Dubes ingatkan WNI di China waspadai kasus COVID-19 impor

Dubes ingatkan WNI di China waspadai kasus COVID-19 impor

Rapat koordinasi KBRI Beijing, KJRI Shanghai, KJRI Guangzhou, dan PPIT yang dipimpin oleh Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun melalui aplikasi zoom, Kamis (23/4/2020) (ANTARA/M. Irfan Ilmie)

Jakarta (ANTARA) - Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun mengingatkan warga negara Indonesia yang masih bertahan di daratan China itu untuk lebih waspada akan meningkatnya kasus impor COVID-19.

"Tolong waspada, tetap disiplin menjalankan apa yang sudah kita lakukan selama ini karena memang di seluruh Tiongkok sekarang ini tinggal 1.600 kasus, tapi dari 1.600 kasus itu ada sekitar 1.500 imported cases," ujarnya dalam rapat koordinasi dengan KJRI Shanghai, KJRI Guangzhou, dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) melalui konferensi video, Kamis.

Dalam acara bertajuk "Dubes Menyapa PPIT" itu, Djauhari mengingatkan WNI yang ada di wilayah perbatasan China-Rusia dan China-Hong Kong.

"Khusus teman-teman di Harbin (Provinsi Heilongjiang) agar terus berkomunikasi dengan Atase Pendidikan dan Koodrinator Kekonsuleran KBRI Beijing. Jaga kesehatan karena imported cases di perbatasan Rusia itu sangat tinggi seiring dengan tingginya kasus di Rusia. Demikian juga dengan di Guangzhou," kata Dubes didampingi Wakil Dubes Dino Kusnadi, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Yaya Sutarya, dan jajaran pejabat KBRI Beijing.

Mantan Dubes RI untuk Rusia itu menyebutkan bahwa sampai saat ini ada sekitar 1.700 masyarakat dan pelajar Indonesia yang masih bertahan di China.

"Alhamdulillah, puji Tuhan sampai saat ini mereka dalam kondisi sehat dan tidak ada satu pun yang terinfeksi COVID-19," ujarnya dalam acara yang dipandu Ketua Umum PPIT Fadlan Muzakki itu.

Tidak hanya di Harbin dan Guangzhou, Dubes juga menyampaikan peringatan kewaspadaan tersebut kepada WNI di seluruh pelosok China dan yang sudah pulang ke Indonesia.

"Bagi pelajar kita yang ada di Indonesia, ikuti prosedur kuliah online dengan benar. Demikian juga yang masih ada di asrama kampus di sini. Kalau ada masalah dengan teknis perkuliahan, mungkin bisa disampaikan melalui Atdik dan PPIT," ujarnya.

Pekan lalu China mengeluarkan kebijakan klasifikasi wilayah terkait gelombang kedua wabah COVID-19.

Untuk wilayah yang dalam 14 hari terakhir mendapatkan lebih dari 50 kasus baru, maka masuk kategori risiko tinggi. Kurang dari 50 kasus masuk risiko menengah.

Distrik Chaoyang telah ditetapkan sebagai wilayah berisiko tinggi di Beijing.

Chaoyang merupakan distrik terluas di Beijing yang banyak juga dihuni warga negara asing, terdapat kantor perwakilan asing, termasuk Kedutaan Besar RI dan Bank Indonesia, dan kantor-kantor pemerintahan China serta pusat-pusat perbelanjaan terbesar.

Di Chaoyang juga banyak terdapat hotel dan kawasan komersial sehingga dikenal sebagai distrik termahal di China.

Baca juga: Mahasiswa Indonesia yang dievakuasi dari Hubei mulai kuliah daring
Baca juga: Testimoni mahasiswi: Kepulangan dari China dibantu KBRI Beijing
Baca juga: KBRI Beijing siapkan surat keterangan bagi WNI tinggalkan China

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Dubes RI ungkap sikap China tangani COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar