Dokter gizi: Tips penuhi gizi anak saat pandemi

Dokter gizi: Tips penuhi gizi anak saat pandemi

Tim medis Rumah Sakit Indriati Solo Baru, Sukoharjo memberikan sosialiasasi pemberian gizi bayi untuk mencegah kegagalan tumbuh kembang anak (stunting), Minggu (2/1/2020). ANTARAMaulana Surya/aww.

... pentingnya nutrisi yang tidak hanya untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, namun juga untuk menjaga daya tahan tubuh agar terhindar dari penyakit.
Jakarta (ANTARA) - Dokter gizi medik dr. Sylvia Irawati, M.Gizi memberikan tips khusus bagi masyarakat untuk bisa tetap memenuhi gizi anak saat pandemi COVID-19.

Dalam pernyataannya, Rabu, dr. Sylvia  menekankan pentingnya nutrisi yang tidak hanya untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, namun juga untuk menjaga daya tahan tubuh agar terhindar dari penyakit.

“Oleh karena itu, di masa pandemi ini nutrisi anak penting untuk diperhatikan,” katanya.

Ia pun menambahkan, agar dapat memenuhi kebutuhan gizi, anak perlu makan dengan jumlah yang cukup dan bervariasi. Selain itu, kebersihan bahan pangan dan saat menyiapkan makanan juga perlu dijaga.

“Anak usia di bawah 6 bulan tetap dianjurkan untuk mendapat ASI eksklusif. ASI bisa dilanjutkan hingga usia 2 tahun atau lebih,” katanya.
Baca juga: Orang tua diminta perhatikan gizi anak saat pandemi

Menurut dia, pada usia 6 bulan anak perlu mendapat makanan pendamping ASI (MPASI) yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan diperkenalkan dengan serat (buah dan sayur).

Ia mengatakan MPASI diberikan dua hingga tiga kali sehari, kemudian porsi dan frekuensinya ditingkatkan seiring dengan bertambahnya usia.

Kemudian pada usia 12 bulan ke atas, anak disarankan untuk sudah makan makanan keluarga dan mendapat 3x makan utama dan 2x makanan selingan (snack).

“Agar dapat memenuhi kebutuhan gizi, bahan makanan yang diberikan perlu yang mengandung gizi yang baik,” katanya.

Makanan yang diberikan perlu mengandung sumber karbohidrat (nasi, ubi, singkong, jagung, kentang), sumber protein (tahu, tempe, kacang merah, kacang hijau, dan lain-lain), sumber vitamin dan mineral serta serat (buah dan sayur). Anak juga perlu mendapat asupan cairan yang cukup.

Ia mengatakan bahwa makanan selingan yang diberikan sebisa mungkin makanan yang bukan makanan kemasan.
Baca juga: Kemenkes : Anak kekurangan gizi rentan alami penyakit infeksi

“Makanan kemasan secara umum mengandung tinggi gula namun sedikit kandungan gizinya. Hindarkan juga memberi minuman kemasan yang tinggi gula, air putih lebih adalah yang direkomendasikan,” katanya.

Ia menyadari bahwa tak bisa dipungkiri bagi sebagian orang, pemasukan harian menjadi berkurang akibat pandemi ini.

Maka agar setiap orang mendapat bahan makanan yang cukup, sebaiknya tidak melakukan “panic buying” dan membeli bahan makanan sesuai kebutuhan.

Terlebih kata dia, Indonesia kaya akan hasil bumi. Bahan makanan dapat dipilih yang merupakan produk lokal dan minim pemrosesan.

“Bahan makanan alami ini sebenarnya adalah yang paling baik, dibandingkan bahan makanan olahan atau kemasan karena kandungan gizinya belum banyak berkurang oleh pemrosesan,” katanya.
Baca juga: Didik masyarakat tentang gizi anak, 1.000 kader Aisyiyah diterjunkan

Bahan makanan lokal dan bergizi, yang dapat diperoleh dengan harga yang relatif tidak mahal antara lain adalah beras, ubi, singkong, jagung, tahu, tempe, berbagai jenis kacang-kacangan lokal, sayur, dan buah lokal.

“Jadi agar anak tetap sehat dan terpenuhi kebutuhan gizinya, orang tua perlu memberi teladan. Dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan, juga bahan makanan. Mencuci tangan dengan cara yang benar, serta mencuci bahan makanan dan peralatan makan atau masak,” katanya.

Ia menyarankan pemberian makanan yang cukup dari bahan alami dan lokal, dengan bahan makanan yang bervariasi.

“Kurangi konsumsi produk olahan, makanan dan minuman kemasan dan tinggi gula. Konsumsi air putih dalam jumlah yang cukup. Lakukan aktivitas fisik atau olahraga dan istirahat yang cukup,” katanya.

Ia juga berpesan agar jangan lupa untuk membersihkan diri setelah melakukan kegiatan di luar rumah dan sebelum berinteraksi dengan anggota keluarga.
Baca juga: Anak keluarga perokok cenderung kekurangan asupan gizi, kata peneliti

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Penutupan posyandu berdampak pada penurunan kesehatan anak di NTB

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar