Distan Kalbar petakan dampak wabah COVID-19 bagi sektor pertanian

Distan Kalbar petakan dampak wabah COVID-19 bagi sektor pertanian

Rapat koordinasi evaluasi kegiatan dan arahan Kadis Pertanian TPH Prov Kalbar melalui video conferece. ANTARA/Dedi

beras kita aman dan jangan panik
Pontianak (ANTARA) - Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi (Distan) TPH Kalbar memetakan sejumlah dampak wabah COVID -19 bagi sektor pertanian di Kalbar agar dapat segera mencari solusi terbaik dan teratasi dengan maksimal.

"Wabah COVID-19 tentu sangat berdampak luas terhadap berbagai sektor tidak lupat juga sektor pertanian. Dampak apa-apa saja sudah kita petakan sehingga strategi atau solusi penyelesaian bisa dimaksimalkan," ujar Kepala Distan TPH Kalbar, Florentinus Anum, Jumat.

Ia mencontohkan dampak COVID-19 terhadap sektor pertanian di antaranya aktivitas usaha tani tanaman pangan dan hortikultura tertunda karena himbauan mengurangi keluar rumah.

"Adanya himbauan lebih baik di rumah jika tidak hal penting tentu berdampak pada aktivitas usaha petani. Meskipun tetap masih ada bertani. Namun sedikit banyaknya tidak maksimal," jelas dia.

Baca juga: Dompet Dhuafa luncurkan Kebun Pangan Keluarga dorong ketahanan pangan
Baca juga: Petani diimbau perbanyak tanaman pangan, antisipasi dampak Corona


Dengan adanya himbauan mengurangi keluar rumah, pihaknya melakukan pembinaan ke lapangan terutama daerah sentra dan menganjurkan agar petani tetap melakukan aktivitas usaha tani pada
musim tanam gadu 2020 untuk stok pangan Kalbar ke depan.

"Meski tetap melakukan usaha tani, petani harus mengedepankan pencegahan seperti menggunakan masker, menghindari keramaian dan pola hidup sehat. Dari sisi pemerintah di musim gadu ini akan mempercepat kegiatan bantuan Pemerintah tahun 2020," katanya.

Kemudian kendala di lapangan juga terjadi menurunnya pendapatan petani akibat serangan organisme penyerang tanaman atau OPT, defisiensi hara, dan kurang pemeliharaan.

"Aktivitas usaha tani maksimal berdampak pada menurunnya pendapatan karena OPT, kurang pemeliharaan dan lainnya. Sehingga solusi ditawarkan kami berupa pemantauan lapangan dan optimalisasi para petugas lapang dalam pembinaan usaha tani yang lebih intensif di lapangan," kata dia.

Baca juga: Penjualan kebutuhan pokok di Toko Tani Center meningkat 100 persen
Baca juga: Petani diimbau giat bercocok tanam antisipasi kesulitan pangan


Menurutnya, jika kondisi wabah COVID-19 berlarut maka bisa saja terjadi defisiensi gizi akibat kurangnya pasokan. Sehingga asupan gizi menjadi tidak lengkap, sedangkan subsitusi dari dalam daerah tidak tersedia.

"Solusi yang disiapkan agar tidak defisiensi gizi yakni pemanfaatan sayuran dan buah-buahan lokal. Sosialisasi Program Rumah Tangga Mandiri Pangan serta TOGA (tanaman obat keluarga) terutama jahe karena memiliki bioaktif melawan COVID-19 dan memanfaatkan lahan pekarangan maupun menanam tanaman hortikultura dalam pot," jelas dia.

Kemudian, berpotensi juga meningkatnya harga komoditi tanaman pangan dan hortikultura akibat berkurangnya stok. Sedangkan permintaan tinggi. Sehingga hal yang perlu diambil yakni petani harus tetap menanam dan berproduksi agar stok pangan di Kalbar tetap tersedia.

"Kita juga mendorong dan mengoptimalkan konsumsi produksi lokal, program menanam padi untuk anak sekolah dan menanam di pekarangan maupun dalam pot agar tercipta rumah tenaga mandiri pangan," jelas dia.

Baca juga: Realokasi anggaran COVID-19 perlu diarahkan untuk ketahanan pangan
Baca juga: Toko Tani terapkan protokol kesehatan pada konsumen


Selanjutnya, yang bakal menjadi perhatian yakni bisa saja terhambatnya pemasaran hasil akibat larangan bepergian jauh. Sehingga dapat merusak kualitas komoditi yang akan dijual.

"Untuk hal itu perlu membangun sistem e-marketing dan pelatihan keterampilan pengolahan hasil," jelas dia.

Yang dikhawatirkan kata dia apabila semakin berlanjut wabah maka bisa saja terjadi lonjakan harga serta panik dalam membeli akibat khawatir stok pangan sedikit dan terbatas.

"Untuk itu kita akan pantau pangan secara berkala per minggu, transparansi data stok, pasokan dan distribusi dan operasi pasar murah," katanya.

Kemudian jika terjadi penutupan wilayah dan rawan pangan maka petani dianjurkan harus tetap tanam padi pada musim tanam gadu 2020.

"Penting sekali optimalisasi produk olahan yang memiliki umur simpan tinggi dan kita akan membuat peta rawan pangan," jelas dia.

Ia berharap kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan tidak terjadi sehingga masyarakat dan berbagai sektor kembali normal.

"Kita tetap memantau kondisi dan terus memetakan persoalan di lapangan," jelas dia.

Sementara itu, Kabid Pangan Distan TPH Kalbar, Dony menyebutkan bahwa untuk ketersediaan beras di Kalbar hingga Idul Fitri 2020 masih surplus.

"Masyarakat tidak perlu khawatir bahwa dari sisi produksi ketersediaan stok kita hingga Idul Fitri 2020 atau Mei nanti surplus mencapai 112.544 ton. Saat wabah COVID -19 ini, beras kita aman dan jangan panik," kata dia.

Baca juga: "ATM beras" bantu warga miskin Vietnam saat karantina karena COVID-19
Baca juga: Teluk Wondama perkuat stok beras, cegah kelangkaan akibat corona

Pewarta: Dedi
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pendapatan berkurang, PT KAI kembangkan bisnis kuliner

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar