Hunian Co-living jadi alternatif pekerja lajang saat pandemi COVID-19

Hunian Co-living jadi alternatif pekerja lajang saat pandemi COVID-19

Hunian berkonsep co-living untuk pekerja yang masih lajang (Antara/HO/Flokq)

Jakarta (ANTARA) - Pilihan umum hunian berupa apartemen maupun kos bagi mereka yang tinggal sendirian di Jakarta ternyata berpotensi memunculkan masalah, khususnya pada saat pembatasan kontak sosial sedang diberlakukan sebagai dampak merebaknya virus corona baru, COVID-19 .

CEO Flokq Anand Janardhanan menyatakan tinggal di apartemen diakui menawarkan lebih banyak keunggulan dari berbagai aspek, namun tidak terjangkau bagi semua orang akibat adanya pembayaran di muka serta biaya sewa lebih tinggi.

"Apalagi, tinggal di apartemen juga tidak menawarkan solusi bagi isu kesepian, sedangkan, di sisi lain, kos sudah menjadi pilihan standar bagi masyarakat luas dalam waktu yang begitu lama," ujarnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Di berbagai belahan dunia, bertempat tinggal di bangunan tinggi dan menerapkan flatsharing sudah menjadi sesuatu yang biasa, namun masih belum begitu biasa di Jakarta.

Kos sudah dan masih menjadi pilihan pertama dalam waktu yang begitu lama karena terjangkau dan pelayanannya beragam, sedangkan apartemen biaya sewa lebih tinggi dan pembayaran di muka hanya jadi pilihan bagi yang bermodal cukup.

Namun, lanjut Anand, pada saat isolasi sosial sedang digalakkan, dan berkumpul dengan keluarga jadi sesuatu yang tak memungkinkan, tinggal di ruangan besar berfasilitas lengkap, dengan beberapa teman sesama penghuni flat yang sudah pasti higienitasnya, lebih menguntungkan.

Tinggal di apartemen co-living juga lebih memungkinkan keberlangsungan kegiatan memasak, khususnya dengan dapur yang hanya digunakan bersama 2-3 orang penghuni flat lainnya.

"Keluar dari kos saat ini untuk pindah ke apartemen bersama beberapa teman tentunya bukanlah hal yang simpel. Namun, hal tersebut tidak lagi menjadi masalah dengan bermunculannya beberapa operator co-living baru belakangan ini," katanya.

Eko, pekerja muda di Kawasan Kuningan Jakarta, menyatakan, baru-baru ini memutuskan pindah ke apartemen berkonsep co-living di wilayah Setiabudi, Jakarta Selatan bersama beberapa teman kerja.

"Rasanya nyaman saat Anda memiliki seseorang yang dapat diajak bicara secara langsung. Saya tidak tahu kapan bisa kembali nongkrong dengan teman-teman seperti biasanya," ujar karyawan perusahaan swasta itu.

Eko dan teman-teman flatnya tersebut telah sepenuhnya bekerja dari rumah selama tiga minggu terakhir, sehingga mereka merasa aman akibat jaminan tidak adanya salah seorang dari mereka yang membawa virus dari luar.

"Meski tengah dihadapkan dengan konsekuensi tak terhindarkan berupa rasa kesepian, co-living bersama beberapa penghuni lain bisa menjadi pilihan yang ideal," ujar Anand.

Baca juga: Cara membuat tampilan kamar rumahan seperti kamar hotel

Baca juga: Kiat bikin suasana rumah lebih glamor dengan nuansa emas

Baca juga: "Japandi" tren desain rumah saat ini

Pewarta: Subagyo
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Bayi usia 6 hari, pasien termuda COVID-19 di NTB

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar