Menjadi Kartini di BUMN, Ira Puspadewi: Harus berani bercita-cita

Menjadi Kartini di BUMN, Ira Puspadewi: Harus berani bercita-cita

Direkur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi dalam Ngopi BUMN di Jakarta, Kamis. (ANTARA/ Juwita Trisna Rahayu)

Perempuan harus berani bercita-cita, beraspirasi
Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ira Puspadewi berpesan di Hari Kartini untuk para perempuan di Tanah Air untuk berani bercita-cita.

“Perempuan harus berani bercita-cita, beraspirasi. Itu pilihan bahwa mau berprestasi domestik atau di ranah publik itu pilihan, yang terpenting memerankan yang terbaik di pilihannya,” kata Ira kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Ira mengatakan banyak nilai-nilai luhur RA Kartini yang bisa diimplementasikan di kehidupan sehari-hari, baik pribadi maupun profesional, contohnya mendobrak keterbatasan.

Menurut dia, semangat Kartini mencari dukungan agar perempuan bisa bercita-cita tidak pernah putus, mulai dari sosok ayahnya dalam keluarganya, hingga menyuarakan secara luas di lingkungannya.

“Saya mengagumi caranya Kartini mendapatkan dukungan ke pihak-pihak yang dia pandang penting, walaupun tantangan luar biasa, ke ayahnya, ke sekolah, dia tidak berhenti selalu ‘push dan limit’. Tidak mudah menyerah,” katanya.

Nilai-nilai mendobrak keterbatasan itu yang Ira terapkan di ASDP, seperti saat ini perusahaan penyeberangan pelat merah itu mulai mencoba penerapan pembelian tiket secara elektronik setelah 46 tahun dengan cara konvensional.

Meskipun, Ira mengatakan saat ini perempuan yang memegang jabatan strategis di perusahaan jumlahnya masih sedikit dibandingkan laki-laki.

“Kalau kita lihat keterwakilan pemimpin perempuan di sektor publik masih kecil. Beberapa riset itu menyatakan banyak prestasi perempuan di sekolah lebih tinggi dari laki-laki, tapi kalau sudah masuk ke karier representasi ‘top leaders’ cenderung rendah dan makin ke atas makin sedikit,” katanya.

Tidak memungkiri bahwa kondisi tersebut juga dipengaruhi pemahaman serta faktor lingkungan di mana perempuan lebih memilih untuk tidak meneruskan karier atau memilih pekerjaan yang waktunya bisa dibagi dengan keluarga.

Sebagai contoh di ASDP, seorang karyawan perempuan mengantongi sertifikasi tertinggi untuk menjadi nakhoda, namun memilih pekerjaan di darat.

Ira berpesan agar keterlibatan perempuan di sektor publik juga didukung oleh keluarga, terutama suami untuk juga bisa mengimbangi di sektor domestik.

“Kalau perempuan bekerja di sektor publik, peran di sektor domestik bisa dibagi. Kenyataannya kan tidak, kalau sudah di sektor publik, tanggung jawab di sektor domestik tidak berkurang. Itu yang membuat perempuan ‘self-limiting’ menurut saya,” katanya.

Meskipun sebagai pemimpin di BUMN transportasi masih sedikit, namun Ira tidak sendiri, ada Setia N Milatia Meoemin sebagai Direktur Utama Perum Damri, Desi Arryani sebagai Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) dan lainnya.

Baca juga: ASDP wajibkan penumpang kapal feri beli tiket daring
Baca juga: ASDP sebut 70 persen penumpang sudah menggunakan tiket elektronik


Pewarta: Juwita Trisna Rahayu
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Layanan sosial keliling menjangkau disabilitas di tengah pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar