Emas berjangka "rebound" setelah Trump ancam tarif baru terhadap China

Emas berjangka "rebound" setelah Trump ancam tarif baru terhadap China

Ilustrasi - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange. ANTARA/REUTERS/am.

Tampaknya Trump mengisyaratkan kebangkitan perang perdagangan
Chicago (ANTARA) - Emas berjangka rebound pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah selam lima hari berturut-turut jatuh, mengabaikan kerugian awal, karena sentimen risiko memburuk setelah Presiden AS Donald Trump mengancam mengenakan tarif baru terhadap China.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Juni di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik 6,7 dolar AS atau 0,4 persen, menjadi ditutup pada 1.700,9 dolar AS per ounce. Emas berjangka jatuh 19,2 dolar AS atau 1,12 persen, menjadi 1.694,2 dolar AS per ounce pada Kamis (30/4/2020) "Kami melihat beberapa kelemahan di pasar ekuitas AS ... Tampaknya Trump mengisyaratkan kebangkitan perang perdagangan," kata Phil Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago.

"Yang sedang dikatakan, banyak investor melikuidasi berbagai kelas aset yang mungkin terpengaruh oleh itu dan kembali ke aset-aset aman, khususnya emas."

Trump mengatakan pada Kamis (30/4/2020) bahwa perjanjian dagangnya dengan China sekarang menjadi kepentingan sekunder untuk pandemi virus corona dan ia mengancam tarif baru untuk Beijing, ketika pemerintahannya membuat langkah-langkah pembalasan atas wabah tersebut.

Saham-saham AS jatuh karena peringatan Trump, dan ketikai Apple dan Amazon menjadi perusahaan terbaru yang memperingatkan lebih menderita di waktu mendatang.

Dianggap sebagai penyimpan nilai yang aman selama gejolak ekonomi atau politik, emas, bagaimanapun, berada di jalur untuk membukukan penurunan lebih dari satu persen untuk minggu ini ketika lebih banyak ekonomi melonggarkan pembatasan dan karena investor menutupi kerugian di pasar yang lebih luas.

Afrika Selatan mengambil langkah pertama pada Jumat (1/4/2020) untuk mengembalikan salah satu karantina wilayah COVID-19 terketat di dunia, sehari setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berjanji untuk membuat rencana minggu depan tentang bagaimana Inggris akan mulai secara bertahap kembali ke kehidupan normal.

"Namun, narasi emas tidak banyak berubah. Kami berada di jalan untuk data ekonomi suram selama beberapa bulan ke depan dan bank-bank sentral akan terus melonggarkan kebijakan, termasuk Federal Reserve AS, yang membuka emas untuk bergerak naik lebih tinggi," kata Stephen Innes, kepala strategi pasar di perusahaan jasa keuangan AxiCorp.

Data baru menunjukkan aktivitas manufaktur AS merosot ke level terendah 11-tahun pada April ketika virus corona baru menimbulkan kekacauan pada rantai pasokan, mendukung pandangan analis bahwa ekonomi sedang tenggelam lebih dalam ke dalam resesi.

Emas cenderung mendapat manfaat dari stimulus luas karena sering dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang.

Logam mulia lainnya, p​​​​erak untuk pengiriman Juli turun 3,5 sen atau 0,23 persen, menjadi ditutup pada 14,938 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli turun 39,1 dolar AS atau 4,81 persen, menjadi menetap pada 773,9 dolar AS per ounce.

Baca juga: Emas turun lagi akibat tertekan pembukaan kembali ekonomi
Baca juga: Harga emas jatuh 9,8 dolar, meski berpeluang terus naik di saat wabah

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar