Harga minyak akhir pekan naik, mengakhiri minggu yang brutal

Harga minyak akhir pekan naik, mengakhiri minggu yang brutal

Ilustrasi - harga minyak dunia. ANTARA/Ardika/am.

Terlepas dari langkah-langkah yang diambil oleh OPEC, produsen minyak di berbagai negara harus sadar bahwa mereka mungkin didesak untuk mengambil tindakan yang lebih drastis
New York (ANTARA) - Harga minyak naik pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), mengakhiri minggu ini dengan kerugian yang menampilkan kontrak AS anjlok hingga minus 40 dolar AS per barel, karena pengurangan produksi global tidak dapat mengimbangi jatuhnya permintaan yang disebabkan pandemi Virus Corona.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni, naik 0,44 dolar AS atau 2,7 persen menjadi menetap pada 16,94 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni, naik 0,11 dolar AS atau 0,5 persen menjadi ditutup pada 21,44 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Minyak berjangka menandai kerugian minggu ketiga berturut-turut dengan Brent berakhir anjlok 24 persen dan WTI turun sekitar tujuh persen.

Perdagangan minyak sangat fluktuatif sepanjang minggu dengan penjualan telah mendominasi perdagangan sejak awal Maret karena permintaan jatuh 30 persen akibat pandemi.

Baca juga: Dolar AS melemah, meski terkendali karena kekhawatiran mata uang lain

Sementara faktor-faktor fundamental tertentu seperti penurunan tajam rig pengeboran aktif di Amerika Serikat secara nominal bullish untuk harga minyak, efek positif dari peristiwa tersebut adalah beberapa bulan ke depan.

"Itu benar-benar minggu yang brutal," kata Presiden Kelompok Perdagangan Asosiasi Minyak & Gas Texas, Todd Staples. "Volatilitas yang kami lihat dengan harga negatif adalah ekstrem."

Para pedagang memperkirakan permintaan akan jatuh selama berbulan-bulan karena gangguan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi. Produsen mungkin tidak memotong produksi dengan cepat atau cukup dalam untuk mendukung harga, terutama ketika output ekonomi global diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar dua persen tahun ini, lebih buruk daripada krisis keuangan.

Setelah diperdagangkan hampir tidak berubah untuk sebagian besar hari, minyak rebound pada sore hari setelah perusahaan jasa energi Baker Hughes Co mengatakan produsen pada April memangkas jumlah rig minyak AS aktif paling banyak dalam sebulan sejak 2015. Di Kanada, pengebor memangkas jumlah rig minyak dan gas alam ke rekor terendah.

“Hitungan rig adalah kejutan lain. Ini adalah pemotongan yang berarti dan mereka datang dengan langkah cepat,” kata Kilduff.

Baca juga: Harga emas jatuh 9,8 dolar, meski berpeluang terus naik di saat wabah

Penyimpanan dengan cepat terisi di seluruh dunia, yang dapat memerlukan lebih banyak pengurangan produksi, bahkan setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu termasuk Rusia bulan ini sepakat untuk memangkas produksi sebesar 9,7 juta barel per hari.

"Terlepas dari langkah-langkah yang diambil oleh OPEC, produsen minyak di berbagai negara harus sadar bahwa mereka mungkin didesak untuk mengambil tindakan yang lebih drastis," kata Menteri Sumber Daya dan Perminyakan Angola, Diamantino Azevedo kepada kantor berita negara ANGOP pada Jumat (24/4/2020). Angola adalah anggota OPEC.

Rusia berencana mengurangi separuh ekspor minyak dari pelabuhan Baltik dan Laut Hitam pada Mei, sesuai dengan jadwal pemuatan pertama untuk pengiriman minyak mentah karena setuju untuk memangkas produksi.

Namun, penyimpanan minyak darat saat ini terisi hingga kapasitas hampir 85 persen, menurut perusahaan riset energi Kpler.

Baca juga: Bursa saham Spanyol berakhir anjlok, Indeks IBEX 35 jatuh 1,97 persen

 

Pewarta: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

KPBB menilai harga BBM terlalu mahal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar