Jakarta (ANTARA News) - Komik wayang "Mahabharata" karya almarhum Teguh Santoso terbit lagi, dan oleh penerbitnya PLUZ+ disebut sebagai babak baru dalam reinkarnasi komik pewayangan khas Indonesia.

PLUZ+ meluncurkan penerbitan ulang komik "Mahabharata" itu, Jumat, di CityWalk Sudirman Jakarta yang merupakan kerjasama penerbit itu dengan Sari Rasa Group.

"Kami dengan suka cita menyambut penerbitan ulang komik pewayangan Mahabharata, Bharata Yudha, dan Pandawa Seda karya almarhum Teguh Santosa yang diterbitkan oleh PLUZ+. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang kuliner tradisional Indonesia, kami memiliki kebanggaan dan apresiasi atas budaya Tanah Air dan berusaha mendukung usaha pelestariannya," tutur Benny Hadisurjo, Presiden Direktur Sari Rasa Group.

Menurut Benny, "Mahabharata", "Bharata Yudha", dan "Pandawa Seda" adalah kisah kuno yang berasal dari India dan telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia secara turun-temurun. Dari generasi ke generasi cerita yang sarat dengan ajaran moral tersebut, terus diadaptasi hingga akhirnya menjelma menjadi sebuah epos yang menyatu dengan budaya Tanah Air kita.

Banyak cara menuturkan kembali kisah tersebut. "Teguh Santosa memilih untuk mengisahkan kembali dalam tutur kata lugas dan gambar yang detail dan menarik bagi segala kalangan pembaca. Hasilnya adalah sebuah mahakarya dari seorang maestro komik kontemporer Indonesia yang patut dilestarikan dan dipopulerkan kembali," jelas Benny.

Sari Rasa Group menerbitkan "Riwayat Pandawa", sebuah edisi khusus yang menyatukan kisah Mahabharata, Bharata Yudha, dan Pandawa Seda dalam satu buku.

"Penerbitan buku ini juga kami persembahkan sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan para pelanggan dan mitra usaha yang telah menyertai perjalanan usaha kami sejak 1974. Semoga langkah kami ini dapat turut membantu pelestarian kekayaan seni dan tradisi Indonesia yang begitu mempesona," kata Benny.

Penerbit PLUZ+ kali ini mengangkat satu tema cerita dari dunia pewayangan, salah satu budaya yang sangat kental khususnya di pulau Jawa ini secara turun temurun bahkan sebelum komik-komik jago silat dan superhero bermunculan bak jamur di musim hujan. Cerita bertemakan dunia pewayangan ini sudah lebih dahulu terbit sekitar tahun 1955.

Kala itu kita mengenal nama R.A. Kosasih, Ardisoma, Oerip dan Nagiok Lan sebagai seniman gambar yang lebih banyak membuat komik bertemakan wayang. Karya-karya mereka sampai sekarang masih dapat kita temui meski sangat jarang tersedia di toko-toko buku.

Cerita asli dari tanah India ini pertama kali dijadikan komik oleh R.A. Kosasih sekitar tahun 50-an.

Teguh Santosa, lahir di Malang (Jawa Timur) pada 1 Februari 1942, adalah salah satu komikus handal di zamannya dan sudah tidak asing lagi bagi penggemar komik Indonesia. Banyak karya komik yang lahir dari tangannya diantaranya: Sandhora, Tambusa, Karmapala dan puluhan judul komik lainnya.

Teguh Santosa wafat pada 25 Oktober 2000. Atas seizin dari ahli waris almarhum Teguh Santosa, PLUZ+ menerbitkan kembali komik Mahabarata ini yang pernah dimuat secara berkala sebagai sisipan di majalah anak-anak Ananda di tahun 85-an.

"Kami berharap agar komik ini dapat tersebar luas ke tangan pembacanya, menyampaikan pesan positif yang terkandung dalam untaian ceritanya," kata Gienardy Santoso, pengelola penerbitan PLUZ+.

Kali ini PLUZ+ menelurkan 2 versi buku untuk komik "Mahabarata" ini, yang pertama dirilis adalah dalam bentuk hardcover (edisi koleksi) dan tentunya beberapa bulan ke depan akan disiapkan dalam bentuk edisi softcover yang harganya tentu lebih ekonomis dan terjangkau oleh seluruh pembacanya.

Pada November mendatang, PLUZ+ kembali akan menerbitkan secara bersamaan komik kisah pewayangan yang sudah tidak asing lagi, yaitu "Ramayana" diangkat dari komik karya sang maestro R.A. Kosasih (pertama kali dibuat tahun 1955 oleh Penerbitnya Melodie di Bandung) dan "Wayang Purwa", diangkat dari komik karya sang legendaris Ardisoma (pertama kali dibuat tahun 1955 oleh Penerbit Melodie).
(*)

Oleh
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2009