Pemkab Buleleng pindahkan karantina pekerja migran dari SD ke hotel

Pemkab Buleleng pindahkan karantina pekerja migran dari SD ke hotel

Sejumlah Pekerja Migran Indonesia yang sebelumnya di karantina di gedung SD dipindahkan ke hotel oleh Pemkab Buleleng, Bali, Rabu (15/4/2020). ANTARA/HO-Pemda Buleleng/aa.

itu sebagai bagian dari bentuk partisipasi dan kepedulian PHRI Buleleng
Singaraja (ANTARA) - Pemkab Buleleng, Bali, memindahkan tempat karantina untuk 18 orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang sebelumnya di gedung SD dipindahkan ke sebuah hotel.

"PMI yang berasal dari seputaran Kota Singaraja yang saat ini sudah dikarantina di SD 1 dan SD 3 Banjar Jawa sebanyak 18 orang, nanti dipindahkan ke hotel yang sudah disewa," kata Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana, di Singaraja, Rabu.

PMI yang berasal dari 17 Kelurahan di Kecamatan Buleleng itu dipindahkan dengan menggunakan bus dan dikawal ketat oleh aparat kepolisian. Bahkan sopir bus dan kondektur menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

Setibanya di hotel, 18 PMI langsung diberi arahan, dan disemprot cairan disinfektan. Setelah itu baru diperbolehkan masuk ke kamar hotel masing-masing.

Baca juga: Pemkab Badung siapkan hotel berbintang untuk rumah singgah PMI
Baca juga: Bali siapkan karantina pekerja migran dengan 1.012 tempat tidur


Bupati mengatakan, untuk PMI yang baru datang, akan langsung ditempatkan di hotel-hotel tersebut. Pada tahap awal ini baru bisa disediakan sebanyak 85 kamar, yakni 55 kamar di Hotel Aneka Lovina, dan 30 kamar di Hotel Grand Wijaya Singaraja.

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengakui, tidak mudah memanfaatkan hotel yang berada di seputaran Kota Singaraja untuk tempat karantina bagi PMI.

"Sebelumnya saya sudah melakukan penjajakan terhadap beberapa hotel yang berada di sekitar Kota Singaraja, namun pemilik hotel yang dihubungi itu enggan mengizinkan tempat usahanya digunakan sebagai tempat karantina bagi PMI," kata Bupati.

Akhirnya, ia mendesak pengurus Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Buleleng untuk melakukan komunikasi dengan para pemilik hotel di Singaraja. PHRI sebagai induk organisasi pengusaha hotel itupun akhirnya berhasil meyakinkan sejumlah pemilik hotel di Singaraja untuk disewa dan dimanfaatkan sebagai tempat karantina PMI terkait COVID-19.

"Saya terus melakukan diskusi panjang dan pendekatan dengan pihak PHRI Buleleng. Akhirnya sampai dengan jam 19 malam, PHRI setuju memberikan beberapa hotel untuk kami gunakan sebagai tempat karantina bagi PMI. Nantinya, PMI yang berasal dari seputaran Kota Singaraja akan dikarantina di hotel-hotel tersebut," katanya.

Baca juga: Ketua Satgas COVID-19 Bali minta jangan kucilkan ABK kapal pesiar
Baca juga: Satgas COVID-19 Bali: Jangan bandingkan tempat karantina dengan hotel


Secara bertahap, kata Bupati, pihaknya akan menambah lagi jumlah hotel yang dijadikan tempat karantina dan menyesuaikan dengan jumlah PMI yang akan dikarantina. Nantinya hotel-hotel yang digunakan itu tidak diperkenankan menerima tamu lain, selain PMI yang dikarantina.

"Biaya yang digunakan untuk menyewa hotel-hotel itu sangat murah, hal itu sebagai bagian dari bentuk partisipasi dan kepedulian PHRI Buleleng dalam menghadapi pendemi corona ini," katanya.

Untuk PMI yang berasal dari desa-desa lain di Buleleng, lanjut Bupati, sepenuhnya diserahkan kepada Pemerintah Desa untuk menyediakan tempat karantina. "Kalau ada villa atau hotel silakan dilakukan pendekatan," katanya.

Baca juga: Satgas COVID-19 Bali siapkan tempat karantina bagi pekerja migran
Baca juga: Batam siapkan lima hotel observasi pekerja migran
Baca juga: BP2MI-pemda kerja sama awasi karantina mandiri PMI di daerah asal

 

Pewarta: Naufal Fikri Yusuf/Made Adnyana
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Juli-Agustus, 50 ribu pekerja migran balik ke Indonesia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar