwan Kamil.

Pewarta: Fransiska Ninditya
Editor: D.Dj. Kliwantoro
Copyright © ANTARA 2020