Kemarin, rupiah menguat tajam hingga pemerintah terbitkan global bond

Kemarin, rupiah menguat tajam hingga pemerintah terbitkan global bond

Karyawan memegang mata uang rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta Pusat. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan./aww/pri.

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah informasi penting menghiasi berita ekonomi pada Selasa (7/4) kemarin, mulai dari pemerintah menerbitkan surat utang berdenominasi dolar AS atau global bond dengan tenor selama 50 tahun untuk pertama kali sepanjang sejarah hingga disepakatinya fasilitas repurchase agreement line (repo line) senilai 60 miliar dolar AS antara Bank Indonesia dan Bank Sentral AS The Fed.

Berikut rangkuman berita selengkapnya yang masih menarik untuk dibaca:

1. Pertama kali, pemerintah terbitkan "global bond" tenor 50 tahun
Pemerintah menerbitkan surat utang berdenominasi dolar AS atau global bond dengan tenor selama 50 tahun untuk pertama kali sepanjang sejarah guna mendukung pembiayaan APBN dalam menghadapi pandemi COVID-19.

"Penerbitan tenor terpanjang yang pernah dilakukan oleh pemerintah ini secara implisit menggambarkan kredibilitas dan kepercayaan investor," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam jumpa pers melalui streaming di Jakarta, Selasa

Baca selengkapnya di sini


2. OJK beri kewenangan bank untuk restrukturisasi kredit terkait COVID-19
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan kewenangan kepada perbankan dan lembaga jasa keuangan dalam melakukan proses restrukturisasi kredit atau pembiayaan bagi debitur maupun nasabah yang terdampak oleh COVID-19.

"Kita memberikan keleluasaan penuh kepada bank dan lembaga jasa keuangan dengan skema mereka, karena kondisi bank dan debitur tidak sama antara satu dengan yang lain," kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana dalam rapat kerja dengan Komisi XI di Jakarta, Selasa.

Baca selengkapnya di sini


3. Lalu lintas tol turun, Menteri PUPR ingin ada relaksasi kewajiban BUJT
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan kemungkinan akan meminta relaksasi pembayaran kewajiban Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) kepada bank akibat penurunan drastis lalu lintas di jalan tol karena wabah COVID-19.

"Yang masih kita akan diskusikan, pertama kemungkinan akan meminta relaksasi pembayaran kewajiban BUJT kepada bank mengingat lalu lintas harian rata-rata atau LHR yang berkurang hingga sekitar 60 persen menyebabkan kemampuan BUJT untuk membayar kepada bank menjadi berkurang," ujar Basuki di Jakarta, Selasa.

Baca selengkapnya di sini


4. Rupiah menguat tajam seiring positifnya mata uang kawasan
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa sore menguat tajam seiring positifnya mayoritas mata uang kawasan Asia.

Rupiah pada Selasa sore ditutup menguat 213 poin atau 1,29 persen menjadi Rp16.200 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.413 per dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Selasa, mengatakan pasar merespons positif melambatnya laju kasus kematian akibat COVID-19 di Amerika Serikat dan Eropa sebagai pusat pandemi global.

Baca selengkapnya di sini

5. Gubernur BI: The Fed berikan fasilitas repo line 60 miliar dolar AS
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan Bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) telah menyepakati bahwa akan menyediakan fasilitas repurchase agreement line (repo line) senilai 60 miliar dolar AS.

“Komunikasi dengan The Fed sudah mencapai kesepakatan bahwa akan kerja sama dengan kami untuk menyediakan repo line. Repurchase agreement line dengan BI jumlahnya 60 miliar dolar AS,” katanya dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Selasa.

Baca selengkapnya di sini

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

BI pertahankan suku bunga acuan 4,5 persen

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar