Telaah

COVID-19, China, dan "hiu keuangan" dunia

Oleh Suryanto,S.Sos.M.Si. *)

COVID-19, China, dan "hiu keuangan" dunia

Ilustrasi - Bahaya virus Corona yang mematikan. ANTARA/Shutterstock/am.

China telah menjadi raksasa ekonomi dunia, bahkan menjadi "hiu keuangan" dunia
Semarang (ANTARA) - Dampak ekonomi dari pandemi Corona selain bikin orang panic buying juga bikin investor melakukan panic selling yang dampaknya membuat harga saham anjlok di seluruh dunia.

Kepanikan makin menjadi-jadi setelah setiap hari di seluruh dunia makin banyak orang terinveksi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Warga kelas menengah sibuk melakukan panic buying yang membuat banyak produk menjadi langka dan harga makin tinggi. Kepanikan tidak hanya berhenti pada pasar konvensional, tetapi juga pasar modal. Jika di pasar konvensional terjadi panic buying, di pasar modal terjadi panic selling melanda seluruh dunia.


Wabah Virus Corona menyebabkan efek domino karena ternyata berpengaruh besar pada banyak sektor dan akhirnya berdampak negatif terhadap perekonomian dunia. Dalam laporan terbaru, Asian Development Bank memproyeksi hingga sekitar 347 miliar dolar AS produk domestik bruto global bisa hilang.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang normalnya berharga Rp6.000,00 anjlok ke harga Rp4.500,00 menyusul berubahnya status COVID-19 menjadi pandemi. Status pandemi ini ditetapkan karena perkembangan kasus baru Corona di luar Republik Rakyat China (RRC) sudah sembilan kali lebih banyak dari perkembangan kasus baru COVID-19 di RRC yang merupakan titik awal outbreak. Hal ini membuat harga saham dunia anjlok yang juga berakibat pada pasar modal di Indonesia. Banyak investor panik dan menjual saham mereka karena nilainya yang terus jatuh.

Rata-rata IHSG ditutup turun 2,83 persen atau 126,07 poin ke level 4.330,67 dengan indeks sektor infrastruktur  turun 3,85 persen dan konsumsi  turun 3,77 persen memimpin pelemahan. Saham JSMR  anjlok 6,85 persen, TBIG  menukik 6,81 persen, dan ISAT  jatuh 6,80 persen menjadi penekan pelemahan. Investor asing melakukan aksi jual dengan tercatat sebesar Rp258.47 miliar.

Sementara itu Bursa Asia ditutup mayoritas melemah kecuali Indeks Topix ( naik 0,19persen) yang ditutup sedikit menguat. Indeks Nikkei ( turun 1,68persen), HangSeng ( turun 4,18 persen) dan CSI300 (turun 1,98 persen) turun signifikan mengikut indeks ekuitas berjangka di AS.

Bursa Eropa mayoritas dibuka pada zona negatif. Indeks Eurostoxx ( turun 2.79persen), FTSE ( turun 3,28persen), dan DAX ( turun 3,39persen) dibuka langsung merosot lebih dari 3 persen di awal sesi perdagangan dengan semua sektor industri di zona merah. Bank dan perusahaan energi memimpin penurunan mengiringi outlook dari penurunan pinjaman ekspansi usaha dan permintaan.

Baca juga: Wall Street berakhir naik, ditopang program penyelamatan baru The Fed

AS memberikan kembali stimulus sebesar 1,2 triliun dolar AS yang bertujuan untuk mencegah dampak buruk dari krisis yang tampaknya akan menjerumuskan banyak ekonomi dunia ke dalam resesi. Investor menanti data inflasi di Eropa, kebijakan bank sentral Australia, dan data pengangguran di AS.

Kebijakan tersebut diambil untuk mengantisipasi peristiwa perekonomian Amerika Serikat hancur pada tahun 2008 akibat anjloknya saham-saham dan surat berharga Amerika sampai bernilai nol. Pada saat itu jutaan orang kehilangan pekerjaan, jutaan orang juga kehilangan rumah, bahkan para pensiunan kehilangan dana pensiun mereka.

Tidak hanya terjadi di Amerika, fenomena kebuntuan finansial ini memengaruhi seluruh negeri. Kebuntuan finansial ini menyebar sehingga menyebabkan kegagalan ekonomi hampir seluruh dunia, bahkan jauh lebih cepat menular dari corona.

Investor terus menimbang dampak stimulus fiskal dan moneter untuk melawan efek dari pandemi COVID-19. Negara-negara terus meningkatkan langkah-langkah untuk membatasi penyebaran virus dengan menutup beberapa daerah dan memperkerjakan karyawan di rumah. Hal tersebut mengganggu dan memperlambat iklim bisnis secara sistematis.

Efek virus corona pada bursa efek di seluruh dunia mengalami kemerosotan drastis, kecuali China yang bisa bertahan. China sebagai penyebab pandemi virus corona secara ajaib pulih dan hampir tidak memiliki lagi virus tersebut di negaranya.

Baca juga: Bursa saham Spanyol ditutup naik, pulih dari kerugian sesi sebelumnya

Kabar terbaru dari kota yang dicap beberapa orang sebagai tempat awal munculnya Virus Corona, Wuhan, China. Melalui otoritas setempatnya telah resmi menutup rumah sakit darurat yang mereka bangun dalam waktu singkat untuk menanggulangi Virus Corona pada hari Selasa (10-3-2020) setelah seluruh pasien dinyatakan sembuh.

Ketika masyarakat dunia sekarang mulai merasakan efek dan kepanikan wabah ini, siapa yang sembuh lebih dahulu? China sendiri. Tampaknya virus ini merupakan tanggapan dari publik China terhadap hilangnya perang dagang China dengan AS. Tujuannya untuk menjerumuskan dunia ke dalam resesi.

Bukankah skenarionya amat jelas? China sedang menjadi pemenang dan menjadi "Raksasa Ekonomi Dunia". China memiliki hampir semua barang dan yang mendominasi bursa efek hampir di seluruh dunia sehingga China menjadi pemilik perusahaan global yang ada di negara itu tanpa uang sedikit pun meninggalkan negaranya.

Pada saat yang sama, dalam beberapa hari terakhir, China telah memecahkan banyak rekor dan memenangkan segalanya, membeli saham lebih dari 20 miliar dolar AS dan memiliki sekitar 30 persen saham perusahaan Barat yang ada di negara itu.

Sebagai negara yang telah bebas dari pandemi COVID-19, ditambah menguasai bursa saham gobal, dan sekaligus menjadi negara yang kaya raya, sekarang ini hanya China yang mampu memberikan donasi kepada negara-negara yang tengah bergelut menghadapi wabah Virus Corona yang amat parah, seperti Italia, Spanyol, Prancis, Iran, dan bahkan belakangan tidak ketinggalan AS dan Inggris serta Indonesia.

Baca juga: Bursa China dibuka bervariasi, di tengah harapan perang lawan Corona


Presiden Xi Jin Ping

Negara-negara Eropa dan  AS harus mengakui cerdasnya China dalam memainkan permainan yang luar biasa di depan mata seluruh dunia tanpa mampu berbuat apa-apa.

Karena situasi di Wuhan, mata uang China menurun. Akan tetapi, Bank sentral China tidak melakukan apa pun untuk mencegah keruntuhan itu. Ada juga banyak rumor bahwa negara itu tidak memiliki cukup topeng untuk melawan Virus Corona. Desas-desus dan deklarasi ini memang sengaja dihembuskan sebagai perang propaganda kepada Barat, terutama AS, bahwa China sebentar lagi akan hancur oleh wabah yang mematikan itu. Amerika-lah akan menjadi negara yang akan memenangi perang dagang yang selama ini berlangsung.

Presiden China Xi Jin Ping berkeyakinan bahwa pihaknya siap melindungi penduduk Wuhan dengan memblokir perbatasan telah menyebabkan penurunan tajam dalam harga saham hingga 44 persen dalam teknologi China dan industri kimia. Ya, China telah menjadi raksasa ekonomi dunia, bahkan menjadi "hiu keuangan" dunia.

China mulai menjual semua sahamnya. Akan tetapi, tidak ada mau membeli, dan mereka benar-benar terdevaluasi. Pada saat itu, Xi Jin Ping mengambil langkah besar, menunggu seminggu, dan tersenyum lebar pada konferensi pers seolah-olah tidak ada hal yang istimewa terjadi.


Ketika bursa jatuh di bawah batas yang diizinkan, Xi memerintahkan untuk memborong semua saham Eropa dan AS. Pada saat bersamaan, kemudian "hiu keuangan" itu menyadari bahwa mereka ditipu dan bangkrut. Akan tetapi, sudah terlambat karena semua saham telah tertransfer ke China yang mampu menghasilkan 2.000 miliar dolar AS pada saat itu, sekaligus menjadi pemegang saham mayoritas perusahaan yang dibangun oleh orang Eropa dan AS berkat simulasi genius ini.

Bahkan, sekarang milik perusahaan mereka telah menjadi pemilik industri berat yang menyebabkan Uni Eropa, AS, dan seluruh dunia bergantung. China akan menentukan harga dan pendapatan perusahaannya dan tidak akan meninggalkan perbatasan China, tetapi tetap di rumah dan menyimpan semua cadangan emasnya.


Baca juga: Harga emas melejit 68,5 dolar, stimulus Fed picu kekhawatiran inflasi

Itulah sebabnya "hiu keuangan" dengan cerdik melampaui AS dan Uni Eropa yang terlihat bodoh. Dalam beberapa menit, orang China mengumpulkan sebagian besar saham mereka yang sekarang menghasilkan uang miliaran dolar. Itulah langkah cemerlang dalam sejarah besar penguasaan saham di balik pandemi Corona yang melanda dunia.

Dampak yang lebih besar dari pandemi Corona tidak berhenti hanya di pasar saham karena panic selling para investor, tetapi akan berlanjut, yang berisiko merusak pasar modal. Sekarang benar-benar telah terjadi fenomena panic selling dan panic buying secara berbarengan.

Maka, kita sudah melihat fenomena terjadi kehancuran perekonomian yang dahsyat berimbas pada kehancuran perekonomian dunia.


Kita pun sudah melihat banyak orang kehilangan pekerjaan, mungkin juga kehilangan dana pensiun, kehilangan rumah, atau mungkin entah akan kehilangan apalagi, yang mungkin akan menyebabkan kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya akan terjadi.

Penulis mengajak kita semua untuk lebih tenang menghadapi situasi ini karena kebuntuan finansial tidak kalah menular dari Virus Corona dan kegagalan ekonomi tidak kalah dengan pandemi dari virus paling berbahaya sekalipun.

*) Penulis adalah Staf Pengajar Komunikasi Politik Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

Oleh Suryanto,S.Sos.M.Si. *)
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Grup hotel internasional di China kembali beroperasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar