WMO: Penurunan emisi karena pandemi tidak hentikan perubahan iklim

WMO: Penurunan emisi karena pandemi tidak hentikan perubahan iklim

Sejumlah orang berjalan di sepanjang Pelabuhan Orne, Antartika, Kamis (6/2/2020). Foto diambil tanggal 6 Februari 2020. Basis penelitian Esperanza di ujung utara semenanjung Antartika mencatat suhu 18,3 derajat Celcius (64,94 derajat Fahrenheit), rekor tertinggi menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Jumat (7/2), di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang pemanasan global yang telah menyebabkan meningkatnya pencairan lapisan es di sekitar kutub selatan. ANTARA FOTO/REUTERS/Ueslei Marcelino/wsj.

Kita perlu menunjukkan tekad dan kesatuan yang sama terhadap perubahan iklim seperti terhadap COVID-19
Jenewa (ANTARA) - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada Rabu mengatakan bahwa kemungkinan penurunan emisi gas rumah kaca akibat pandemi COVID-19 tidak akan cukup untuk menghentikan perubahan iklim.

Organisasi itu mendesak pemerintah untuk mengintegrasikan aksi iklim ke dalam rencana pemulihan pascapandemi.

Pandemi tersebut berpeluang menyebabkan penurunan emisi karbon dioksida tahunan terbesar sejak Perang Dunia Kedua, namun organisasi itu memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi di masa lalu telah dikaitkan dengan pertumbuhan emisi yang bahkan lebih tinggi daripada sebelum krisis.

"COVID-19 dapat menghasilkan pengurangan sementara emisi gas rumah kaca, tetapi itu bukan pengganti dari tindakan iklim berkelanjutan," kata organisasi yang berbasis di Jenewa itu dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada peringatan 50 tahun Hari Bumi pada tahun 1970.

Baca juga: PBB tegaskan perlindungan dari krisis corona dan iklim di Hari Bumi
Baca juga: Dubes Inggris sampaikan pesan Hari Bumi di tengah pandemi COVID-19


"Kita perlu menunjukkan tekad dan kesatuan yang sama terhadap perubahan iklim seperti terhadap COVID-19," kata Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas.

Pernyataan itu mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan paket stimulus yang membantu transisi menuju ekonomi hijau, menambah seruan serupa dari beberapa pemerintahan.

Dalam pengingat yang suram dari perubahan planet ini sejak 1970, WMO mengatakan tingkat karbon dioksida naik 26% sejak saat itu dan suhu global rata-rata 0,86 derajat Celsius lebih tinggi.

WMO pada Rabu juga menerbitkan versi terbaru dari laporannya tentang Iklim Global, yang mengonfirmasi temuan awal bahwa periode 2015-2019 adalah periode lima tahun terhangat dalam catatan, dengan suhu rata-rata global telah meningkat sebesar 1,1 derajat Celcius sejak periode praindustri.

Sumber: Reuters

Baca juga: Pemantauan GRK dorong upaya strategis mitigasi iklim
Baca juga: COVID-19 momentum wujudkan bumi berketahanan dari perubahan iklim

Penerjemah: Gusti Nur Cahya Aryani
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Positivity rate COVID-19 di Jakarta capai 7,8%

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar