Padang (ANTARA News) - Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Barat Khalid Saifullah menyatakan kualitas lingkungan hidup daerah tersebut terus menurun dari tahun ke tahun.

"Kualitas lingkungan kian tahun terlihat kian mencemaskan dan memprihatinkan," kata Khalid, Jumat.

Keprihatinan tadi, ujarnya, berpijak dari hasil pemantauan lapangan sejak beberapa tahun belakangan ke sejumlah lokasi rawan bencana di daerah berjuluk ranah Minang tersebut.

Sepuluh tahun belakangan misalnya, dua jenis bencana alam (banjir dan longsor) selalu saja melanda daerah berpenduduk 4,6 juta jiwa tersebut.

"Setiap datang hujan, warga bertempat tinggal di tepi sungai cemas banjir, sedang bertempat tinggal di pinggir perbukitan malah takut terjadi longsor," katanya.

Kerugian diakibatkan dua jenis bencana alam yang dicemaskan (kerap terjadi) juga tidak sedikit, kisaran mencapai miliaran rupiah (moril dan materiil).

"Mirisnya, upaya pemulihan kondisi menjadi semula selalu saja terkendala keterbatasan dana bantuan pusat," katanya.

Persoalan pencemaran lingkungan juga tidak jauh berbeda, selalu saja terjadi.

"Alhasil, setiap peringatan hari lingkungan hidup tanggal 5 Juni, kesannya terasa hambar di Sumbar," katanya.

Data Walhi Sumbar, periode Februari - Mei 2008, sejumlah sungai terlihat mulai tercemar, seperti di Kabupaten Pasaman, Agam (Daerah Tanjung Mutiara) dan Padang, mengakibatkan ratusan ton ikan spesifik di sungai tersebut mati.

Herannya, ujar Khalid, sikap tegas pemerintah dalam menindak perusahaan - perusahaan dicurigai kuat penyebab pencemaran, belum terlihat.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009