Selandia Baru sumbang Rp1,5 M untuk Indonesia tingkatkan tes COVID-19

Selandia Baru sumbang Rp1,5 M untuk Indonesia tingkatkan tes COVID-19

Duta Besar Selandia Baru Jonathan Austin yang ditunjuk untuk Indonesia dalam wawancara "International Corner" di Ruang Redaksi Kantor Berita Antara, Jakarta. ANTARA/Suwanti/am.

Selandia Baru mempunyai sejarah panjang dalam hal membantu Indonesia, terutama dalam masa krisis. Kami tetap mempunyai komitmen mendukung negara ini dalam menghadapi wabah seperti sekarang
Jakarta (ANTARA) - Selandia Baru memberikan bantuan dana senilai 150.000 dolar Selandia Baru atau hampir Rp1,5 miliar kepada Indonesia untuk meningkatkan kapasitas, kualitas, dan juga kuantitas uji medis COVID-19.

"Selandia Baru mempunyai sejarah panjang dalam hal membantu Indonesia, terutama dalam masa krisis. Kami tetap mempunyai komitmen mendukung negara ini dalam menghadapi wabah seperti sekarang," kata Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Jonathan Austin.

Dalam pernyataan tertulis pada Rabu, Kedutaan Besar Selandia Baru di Jakarta menyatakan dana itu disumbangkan melalui Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di bawah naungan Kementerian Riset dan Teknologi Indonesia.

Setelah ditunjuk menjadi salah satu laboratorium rujukan tes COVID-19 pada 13 Maret lalu, Lembaga Eijkman menerima spesimen pasien dalam jumlah yang meningkat secara drastis.

Sebanyak 20.000 wadah penyimpanan spesimen untuk tes virus (viral transport medium/VTM) telah diproduksi dan didistribusikan oleh Lembaga Eijkman ke 95 layanan kesehatan di seluruh Indonesia hanya dalam hitungan hari.

Baca juga: Untuk penguatan laboratorium, LBM Eijkman dapat sumbangan Rp10 miliar
Baca juga: Lembaga Eijkman: Kemungkinan penyebaran corona sebagai aerosol di RS


VTM merupakan bagian penting dalam tes virus di masa pandemi COVID-19, yang kemudian menjadi langka karena persediaannya menipis.

"Kontribusi kami akan membantu Lembaga Eijkman terus memproduksi dan mendistribusikan 100.000 VTM dan menyediakan persediaan untuk analisis polymerase chain reaction (PCR) yang akurat," Austin menambahkan.

Sepakat dengan pernyataan duta besar, Kepala Lembaga Eijkman Profesor Amin Soebandrio mengatakan bahwa menjalankan diagnosis yang akurat dan terpercaya untuk kasus COVID-19 merupakan hal yang amat penting.

"Memproduksi VTM, swab nasofaring dan orofaring, serta alat ekstraksi RNA adalah sesuatu yang sangat serius di Indonesia," ujar Amin dalam keterangan yang sama.

Baca juga: Legislator dukung penambahan anggaran riset Eijkman
Baca juga: Lembaga Eijkman: Konsentrasi virus lebih tinggi di ruang tertutup

Pewarta: Suwanti
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Tantowi Yahya beberkan cara Selandia Baru bebas COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar