Denpasar (ANTARA News) - Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Departemen Kehutanan, Tony Suhartono mengemukakan, di tahun 2009 ini sudah ada hampir 30 gajah di Sumatra mati karena sengaja dibunuh.

"Sampai sekarang pelakunya belum tertangkap," katanya pada acara pelatihan fotografi di Bali Safari dan Marine Park, Kabupaten Gianyar, Bali, Sabtu.

Ia mengemukakan, gajah dibunuh karena dianggap sebagai musuh manusia dan dianggap mengganggu pembangunan. Karena itu sudah menjadi kewajiban seluruh masyarakat Indonesia untuk melindungi satwa yang semakin langka itu.

Menurut dia, saat ini "kompetisi" antara manusia dengan satwa dilindungi sudah sedemikian hebatnya sehingga yang menjadi korban adalah satwa. Padahal, sebagai makhluk Tuhan mereka juga memiliki hak untuk hidup.

Ia mengemukakan, sesuai data tahun 2007, jumlah gajah yang ada di Sumatra dan Kalimantan sekitar 2.400 hingga 2.800 ekor. Namun saat ini Forum Gajah Indonesia sedang mengadakan pertemuan untuk mendata kembali berapa jumlah sebenarnya saat ini.

Selain itu, kondisi sejumlah pusat pelatihan gajah saat kondisinya sangat memprihatinkan, seperti di Way Kambas, Lampung karena pemeliharaannya memang membutuhkan biaya besar.

"Akhirnya dicarikan berbagai cara termasuk bantuan dari luar negeri. Australia mau membantu, tapi mereka minta gajah lima ekor, dalam pengertian dipinjamkan dengan mekanisme tukar menukar," katanya.

Untuk rencana tersebut, katanya, masih belum ada penukaran dan direncanakan kebun binatang di Australia akan menyumbang sejumlah dana untuk pemeliharaan pusat latihan gajah tersebut.

"Selain itu ada juga dari Belgia yang meminta sepasang gajah dari Riau. Kita nanti akan menerima sejumlah kompensasi yang digunakan untuk pemeliharaan gajah di Indonesia. Dengan Singapura sedang dilakukan negosiasi," ujarnya. (*)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2009