Harga emas melejit 68,5 dolar, stimulus Fed picu kekhawatiran inflasi

Harga emas melejit 68,5 dolar, stimulus Fed picu kekhawatiran inflasi

ILUSTRASI - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange menetap lebih tinggi pada akhir perdagangan. ANTARA/REUTERS/am.

Emas menguat karena bantuan moneter ini pada akhirnya harus dilunasi dan pembayaran itu mungkin tiba-tiba sebagai inflasi yang lebih tinggi di kemudian hari
Chicago (ANTARA) - Harga emas berjangka di Bursa Comex melambung pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), setelah pengumuman stimulus besar-besaran oleh Federal Reserve (Fed) AS untuk memerangi korban ekonomi dari pandemi Virus Corona memicu kekhawatiran inflasi.

Kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Juni melejit 68,5 dolar AS atau 4,07 persen, menjadi ditutup pada 1.752,8 dolar AS per ounce, merupakan level tertinggi sejak Oktober 2012, sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Sehari sebelumnya, emas berjangka naik tipis 0,6 dolar AS atau 0,04 persen menjadi pada 1.684,3 dolar AS per ounce.

Federal Reserve AS mengumumkan pada Kamis (9/4/2020) bahwa mereka akan membuat Main Street Lending Fund untuk mendukung bisnis melalui pinjaman bank. The Fed berusaha untuk menciptakan stabilitas di pasar, yang mengurangi permintaan untuk emas.

Baca juga: Wall Street dibuka melambung setelah lonjakan pengangguran AS

Namun, efek pasti dari pinjaman tersebut belum pasti, sehingga para analis percaya bahwa pasar yang dibanjiri dengan uang tunai dari bank-bank sentral di seluruh dunia, memberikan dukungan kepada emas sebagai tempat yang aman di tengah meningkatnya inflasi.

"The Fed meluncurkan howitzer lain dari gudang senjatanya yang menawarkan bantuan besar untuk usaha kecil dan menengah serta pemerintah daerah," kata Kepala Perdagangan Derivatif Logam Mulia dan Logam Dasar di BMO, Tai Wong, seperti dikutip oleh Reuters.

"Emas menguat karena bantuan moneter ini pada akhirnya harus dilunasi dan pembayaran itu mungkin tiba-tiba sebagai inflasi yang lebih tinggi di kemudian hari."

The Fed meluncurkan upaya luas, 2,3 triliun dolar AS untuk mendukung pemerintah daerah serta usaha kecil dan menengah guna menjaga ekonomi AS tetap utuh saat negara itu memerangi pandemi Virus Corona.

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bank sentral akan terus menggunakan semua alat yang tersedia sampai ekonomi AS mulai sepenuhnya pulih dari kerugian yang disebabkan oleh wabah.

"Dampak ekonomi dari pandemi ini kemungkinan besar akan menyita pasar dalam waktu yang sangat lama, bahkan ketika pandemi telah mereda," kata analis Commerzbank dalam sebuah catatan.

Baca juga: Fed sebut kebijakan moneter AS tetap sesuai, meski ada ancaman Corona

"Emas kemungkinan mendapat untung dari melimpahnya uang bank-bank sentral dan utang baru."

Harga emas juga diberi dukungan ketika 6,6 juta orang mengajukan klaim pengangguran baru selama sepekan yang berakhir 5 April, menurut sebuah laporan yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (9/4/2020). Jumlah klaim yang diajukan lebih buruk dari yang diharapkan.

Indeks sentimen konsumen AS untuk April yang dirilis pada Kamis (9/4/2020) oleh Universitas Michigan menunjukkan angka 71, menurut catatan analis adalah angka terendah sejak 2011, juga memberikan dukungan terhadap emas.

Indeks dolar AS yang melemah 0,67 atau 0,67 persen ke level 99,45 pada pukul 17.50 GMT, juga lebih lanjut mendukung emas.

Harga logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Mei naik 84,8 sen atau 5,58 persen, menjadi ditutup pada 16,053 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli naik 15 dolar AS atau 2,04 persen, menjadi ditutup pada 748,6 dolar AS per ounce.

Baca juga: Bursa saham Spanyol ditutup naik, pulih dari kerugian sesi sebelumnya

Baca juga: Saham Prancis berakhir menguat untuk hari keempat berturut-turut

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Harga emas turun, namun naik bulan depan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar